--Kudedikasikan tulisan ini untuk mengenang dan merayakan persahabatan ibuku dan ceu okom, salah satu sahabat terbaiknya.--
Berita kematian ceu okom kuterima pukul 8 malam. Beberapa jam kemudian ibuku menelponku dengan suara yang bergetar. Aku tak butuh waktu lama hingga akhirnya akupun turut menangis bersamanya.
Aku mengenal ceu okom semenjak aku kecil. Ia adalah sahabat ibuku semenjak kecil. Ia tinggal tidak jauh dari rumah kami. Nasib ibuku dan ceu okom memang sedikit berbeda, usaha ibuku lebih maju daripada ceu okom, namun ceu okom tak kalah beruntung, ia memiliki kerendahan hati dan ketabahan yang luar biasa dalam menjalani hidupnya. Bisa kubilang mereka adalah sahabat yang saling mengagumi dan mengisi satu sama lain.
Ibuku terisak di telepon,
“hari minggu lalu aku telpon dia, kubilang : kom, si ama lagi ke bandung, aku kesepian di sini. Dateng ya, aku butuh hiburan.”
“setiap 2 hari sekali aku bertemu dia, kalau aku kesepian aku akan memanggil dia untuk datang. Kami akan duduk di tempat tidur dan saling curhat soal anak-anak. Aku bahkan tidak bisa curhat seperti itu dengan keluargaku sendiri.”
Kalimat itulah yang membuat air mataku berlinang bagaikan sungai bengawan solo. Aku dapat memahami perasaan kehilangan ibuku yang begitu dalam.
Bayangkan saja, mereka mengenal semenjak kecil, tumbuh bersama sebagai remaja hingga akhirnya menikah dan berkeluarga. Berapa puluh tahun yang mereka habiskan untuk tertawa dan menangis bersama. Berbagi canda bahkan pilu bersama. Mereka tetap bersama bahkan hingga akhirnya menjadi seorang ibu, ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa dan meninggalkan mereka, lalu ibuku menjanda ditinggal meninggal ayahku. Hingga keduanya semakin renta dan menjadi nenek.
Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya memberikan seluruh hidup kita, bekerja siang malam, untuk anak-anak kita? Bersuka cita melihat mereka tumbuh. Lalu satu demi satu pergi meninggalkan kita. Pada akhirnya yang tersisa adalah kita dan pasangan menikmati hari tua tanpa keceriaan anak-anak kita?
Aku sulit membayangkan hal itu terjadi pada ibuku tanpa ayahku ada di sampingnya.
Maka sudah sepatutnya, aku berterimakasih pada mereka yang telah ada di samping ibuku di hari tuanya. Salah satunya adalah ceu okom.
Setiap kali ibuku berkisah tentang ceu okom, pilu hatiku rasanya. Diam-diam aku cemburu dan malu. Seharusnya aku lah yang ada di sampingnya, mengobati hari-harinya yang sepi, menghibur kesendiriannya. Aku lah yang seharusnya ada di sana. Namun tempat itu telah digantikan oleh orang lain.
Diam-diam aku pun mengingat para sahabatku, dapatkah aku menjaga persahabatanku seperti mereka? Melalui berbagai episode dalam hidup dan bertahan sebagai sahabat? Semoga.
Di akhir perbincangan kami, ibuku sempat berguyon.
Seandainya okom bisa ngomong, pasti dia akan bilang gini :
"..Dedeh, akhirnya aku nyampe juga di sini. Enak banget di sini, dedeh mah belum nyampe ke sini…"
Jujur saja, guyonan itu teramat menyakitkan, karena aku belum mau ibuku menyusul ceu okom. Aku masih ingin menikmati waktuku bersamanya.
Subhanallah, pernahkah kita mengobrol dengan sahabat kita dan meminta agar kita juga tetap dipertemukan setelah kematian?
No comments:
Post a Comment