Thursday, September 24, 2009

Menikah atau Tidak Menikah!


Well, pertemuan keluarga tidak selalu menyenangkan. Selalu saja ada saat-saat yang menyebalkan, terutama ketika orang-orang tiba-tiba menjadi sangat terlalu perhatian hingga merasa dirinya sangat penting untuk ngurusin urusan orang lain.

Rata-rata perempuan di keluargaku akan menikah di usia 21-23, maka di usia yang ke-27 biasanya mereka sudah melahirkan paling tidak 2 orang anak. Nah, aku ini mungkin termasuk salah satu anggota keluarga yang dianggap tidak produktif. Jangankan anak, suamipun belum ada.


Kok putus terus?
Kapan nikahnya?
Fiuh, bĂȘte banget rasanya denger pertanyaan itu.


Belum lagi ditambah nasehat-nasehat lainnya agar segera menemukan jodoh dengan pertimbangan umur yang sudah tak muda lagi. Masih mending kalo yang ngasih nasehat adalah mereka yang lebih tua, kadang mereka yang lebih muda bahkan anak-anak pun mengatakan hal yang sama padaku. Weleh-weleh….
Jika biasanya aku membela diri dengan berbagai alasan, tahun ini aku memilih meladeni pertanyaan-pertanyaan tersebut ala mbah surip alias ngelantur. Yah jawab saja sekenanya, seenak udelnya, biar mereka bingung sendiri.

Soal menikah ini tampaknya menjadi isu yang penting di keluargaku, bahkan mungkin di budaya kita. Tampaknya orangtua dan keluarga takkan berhenti gelisah sebelum aku menikah. Ibuku selalu mengulang kalimat ini di setiap pertemuan keluarga, bahwa ia takut lebih dulu meninggal sebelum aku menikah, sebelum ada lelaki yang bertanggung jawab atas diriku.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat iseng menulis update status di facebook begini :
Perbedaan pernikahan dan prostitusi adalah, pada pernikahan ijab Kabul dilakukan satu kali untuk seumur hidup sedangkan pada prostitusi dilakukan satu kali untuk jangka waktu yang pendek.mungkin itu sebabnya lelaki lebih suka untuk datang ke prostitusi karena dianggap lebih menantang, dan perempuan lebih suka untuk menikah karena dianggap sebagai pengabdian untuk membuka pintu surga.

Pasti dapat dibayangkan seperti apa komentar yang saya dapat. Dari mulai ada yang menyuruh saya beristigfar, menuduh saya murtad, bahkan menyuruh saya untuk mengulang syahadat. Uniknya, hampir semua komentar negative tersebut ditulis oleh mereka yang sudah menikah. Entah karena mereka merasa benar atau justru merasa zona nyaman mereka diganggu.

Apakah saya sungguh-sungguh beropini seperti itu? Ah, itu Cuma gelitikan saja. Maksud saya adalah, sudah saatnya kita meredifinisi pernikahan. Apakah kita menikah karena sekadar tuntutan agama dan tradisi atau memang untuk sebuah visi yang lebih baik? Apakah kita menikah karena merasa insecure, atau karena kesadaran? Apakah dorongan kita menikah untuk mencari kesejahteraan atau untuk pencapaian titik kemanusiaan?

Aku sering bertanya pada diriku, kenapa aku belum juga menikah meskipun aku ingin memiliki anak. Ya, memiliki anak bukan suami.

