
Kamis, 28 Januari 2010.
Kupikir tuhan jesus sedang bermain di semak belukar, hampir saja kupanggil sebelum akhirnya bang son memanggil dan memperkenalkannya pada kami semua. Ternyata bukan tuhan jesus yang hadir malam itu, melainkan seorang lelaki bernama Adriano Roselli. Bang son memberinya nama baptis jawa : Marno Sumarno. Nama baptis setengah jawa dan setengah sunda.
“My name is Ano, I don’t have money. I lost my wallet in parangtritis.” Kurang lebih begitu salam kedatangannya di eloprogo beberapa waktu yang lalu. Maka bang son menjadi penyelamatnya sejak saat itu.
Marno berasal dari sebuah kota yang gemerlap, dimana cahaya bulan tertutup oleh semarak lampu neon dan bisingnya hentakan para pejalan kaki. Dengan mata nya yang masih muda dan siap menerima cahaya bumi, ia tersesat di jalan yang benar. Di sepanjang aliran sungai elo dan progo, dimana air sungai dan bebatuan saling beradu cium mengasah gemericik alam. Di tanah yang masih bau suci sang perawan.
Kepalanya tidak pernah berhenti untuk memacu dirinya menyebrangi aliran sungai yang deras, namun para satria selalu saja membuatnya mengurungkan niatnya sebelum akhirnya ia benar-benar tak dapat mendarat di tanah seberang. Sesekali, kepalanya menyuruhnya untuk melemparkan batu melewati aliran sungai dan menyaksikan sejauh mana kekuatan tangannya dapat mempertemukan sang batu dengan tanah seberang.
“Jesus-like” kataku padanya suatu siang. Marno tertawa dan bola mata birunya berlarian ke kiri dan ke kanan. Tak saja jesus-like, terkadang di bawah matahari marno nampak seperti Kurt Cobain. Half jesus and half Cobain. What a blast !
“You’ll be success in the age of 27 just like cobain, then you will die or heading a spiritual life just like jesus.” Candaku yang disusul dengan tawanya.
“and die in age of 33 like jesus” sambungnya disusul tawa kami yang memecah angin.
***
Marno sumarno baru berumur 23 tahun saat melakukan perjalanan pertamanya di Indonesia. membawa 3 jenis cairan anti nyamuk dan serangga di dalam tas nya, dan tak satupun yang cocok untuk kulitnya. Semangatnya membara ketika pertama kali menginjakan kaki di bali, bercita-cita menaklukan jawa dengan bersepeda motor sepanjang perjalanannya di pulau jawa. Sayangnya marno tak pintar membaca peta, perjalanan dari bali hingga malang ia habiskan selama seminggu penuh sebelum akhirnya ia menaikan sepeda motornya ke atas kereta api yang membawanya ke jogja.
Suatu malam ia menunjukkan jimatnya, sebuah selimut dengan bordir logo Superman yang dibuat oleh ibunya sejak ia masih kecil. Marno membawa kehangatan seorang ibu yang bisa meninabobokannya di sepanjang malam yang dingin dan asing.
“ Your mom is smart. she knew that someday you will go to java and bang son will give you a name : Sumarno. That’s why she put that S. its not Superman but Sumarno.” Candaku lagi suatu malam, dan kami semua tertawa pada saat malam menjelang pagi.
***
Ada sesuatu yang membuatku merasa tersentuh oleh Marno. Melihat kepolosannya mengingatkanku pada perjalanan-perjalananku dulu, jauh ketika aku belum mengenal rasa takut. Jauh sebelum aku kebingungan dengan identitas dan apapun tetek bengek yang telah dicapkan ke dalam tubuhku semenjak kelahiranku.
Entah berapa kali aku tersesat dalam perjalananku, namun selalu berakhir dengan petualangan yang lebih menantang dan mengasyikan. Sekali dua kali dirampok dan dicopet di tengah perjalanan, bahkan sekali waktu salah satu pencopetnya malah menjadi sahabat baikku. Dan yang lebih ajaib adalah berulangkali lolos dari usaha pemerkosaan. Awalnya menakutkan, namun aku menikmati peristiwa itu dan menjadikannya sebagai bagian permainan akting. Terakhir kali aku hampir dibawa kabur tukang ojek, bukannya berhasil, aku justru berhasil mengelabuinya bahwa aku adalah titisan Nyi ratu kidul. Akhirnya aku justru dipulangkan dengan oleh-oleh yang banyak dan uang yang hampir utuh, plus jalan-jalan sepuasnya.
Dahulu, sepertinya aku tidak mengenal rasa takut. Berulang kali hampir diperkosa, dicopet atau bahkan dirampok dengan senjata tajam, tak juga membuatku kapok melakukan perjalanan sendirian. Menjadi gelandangan di kapal laut, tersesat di tengah badai di india, menyusuri bali dengan araknya, atau berburu pantai yang sepi.
Dan kini, aku sepertinya mulai merasakan batasan-batasan itu sekaligus merindukan perjalanan-perjalanan baru.
Itu yang membuatku tersentuh oleh Marno, melihatnya melakukan perjalanan ini telah mengembalikan canduku pada perjalanan. Aku ingin melakukan perjalanan, lagi dan lagi.
***
Seru jg punya teman Londo yang ndeso! Haha.. Kisah hidupmu menarik, Inna!
ReplyDeletesempet mikir, siapa ya rothan? eh ternyata sang roy thaniago...
ReplyDeleteI just discovered the website who reviews about
ReplyDeletemany
home business opportunity
If you want to know more here it is
home based business opportunity
www.home-businessreviews.com