Sebuah kisah tentang manusia pertama yang bukan lelaki bukan juga perempuan. Sang androgynous yang terperangkap dalam surga yang sepi. Sang pohon apel penggoda berhasil membuatnya terusir dari tanah suci, hingga tuhan pun mengirimnya ke bumi terpisah menjadi dua bagian, sang lelaki dan perempuan.Sejak saat itulah pencarian akan cinta dimulai. Berawal dari rasa sepi yang menyengat menuju pertemuan tunggal yang membawa keagungan , Soulmate.
Obsesi menemukan soulmate membuat mata kita menjadi buta dan gegabah mengenali makna cinta yang sesungguhnya. Melihat cinta dari sudut pandang yang sempit antara lelaki dan perempuan. Mengukur cinta dengan persetubuhan dan kesetiaan.
Mungkin cinta itu adalah tuhan, sebagaimana manusia menciptakan ide tentang tuhan untuk memenuhi kebutuhan akan rasa percaya yang absolut. Manusia menyadari bahwa tak ada satu pun hal yang sempurna dan dapat dipercayai secara absolut. Maka ide tentang tuhan menjadi obat mujarab untuk memenuhi kepuasaannya. Begitupula cinta, sebuah ide yang datang dari rasa sepi dan ketakutan manusia akan kesendirian yang menyiksa.
Namun seandainya tuhan itu memang ada, maka cinta adalah kehadiran tuhan yang menjelma dalam setiap karyanya. Sesuatu yang membawa manusia pada hakikat ketuhanan, maka cinta seharusnya adalah suci dan tulus. Tak dapat dilihat, tak dapat difikirkan, tak dapat diukur. Irasional namun khidmat sebagaimana sifat Tuhan.
***
Cinta hadir ketika tak lagi diucapkan. Cinta bekerja ketika tak lagi diperdebatkan. Herannya, berapa banyak yang mengagung-agungkan cinta namun masih sibuk dengan pembuktian. Kesetiaan,komitmen dan pernikahan adalah ukuran-ukuran yang diciptakan manusia untuk melanggengkan ego manusia akan kebutuhannya terhadap cinta, untuk menghindari rasa terabaikan, merasa diri cukup baik karena berharga di mata seseorang, dan tak perlu melewati malam-malam yang sunyi dalam sepi yang menikam.
Seperti sungai yang tak pernah bersenggama dengan langit namun cinta membuat mereka berpadu dalam rintik hujan. Bagaikan bintang dan matahari yang tak pernah saling memeluk, namun cinta sang matahari tetap membuatnya bercahaya di dingin dan gelapnya malam.
Kita seringkali lupa bahwa apa yang kita cari telah ada berupa berkat sejak kita dilahirkan. Kita masih saja sibuk mencari sesuatu di luar diri kita dan diam-diam menghancurkan diri dalam pengharapan dan belas kasih orang lain.
Kita lupa, bahwa cinta telah disediakan semesta untuk memenuhi kebutuhan kita, dan masih saja kita sibuk mencari cinta dalam cangkang-cangkang lelaki dan perempuan.
Berapa banyak pernikahan yang katanya didasari cinta namun berakhir dengan saling tikam dan menghujat? Berapa banyak yang mengagung-agungkan cinta namun diam-diam ragu pada dirinya sendiri? Berapa banyak yang memuja cinta namun kehilangan diri mereka demi mengejar cinta?mengejar sesuatu yang mereka pikir tak mereka miliki padahal telah menyatu sejak kelahiran?
Berapa banyak yang memilih jalan cinta namun memenggal kepala dan kehormatan mereka demi sebuah ilusi akan cinta?Haruskah cinta dibuktikan dengan jalan yang pedih? Dalam derai tangis yang pilu dan jerit sakit hati yang memekakan jiwa?
Cinta tak dapat diberikan ataupun diambil, karena hakikat cinta adalah kelahiran itu sendiri.
No comments:
Post a Comment