Mungkin,
Ini mungkin lho ya, aku tidak menikah karena secara tidak sadar aku melawan sistem pernikahan yang ditawarkan padaku. Seperti berikut ini :
  • Keluargaku akan tenang jika aku menikah karena ada yang bertanggung jawab atas diriku. Ada yang menjaga dan melindungiku. Bukankah kita bertanggung jawab atas diri kita masing-masing? Bahkan di akhirat pun setiap orang dipanggil namanya, bukan nama orangtua atau suaminya. Bukankan yang bisa melindungi dan menjaga diriku hanya diriku sendiri dan tuhan? Bukankah kita bergantung pada tuhan,bukan pada suami?
  • Sepertinya kehidupan perempuan hanya berpindah tempat. Dari tanggungan orangtua menjadi tanggungan suami. lalu kapan perempuan akan diberi kemampuan untuk berdiri sendiri? Kapan perempuan memiliki dirinya sendiri?
  • Anggapan yang melihat perempuan aman ketika sudah menikah bagiku tampak merendahkan perempuan dan lelaki itu sendiri. Tampaknya perempuan tidak diberi cukup kepercayaan untuk bisa menanggung hidup dan menjaga dirinya. Meskipun pada kenyataannya begitu banyak perempuan yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga sekalipun dalam norma dan budaya ia tetap dibawah ketek suaminya.
  • Carilah suami yang mapan. Kata mapan yang ditempelkan setelah kata suami tampaknya sangat berhubungan dengan kemampuan suami untuk mensejahterakan keluarganya. Well, kita gak munafik dengan itu. Tapi apakah soal mensejahterakan ini harus dibebankan pada suami. Bukankah rejeki datangnya dari tuhan dengan cara yang tak pernah kita duga. Bisa saja lewat suami ataupun istri.

Banyak yang menjudge-ku dengan mengatakan bahwa aku belum menikah karena aku terlalu pemilih. Masa sih aku terlalu pemilih? Padahal yang kuinginkan dari pasanganku sangat simple ; punya visi, integritas, dan sensitive gender. That’s it.

Kalaupun memang aku pemilih, bukannya hidup itu memang soal pilihan. Aku tidak keberatan untuk melakukan kompromi dan menerima kekurangan pasangan, asal ke-3 syarat tadi ada lebih dulu. Akupun sadar tidak ada yang sempurna. Lagipula, tampaknya ketiga hal tadilah yang lebih berpengaruh terhadap libidoku dibanding fisik ataupun rayuan. Bukankah sebenarnya orgasme itu ada di kepala, bukan di kelamin. Dan ketiga hal yang kuinginkan tadi bukan sesuatu yang diberi tuhan sejak lahir, namun sebuah usaha dan pencapain intelektual dan mentalitas seseorang dalam perjalanan hidupnya.

Ah, atau mungkin aku tidak menikah karena belum menemukan lelaki yang pas yang bisa menerima “kebinalan” jalan fikiranku.

Aku tidak ingin menikahi lelaki hanya agar diberi uang saku dan belanja bulanan. Bukan untuk mencari kasur hangat di bawah atap yang tidak bocor. Bukan untuk menghindari lapar dan haus. Bukan untuk menghindari label perawan tua (meskipun aku harus mempertanyakan definisi perawan di sini). Bukan juga untuk melampiaskan libido ku yang biasanya menggelora di saat bulan purnama. Bukan itu.

Mungkin praktisnya aku akan membutuhkan lelaki untuk membetulkan atap yang bocor, mengerok punggungku ketika masuk angin, atau sekedar memberi makan kucing-kucingku. Dan aku pun tak keberatan untuk mengecat dinding, membetulkan listrik yang mati dan membuat kopi di pagi hari. Tak perlu memperdebatkan siapa yang bekerja dan siapa yang mengurus rumah. Tak perlu memperdebatkan apa dan siapa yang lebih penting.

Dan harus kuakui bahwa aku mungkin ingin menikmati tubuhku terbakar gairah ketika melihat pasanganku memasak, serasa ingin menciumnya penuh hasrat ketika diam-diam mengintipnya membuatkan kopi untukku di pagi hari. Dan bermalas-malasan seharian penuh di tempat tidur bersamanya seakan tidak ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.

Sungguh, tak ada sedikitpun aku mengerdilkan lelaki. Aku mengagumi mereka sama seperti aku menghormati kaum perempuan.

Aku hanya ingin menikah dengan seseorang untuk bisa mensyukuri betapa kami begitu indah ketika saling memiliki dan menopang satu sama lain. Untuk mensyukuri setiap detik yang telah dikaruniakan kepada kami untuk melakukan sesuatu lebih baik di setiap saat.

Damn, sebenarnya yang kuinginkan sangat simple. Tapi konstruksi budaya membuatnya seakan terlalu berbelit-belit. Why cant it be simple?

