Seorang laki-laki datang tiba-tiba dan menelanjangi perempuan itu,
Pertama, ia katakan bahwa “ You fight for people but not fight enough to support yourself.”
Bola mata perempuan itu rasanya berlarian ke udara dan tak bisa mengatakan apapun. Pipinya diam-diam basah ketika lampu dimatikan.
Lalu, ia katakan bahwa “I think Its not ok if you only show your strong side of you.” dan lagi-lagi, perempuan itu kehabisan kata-kata untuk melawannya.
Lelaki itu benar. Si perempuan sudah terlalu lelah.
Namun perempuan itu tak pernah mengira seorang lelaki yang memiliki kecemasan tinggi akan mengatakan hal itu padanya. Tidak sama sekali. Perempuan itu selalu berfikir bahwa ia harus berusaha lebih kuat darinya, sesekali mengusap rambutnya dan membisikan di telinganya bahwa ia boleh cemas 24 jam sehari namun segalanya akan baik-baik saja.
Suatu malam, lagi-lagi si lelaki mengingatkan perempuan itu bahwa ia boleh menjadi lemah di hadapannya, bahwa ia boleh bersikap bodoh, bahwa ia boleh bermalas-malasan, bahwa ia boleh menceritakan apapun sekalipun tak penting sama sekali, bahkan boleh berteriak di depan mukanya –setiap hari- jika itu membuat si perempuan merasa lebih tenang.
Kali ini perempuan itu tak menyembunyikan tangisnya, ia rebahkan dirinya tenang dalam pelukan sang lelaki. Malam berkejaran dengan bayangannya, si perempuan tertunduk pedih melihat bayangannya berkelebat membawa pisau yang tajam.
Lelaki ini memujanya, sebuah email ia kirimkan untuk orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sedang jatuh cinta pada perempuan itu. Foto si perempuan sedang tersenyum ia kirimkan untuk memamerkan kebahagiaannya.
Tapi perempuan itu masih saja dingin,mungkin ia lupa rasanya diperjuangkan oleh orang lain.
Setelah sekian lama, perempuan itu baru menyadari bahwa ia tak cukup memberi untuk dirinya sendiri, bahkan tidak membiarkan orang lain memberikan lebih untuk dirinya. Ia bahkan masih sulit untuk menerima cinta dari seseorang, masih saja ia menutup hatinya.
Pelan-pelan saja ya, kata lelaki itu. Dan si perempuan pun mengangguk.
Si perempuan belajar dari lelaki itu, untuk berbicara tentang kelemahannya dan saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan kesempatan untuk belajar mencintai.
****
Tuhan tahu apa yang kubutuhkan, dan lelaki ini datang sebagai hadiah di ulangtahunku yang ke-28. Setelah 6 bulan aku mencari diriku dalam meditasi-meditasi, purnama,mantra dan buku-buku. Ternyata jawaban tuhan datang lewat mata hijaunya.
Dengan khidmat aku mensyukuri 28 tahun hidupku yang berwarna, keajaiban terbesar mengenai bertambahnya usia adalah kemampuan untuk melihat dunia dan hidup dengan cara yang lebih unik dan komprehensif. Tak lagi pemikiran kita dibatasi oleh agama, budaya, orientasi seks ataupun nasionalitas. Karena kita semua sama. Setara.
Dengan datangnya lelaki algojo kata ini, kupikir tuhan ingin aku melihat lebih jauh ke dalam diriku lagi, mengkritisi apa yang telah kubentuk sebagai sebuah identitas, membangun kembali cinta di dalam diriku, dan menelanjangi diriku sendiri untuk menemukan my true highest self.
***
Mungkin ini bukan tentang cinta antara lelaki dan perempuan. Ini adalah pertemuan-pertemuan yang telah direncanakan sebagai jawaban atas doa, dan kehadiran cinta diantara keduanya hanya untuk membuat kekuatan tuhan menggema di dalam setiap tindakan.
Setelah ini,mungkin akan ada perpisahan seperti yang sebelumnya, namun kembali pada pertemuan-pertemuan lainnya yang akan membawa pesan-pesan lain.
No comments:
Post a Comment