Saya dan Tika dikerjai. Rencana diskusi yang diadakan di Taman macan,Makassar,gagal total. Tidak ada satu pun orang yang menunjukkan batang hidungnya sore kemarin,3 Agustus 2010. Padahal waktu itu sakit kepala saya luar biasa menyiksa, tapi kami masih mengusahakan untuk tetap datang dan memenuhi janji kami.
Tidak patah arang, kami pun bertekad sosialisasi harus tetap berjalan. Satu rencana gagal, ide lain yang lebih cerdas dan menyenangkan selalu ada untuk dikerjakan.
Kamipun mendatangi perempuan dan pasangan yang sedang nongkrong di Taman Macan. Membagikan sticker ‘Pemeriksaan Payudara’ dan ‘Saya BISA Memilih!’, serta berbagi informasi seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi dengan mereka. Tidak hanya bekerja dengan senang hati,kami pun masih menyempatkan diri bersenam ria dengan para pengunjung Taman Macan sore itu.
Dari Taman Macan kami melanjutkan ke Pantai Losari. Seperti biasa Pantai losari selalu ramai oleh turis dan pengunjung local yang menikmati sunset. Beberapa anak tampak sibuk menjajakan dagangan mereka, anak-anak laki perempuan berusia sekitar 6-15 tahun berjualan sambil bercanda satu sama lain. Kami duduk-duduk santai di kursi taman dan memanggil seorang penjual jalangkote.
Beberapa anak perempuan menghampiri kami. Aku pun mulai terfikir untuk mengajak mereka mengobrol soal menstruasi.
“Kalian sudah mens?” tanyaku. Anak-anak menggelengkan kepala mereka.
“Mamak sudah pernah cerita apa itu menstruasi?” tanyaku lagi. Mereka masih menggelengkan kepala mereka.
“Apa itu mens kak?” tanya seorang gadis kecil berumur 9 tahun
“Itu, keluar darah dari pepemu.” Tika memberikan penjelasan singkat pada anak-anak.
“Yay, sakitkah itu kak?” tanyanya lagi
Akupun mulai menjelaskan tentang apa itu menstruasi, mengapa terjadi menstruasi dan perawatan apa yang harus dilakukan pada saat menstruasi. Anak-anak semakin senang dan bersemangat ketika aku mengeluarkan alat-alat bantu menstruasi dan menunjukkan pada mereka bagaimana cara menggunakan pembalut.
“Langsung dibuang kah kak pembalutnya?”tanya seorang anak berumur 11 tahun
“Jangan,harus dibersihkan dulu sebelum dibuang,begini caranya.”jawabku sambil menunjukkan bagaimana cara membersihkan pembalut.
“Kalau kalian sudah menstruasi,kalian sudah bisa hamil dan punya anak. Hati-hati kalau pacaran ya!” pesanku.
“Iya itu kak, temanku di kampung seumur aku sudah punya hamil dan punya anak.” Kata seorang anak.
“Kawinkah dia?” tanya Tika
“Iya, dia hamil jadi dikawinkan.” Sambungnya lagi
“Siapa suaminya? Umur berapa?” tanya Tika lagi.
“itu dia sudah tua, Om-Om.”
Aku dan tika tidak berkomentar apapun, tapi sepertinya kami memikirkan hal yang sama. Miris mendengarnya.
“Makanya kalia hati-hati kalau pacaran, jangan mau digombalin ya. Kalian masih mau sekolah kan?” kataku
Mereka mengangguk.
Sore itu kami mengobrol banyak dengan mereka, tentang menstruasi, sekolah, juga tentang berpacaran. Beberapa anak menghampiri kami dan menanyakan beberapa hal. Termasuk salah satu ibu mereka datang dan meminta pembalut karena ia sedang menstruasi.
Menarik sekali berbicara tentang pacaran dengan mereka. Meskipun mereka masih anak-anak namun mereka sepertinya sudah familiar dengan kekerasan. Ketika kubilang ‘Besok kalau pacaran,jangan mau dipukul ya!’
“Iya, temanku suka dipukul pacarnya.” Kata salah seorang anak
“Laki-laki memang cuma bikin sakit hati. Kalau tidak dipukul ya ditinggalkan.” Sambung salah satu temannya.
Aku cukup kaget mendengar pernyataannya. Bagaimana bisa anak seumur ini mengatakan hal demikian. Sepertinya ia melihat dan mendengar banyak hal di sekitarnya.
“begini, besok-besok kalau kalian dipukul,pukul balik. Kalau sekali dipukul kalian diam nanti dia pikir kalian perempuan bodoh dan bisa dipukul. Tapi kalau sekali dipukul kalian pukul balik, biar dia tahu kalian tidak bisa dibodohi dan diperlakukan seenaknya.” Kataku sambil bercanda.
“aku besok kalau kawin dipukul, mau minta cerai saja.” Kata seorang anak.
“kalau aku dipukul, aku bilang mamak ku.” Kata seorang anak lagi
“eh, bodohnya kau!” temannya menyela
“hei, biar saja. Bagaimana kalau kupukul balik dia pukul lagi?” jawabnya sengit.
Aku dan tika tertawa menyaksikan mereka.
Sore itu amat menyenangkan bisa mengobrol dan berbagi dengan mereka. Aku selalu terkagum-kagum melihat betapa anak-anak penuh rasa ingin tahu. Sangat di sayangkan di umur mereka yang menjelang remaja tak ada anggota keluarga yang bisa memberi mereka pendidikan mengenai kesehatan reproduksi. Ini adalah PR besar bagi para orangtua. Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas adalah salah satu cara menyelamatkan mereka dari pacaran yang tidak sehat,Seks tidak aman, Kehamilan Tidak Diinginkan, Infeksi Menular Seksual dan penyakit-penyakit lainnya.
Anak-anak bubar. Aku dan tika masih asyik mengobrol dengan salah satu teman tika yang datang sore itu. Kami lanjut mengobrol tentang kelainan perdarahan dan menstruasi.
Ah, bekerja selalu menyenangkan ketika kita melakukan nya dengan hati senang, dan tentu saja bagiku tidak di dalam ruang-ruang yang formal. Sakit bukan halangan selama kita punya harapan baik untuk semua orang.

bravo jhem,,,,,
ReplyDelete