Soal jodoh, sudah kuserahkan semuanya pada tuhan. Belajar dari pengalaman, sekeukeuh apapun kita, selama apapun pacaran, kalo bukan jodoh ya gagal maning. Tapi kalo sudah jodoh, ya jorok. Di mana aja dan kapan aja ya jadi.

So, aku tak lagi berani membuat rencana seperti sebelumnya. Tuhan lah maha pembuat rencana yang terbaik.
Ada sebuah peristiwa unik di hari lebaran kemarin. Biasanya, aku, ibu dan adikku akan berangkat bersama untuk shalat ied, kami memakai mukena yang sama yang telah dipersiapkan oleh ibuku jauh hari sebelumnya. Namun lebaran tahun ini, adikku tidak bersama kami lagi. Ya, dia sudah menikah, sama seperti saudara kami lainnya,ia menghabiskan hari pertama lebaran bersama keluarga suaminya. Tahun ini, hanya aku dan ibuku ditemani oleh ceu iyom, salah satu pegawai ibuku, berangkat bersama menuju mesjid. Sebelum berangkat aku sempat berkelakar bahwa kami adalah trio macan, sama-sama single. Bedanya, mereka single karena menjanda sedangkan aku memang belum menikah. Di perjalanan kami bertemu dengan nenek, aku dan ibuku akhirnya berjalan memapahnya hingga mesjid. Saat itu aku baru menyadari bahwa mereka semua adalah janda, kecuali aku. Aku tertawa geli.

Aku menikmati karunia tuhan yang belum mempertemukan aku dengan jodohku. Aku bersyukur karena aku masih bisa berjalan bersama dengan mereka tanpa harus mendampingi suamiku. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk kuhabiskan bersama ibuku, mungkin kesendirianku ini adalah kesempatan yang diberikan tuhan agar aku memiliki banyak waktu untuk menjadi sahabat bagi ibuku. Aku belum mau menukar kebahagiaan yang kurasakan dengan ibuku,sekalipun itu diganti oleh kehadiran seorang suami.

Mungkin tuhan tak ingin ibuku berjalan sendirian di hari lebaran ini. Ia ingin aku berjalan bersamanya agar ia tahu bahwa ia masih memiliki seorang anak tempat ia bermanja,menuntut dan meminta sesuatu. Mungkin tuhan tahu bahwa aku masih ingin menjadi pendamping ibuku.

Tuhan tahu bahwa ibuku tak dapat menggantungkan dirinya lagi pada anak-anaknya yang telah berkeluarga. Ia sadar bahwa setiap anak yang telah berkeluarga memiliki kepentingan dan prioritas sendiri. Namun padaku, ia masih boleh menggantungkan dirinya dan bebas berkeluh kesah tentang apapun. Dan aku sangat bahagia dapat mengemban hatinya di dalam hatiku.

Hahaha, nulis panjang lebar maunya ini itu, padahal intinya kenapa aku tidak menikah atau belum menikah itu karena Tuhan belum menghendakinya. Karena jodohku belum dipertemukan. Dan kuyakin bahwa tuhan pun belum menghendakinya karena aku belum betul-betul yakin menginginkannya.

Ribet amat sih, eror…
Jadi, besok kalau ada yang tanya lagi soal itu, jawaban gue adalah”
Ssst…jangan suka ikut campur urusan tuhan.pamali!
Hahahaha…

(sebenarnya aku pengen nulis judulnya, HARUSKAH KITA MENIKAH? Tapi gak jadi daripada bikin masalah lagi di komplain di belakang sama keluarga gue dan dianggap bagian dari jaringan islam liberal,hahaha.)



2 comments:

  1. Hehehe... gue lebih sepakat kalau judulnya haruskah kita menikah. Seharusnya yang kita lihat apa sebenarnya substansi dari pernikahan itu. Sayangnya, jarang banget pasangan yang menikah berpikir sampai ke situ. Menikah hanya dianggap sebagai siklus kehidupan.

    ReplyDelete
  2. mungkin menikah juga salah satu cara aja untuk dapet akses kontrasepsi dan aborsi, wkwkwkwkw...

    ReplyDelete