Wednesday, August 18, 2010

THE SWEETEST EX-BOYFRIEND

Lelaki ini selalu kurindukan setiap kali aku membutuhkan pelukan. Aku akan mengirimnya sms, kadang di pagi hari, sore hari atau bahkan tengah malam, dan memintanya mampir ke rumahku untuk sebuah pelukan.  Sekali waktu ia muncul di pintu kamarku, dan sebelum aku bercerita, air mataku sudah berderai menyambut pelukannya. Lain waktu, ia akan muncul di dapurku dan aku akan segera berlari menjemput pelukannya. Kadang kupeluk sambil terduduk, kadang sambil berdiri. Tangannya yang lembut akan mengelus rambut dan punggungku, sesekali pelukannya semakin erat ketika air mataku semakin deras, dan ia biarkan bahunya basah oleh air mataku. Selalu, pelukannya bisa mengobati kesedihan dan kesepianku. Membiarkan air mataku meleleh di dalam pelukannya adalah obat yang menenangkan.

Kami sempat jatuh cinta sesaat, menikmati satu bulan penuh dengan romantika yang manis. Cappucinno di pagi hari dan makan malam bersama setiap malam. Caranya merawatku ketika aku sakit membuatku takkan pernah melupakan betapa ia sangat lembut dan penuh perhatian. Meskipun sesekali matanya berlarian karena gelisah, namun ia selalu berada di sampingku. Satu hal yang akan selalu kurindukan darinya adalah sapaan di saat kami bertemu untuk makan malam ‘ How was your day?’


Katanya ia jatuh cinta padaku semenjak kami pertama kali bertemu. Butuh waktu lama hingga aku menyadarinya dan akhirnya menyambut kesenangan itu. Tepat di malam ulang tahunku kami pertama kali kencan pertama. Sejak saat itu kami menikmati waktu bersama. Sesekali menyebalkan, namun seringkali manis dan membuat hatiku meleleh.

Tapi cinta kami tak bertahan lama. Aku bahkan tak ingat apa sebabnya kami tak lagi bersama. Sebuah keputusan konyol akibat perbincangan tak bermutu yang membuat kami tiba-tiba berpisah malam itu.

Hampir 2 bulan aku merasakan patah hati luar biasa. Masih jatuh cinta pada mantan kekasih yang masih menjadi tetanggaku. Masih berharap ia mampir ke rumahku dan menyapaku lagi. Namun romantika itu tak pernah datang kembali.

Tak apa, kenyataannya kami justru jauh lebih menikmati masa-masa manis ketika kami tak lagi bersama.

Kami masih memasak bersama, mengundang teman-teman untuk makan malam. Aku masih menikmati grogi yang indah ketika mengundangnya untuk datang bersama ke pertunjukkan teater. Aku merasakan detak jantungku berdebar setiap kali kami jalan bak sepasang kekasih, dan kadang jengkel karena ia tak pernah menciumku.

Aku mencintainya karena ia tak hanya ada untuk ku ketika aku membutuhkannya, tapi juga karena ia dengan senang hati memberiku dukungan dalam pekerjaanku. Ketika aku penat dengan pekerjaanku, aku akan merebahkan diriku di pelukannya, lalu menikmati beberapa hari yang menyenangkan di bali.

Sesekali aku akan menyembunyikan ‘magic box’ berisi cheese cake atau apple pie untuknya, lalu mengirimnya sebuah sms untuk menjemput magic box di dalam kulkasku. Senyumnya akan mengembang setiap kali menyantap cake kesukaannya.


*****

Aku ingin sekali berlari memeluknya ketika datang di pesta perpisahannya. Sebuah pesta kecil dengan live music di bamboo terrace dimana kami dulu pernah duduk bersama dan saling memeluk di bawah cahaya bintang. Tapi aku bahkan tak sanggup menatap wajahnya. Hatiku gemetar.

Besok pukul 8 malam ia akan berangkat, pulang ke kota yang di cintainya, kembali mengajar dan bermain music seperti biasanya. Dan takkan ada lagi pelukan hangat yang selalu tersedia kapan saja untuk ku.

Aku akan merindukan memasak bersamanya. Menikmati satu potong cheese cake bersama. Berbincang selama mengendarai motor dan saling mengkritik satu sama lain. Bersikeras dengan pendapat kami masing-masing hingga bibirku manyun tak karuan. Berbagi dan sesekali saling melawan. Sungguh menyenangkan.

Malam ini kuhadiahkan sebuah kaos bertulisan ‘The sweetest Ex-boyfriend’, dan aku mendapat sebuah kecupan dan pelukan yang hangat.

Besok, aku akan memasak yang terakhir kali untuknya, potato cheese tuna kesukaannya untuk makan siang terakhir kami. Ia akan mengenang masakanku seperti aku mengenang pelukan nya.

Selamat jalan mas janos, I’m gonna miss your warm hug.

No comments:

Post a Comment