Perempuan itu bahkan tidak tahu harus menuliskan apa lagi,
Entah karena terlalu banyak, terlalu indah, atau terlalu membingungkan,entahlah…
Ada seseorang yang datang dalam hidupnya, seorang lelaki bermata hijau yang hampir seluruh hidupnya adalah music. Seakan music adalah nyawa yang diberikan tuhan untuk membuatnya tetap terjaga setiap hari.
Mungkin perempuan itu jatuh hati padanya karena ia tahu ia itu takkan pernah bisa memenangkan hatinya seperti music telah menjelma menjadi kekasihnya. Ah, perempuan itu selalu saja jatuh hati pada seseorang yang tidak menjadikan dirinya sebagai langit, dan perempuan itu menikmatinya..
Lelaki ini datang tepat di malam ulang tahunnya yang ke-28, dengan 2 buah botol hijau yang senada dengan warna matanya. Sepanjang malam diwarnai tawa, perempuan itu tak pernah mengira bahwa malam ulang tahun yang seharusnya ia nikmati sendiri akan menjadi malam yang menyenangkan penuh gelak tawa. Sebuah ciuman membara tepat di pintu gerbang ketika perempuan itu akan melepas kepergiannya.
Lelaki itu akhirnya pulang ke tempat tidur sang perempuan.
Sejak malam itu, sebuah kecupan hangat ia kirimkan di pelupuk mata hijau milik sang lelaki. Hidungnya yang kecil berkenalan dengan hidung panjang yang menggodanya. Hormone oxcytoxin mengalir di udara, senyum menghiasi bibir si perempuan. Dan mata hijau itu semakin bersinar.
Perempuan itu jatuh cinta, mungkin…
Tapi lelaki lain nun jauh di sana tetap mengirimkan kecupan lewat pesan-pesannya. Lukisan miliknya masih tersimpan manis di dinding kamar sang perempuan. Di saat sang perempuan mengecup bibir yang lain, matanya meredup diam-diam menikmati lukisan lelaki lain.
Perempuan itu sudah pasrah pada cinta, tak ada lagi batasan tentang cinta yang bisa membakar isi kepalanya. Cinta hadir kapanpun dan dimanapun. dan herannya, cinta sesekali terbagi tanpa mengeluh.
Sang perempuan pikir, pada akhirnya hidup yang akan membawanya pada kepastian tentang siapa yang akan menjadi cinta terakhirnya. Usah lara hanya karena terpenjara oleh cinta. Namun sang perempuan tahu, bahwa tak ada lagi alasan untuk mengelak bahwa ia akan selalu jatuh cinta pada lelaki yang tak menjadikannya langit, bahwa ia seringkali harus menjadi lebih kuat dari lelaki yang membuatnya jatuh cinta.
Ibu sang perempuan benar, setiap perempuan di keluarganya selalu lebih kuat, dan itu telah dialirkan melalui darahnya. Sang perempuan hanya menjalani takdirnya dan mensyukuri setiap cinta yang hadir dalam hidupnya.
Cinta tak harus realistis, bukan…
Entah karena terlalu banyak, terlalu indah, atau terlalu membingungkan,entahlah…
Ada seseorang yang datang dalam hidupnya, seorang lelaki bermata hijau yang hampir seluruh hidupnya adalah music. Seakan music adalah nyawa yang diberikan tuhan untuk membuatnya tetap terjaga setiap hari.
Mungkin perempuan itu jatuh hati padanya karena ia tahu ia itu takkan pernah bisa memenangkan hatinya seperti music telah menjelma menjadi kekasihnya. Ah, perempuan itu selalu saja jatuh hati pada seseorang yang tidak menjadikan dirinya sebagai langit, dan perempuan itu menikmatinya..
Lelaki ini datang tepat di malam ulang tahunnya yang ke-28, dengan 2 buah botol hijau yang senada dengan warna matanya. Sepanjang malam diwarnai tawa, perempuan itu tak pernah mengira bahwa malam ulang tahun yang seharusnya ia nikmati sendiri akan menjadi malam yang menyenangkan penuh gelak tawa. Sebuah ciuman membara tepat di pintu gerbang ketika perempuan itu akan melepas kepergiannya.
Lelaki itu akhirnya pulang ke tempat tidur sang perempuan.
Sejak malam itu, sebuah kecupan hangat ia kirimkan di pelupuk mata hijau milik sang lelaki. Hidungnya yang kecil berkenalan dengan hidung panjang yang menggodanya. Hormone oxcytoxin mengalir di udara, senyum menghiasi bibir si perempuan. Dan mata hijau itu semakin bersinar.
Perempuan itu jatuh cinta, mungkin…
Tapi lelaki lain nun jauh di sana tetap mengirimkan kecupan lewat pesan-pesannya. Lukisan miliknya masih tersimpan manis di dinding kamar sang perempuan. Di saat sang perempuan mengecup bibir yang lain, matanya meredup diam-diam menikmati lukisan lelaki lain.
Perempuan itu sudah pasrah pada cinta, tak ada lagi batasan tentang cinta yang bisa membakar isi kepalanya. Cinta hadir kapanpun dan dimanapun. dan herannya, cinta sesekali terbagi tanpa mengeluh.
Sang perempuan pikir, pada akhirnya hidup yang akan membawanya pada kepastian tentang siapa yang akan menjadi cinta terakhirnya. Usah lara hanya karena terpenjara oleh cinta. Namun sang perempuan tahu, bahwa tak ada lagi alasan untuk mengelak bahwa ia akan selalu jatuh cinta pada lelaki yang tak menjadikannya langit, bahwa ia seringkali harus menjadi lebih kuat dari lelaki yang membuatnya jatuh cinta.
Ibu sang perempuan benar, setiap perempuan di keluarganya selalu lebih kuat, dan itu telah dialirkan melalui darahnya. Sang perempuan hanya menjalani takdirnya dan mensyukuri setiap cinta yang hadir dalam hidupnya.
Cinta tak harus realistis, bukan…
No comments:
Post a Comment