Wednesday, August 25, 2010

Persimpangan, Cinta dan Kebijakan

Selalu, yang menjadi ketakutanku adalah bersama dengan seseorang ketika hatiku tahu pasti dimana ia berlabuh. Pada seorang lelaki yang sudah kujadikan sayap dan malaikat pelindungku.

Dua lelaki hadir dalam hidupku, dan aku tak bisa memilih ingin bersama siapa. Mungkin aku bersama salah satunya sembari menunggu yang satu datang kembali. Atau aku bersama seseorang dan berharap bahwa suatu hari hatiku tak lagi mendua. Aku tak menolak ego ku bahwa aku ingin bersama kekasihku untuk menemukan cahaya di dalam diriku, dan tetap ingin bersama salah satunya hanya untuk mewujudkan kehidupan seperti orang lain pada umumnya, memiliki anak dan melakukan sesuatu bersama.

Aku beruntung, karena kedua lelaki ini adalah para lelaki luar biasa.
Sebelum aku melangkah jauh, aku tahu pasti aku takkan nyaman menyimpan dusta atau berpura-pura setia hanya ingin bersamanya. Maka pada suatu malam ketika galaksi muncul di atas laut bira, aku pun memulai perbincangan ini.

“Aku tak akan berpura-pura bahwa kamu satu-satunya lelaki untukku. Karena hingga hari ini masih ada seseorang yang menempati ruang istimewa di dalam hatiku. Tapi aku akan belajar untuk mencintaimu.”

Tanpa bertanya balik, lelaki ini sudah tahu siapa yang kumaksud.

“Mudah untuk melupakan apa yang sudah terjadi dan berjalan tegak lurus. Namun sulit ketika secara spiritual kami sudah terhubung. Sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya dengan siapapun.
“ lanjutku.

“seperti telepati?” tanyanya

Aku mengangguk. Aku mulai menjelaskan betapa rumitnya dan sulitnya aku menolak untuk tidak terhubung dengan lelaki itu.  Meskipun lautan dan bumi telah memisahkan kami dengan jarak, namun kami tetap terhubung satu sama lain secara spiritual.

“ itu bukan kisah cinta. Aku tak khawatir. Yang jelas aku lah yang ada di sini sekarang dan siap maju bersamamu. Dan kamu tak perlu berusaha menolak terhubung dengan dia. Nikmati saja. Tidak semua orang memiliki kekuatan itu.”

Malam itu membuatku tak ragu telah memilihnya. Waktu telah memberinya kebijakan yang lebih sederhana dan membumi.

Di lain waktu, aku pun berbincang dengan lelaki satunya. Kusampaikan bahwa aku berniat ingin menikah dengan lelaki lain, memiliki anak dan melakukan sesuatu bersama.

“Kuharap alasanmu menikah bukan karena sekedar ingin memiliki anak. Kadang keinginan bisa membuat kita menjadi egois. Semoga itu adalah pilihan baik yang membuatmu lebih bijak.” Ia menanggapi dengan sederhana lewat kalimat di jendela chat.

“Seandainya kamu di sini, atau aku di sana. Aku akan datang padamu untuk dibuahi. Aku akan sangat bahagia memiliki anak darimu.” Kataku

“Kamu satu-satunya perempuan yang ketika aku bersamamu aku ingin menjadi seorang ayah.” Jawabnya.

Beberapa saat kami terdiam. Hening.

“ i bless you, your husband and your family.” Lanjutnya

Aku masih saja hening.

“ aku masih tetap ingin menjadi biksu dan pada saat yang bersamaan masih memilihmu sebagai kekasihku. Dan kubebaskan dirimu untuk memilih jalan apapun yang kau pilih untuk kebaikanmu. Jangan takut pada apa yang belum terjadi.” Ia masih terus mengetik

Hatiku luluh penuh suka cita.

“ i’m spiritually marry to you.” kataku
“ ..but when i make this tattoo, i know that i already have you here with me. Not just in the mind and spirit, but also in my body. “

“ lalu apa yang kamu tunggu, kenapa masih khawatir? Bebaskan dirimu dari kecemasan dan angan-angan. Kita memiliki jalan kita masing-masing dan semesta akan tetap menyatukan kita.  What else to complain.” Sebuah kalimat yang akhirnya membongkar kecemasanku keluar dari jari-jarinya yang bijak.

“ pastikan siapapun itu, ia adalah lelaki yang baik.” Katanya menutup perbincangan kami.

Take care dear !

Malam itu, aku meyakinkan diriku bahwa aku siap melaju. Tak lagi takut pada apapun. Siap menerima lelaki lain dalam hidupku dan belajar mencintai dirinya. Aku siap menempuh jalan hidup yang ku buat dengan tanganku sendiri.  Kenapa aku harus khawatir pada persimpangan? Aku lah yang akan menentukan kemana aku akan melanjutkan perjalananku. Ketika doa sudah ada di tanganku, yang kubutuhkan hanyalah keyakinan bahwa tuhan menyertaiku dan sudah menyiapkan kado terindah pada waktunya.

Terimakasih tuhan, kedua lelaki ini begitu bijak menerima kebodohan, kelemahan dan ke-egoisan seorang perempuan berumur 28 tahun.

No comments:

Post a Comment