Salah satu momen terbaik dari pulang kampung adalah berkumpul bersama teman. Setelah beratahun-tahun lamanya berpisah, selalu ada banyak hal yang bias dibagi, atau sekedar mengulang cerita-cerita konyol semasa sekolah dulu. Sesame teman, kita juga saling menjadi saksi sejarah perjalanan hidup masing-masing. Akuilah, bahwa makin hari kita dituntut untuk lebih serius dalam menjalani hidup. Kita tak lagi sekedar menjadi seorang bocah, namun telah berganti peran menjadi seorang anak dewasa, ibu rumah tangga atau bahkan suami. Belum lagi tuntutan pekerjaan yang mengharuskan kita memiliki integritas. Sepertinya, semakin kita beranjak dewasa, kehidupan ini menjadi semakin berat. Kita tak lagi bebas berlaku apa adanya, atau sekedar tertawa terbahak tanpa suatu alasan.
Dengan beranjaknya usia, kita dituntut untuk memiliki alasan untuk setiap tindakan kita. Kita diharuskan memakai nalar dan logika. Reuni, tampaknya memiliki efek terapi yang luar biasa terhadap perkembangan jiwa kita. Kita mengingat kembali hal-hal konyol yang kita lakukan semasa sekolah dulu, terbahak bebas tanpa harus merasa bahwa apa yang kita lakukan dulu adalah bodoh. Kita datang ke reuni bukan sekedar untuk melepas kangen, namun juga untuk membebaskan jiwa kita yang dibelenggu segala serba ‘keharusan’ dunia orang dewasa.
***
Awalnya karena Dedi Zamzami. Ia biasanya datang pada hari ke-2 lebaran. Sejak saat itu aku selalu mengajak teman-temanku yang lain untuk juga datang ke rumahku pada saat yang sama. Hal ini ternyata terus berlanjut hingga kini, 9 tahun semenjak kami lulus dari SMA. Setiap tahun selalu ada yang berubah, ceritanya pun makin beragam. Ada yang tadinya berjilbab jadi tidak berjilbab. Ada yang tadinya bandel jadi religius. Ada juga kisah cinta yang ternyata terpendam semasa sekolah akhirnya dikuak belakangan. Topiknya pun berubah, dari yang tadinya mengenai kuliah dan pacar, kini berganti mengenai pekerjaan, pernikahan, anak-anak, agama bahkan politik. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Ketika kami tertawa bersama, rasanya masih sama seperti dulu. Seakan kami tak pernah beranjak dewasa. Seakan semua kenangan itu baru terjadi kemarin lusa. Sebenarnya, setiap kali kami berkumpul kami selalu mengulang cerita yang sama. Namun kami tak pernah bosan untuk menertawakannya.
Ada cerita aku dan teman sebangkuku yang suka iseng mencabut bulu ketek di kelas, lalu menghadiahkannya pada duo dedi yang duduk tepat di belakang kami. Ada cerita tentang isty sahabatku yang selalu menang pancho melawan semua anak-anak lelaki di kelasku. Ada cerita tentang permainan rolet. Ya, dulu kami biasa bermain rolet. Sebuah pensil akan diputar ditengah-tengah lingkaran. Kemana ujung pensil itu mengarah, maka siapa yang akan berada di sudut itu akan habis digebukin anak-anak, hingga berlari mengelilingi kelas, meloncat dari satu meja ke meja lainnya. Hingga pernah suatu hari aku mengejar si dado, dan kepalanya kejedut palang pintu hingga berdarah.
Yang paling tragis adalah niatku untuk bolos di kos dedi. Tadinya hanya aku dan idham sedang merokok di dalam kamar. Tiba-tiba anak kelas 3 yang beramai-ramai bolos juga datang, dan bergabung bersama kami. Tiba-tiba terdengar suara guru BP datang. Kami pun mengunci pintu dan diam di dalam, seakan-akan kami tidak ada di sana. Padahal sepatu kami jelas-jelas berjejer di ruang kamar. Akhirnya kami rame-rame digiring ke kantor BP. Niatnya mau senang-senang, akhirnya aku menghabiskan waktu di ruang BP di interogasi dan dihukum. Ingat kan hukuman ini : Menulis “ saya menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi” sebanyak 2 halaman folio bolak-balik.
Tapi tidak ada yang sekonyol kisah dua temanku, si T dan E. Mereka duduk sebangku. Si T biasanya berlangganan sejenis “Porn Magz”. Selesai membaca, si T akan menjualnya pada si E. setelah sekian lama, si E akan menjualnya lagi pada si T. dan si T tidak menyadarinya bahwa itu adalah barang yang sama yang ia jual dulu.
Ada juga cerita konyol si nanang vampire. Suatu hari ia datang ke kelas mengadu bahwa ia bermasalah dengan anak 1-5. dengan gagahnya ia berkoar-koar akan mengajak duel anak kelas satu. Lalu kami pun beramai-ramai jadi supporter dan berjalan di belakangnya menuju kelas 1-5. akhirnya anak kelas satu itu pun di panggil. Ternyata badannya lebih besar dan lebih tinggi dari si nanang. Keduanya sudah memasang kuda-kuda. Dengan songongnya nanang sudah pasang aksi. Apa yang terjadi? Bukannya tinjuan yang ia layangkan, malah sebelah tangan yang meminta salaman damai. Ternyata si nanang ngeri juga liat perawakan anak kelas satu yang lebih besar darinya. Kontan anak-anak pun gondok dan bubar seketika. Rasanya harga diri kami sebagai senior benar-benar dipermalukan oleh si nanang.
Hal terburuk yang pernah kulakukan ketika SMA dalah mengganti specimen praktikum biologi. Beberapa specimen yang sudah disiapkan oleh guru kuganti dengan upil dan ketombe. Tentu saja sebagian anak menjadi kebingungan, karena apa yang mereka lihat dibawah mikroskop berbeda dengan yang diterangkan dan digambar guruku di depan kelas. Hehehe, maaf ya teman-teman.
Dan hobi terburukku ketika SMA adalah memperhatikan kodok kawin. Ruang kelas dua berjejer membentuk huruf U yang dikelilingi oleh parit kecil di depannya. Di sinilah biasanya kodok kawin, lalu nanti dari bagian belakang si betina akan keluar telur-telur yang terbungkus di dalam tube bening. Si betina akan terus maju dan telurnya semakin panjang, sedangkan kodok lainnya akan tetap bertengger di atas si betina. Aku suka sekali memperhatikan mereka kawin lalu menghitung panjang telurnya. Pantes aja ya sekarang aku interest sama isu seksualitas. Mungkin bakatku memang sudah ada semenjak dulu.
Ketika kami kelas dua, guru bahasa Indonesia memberi kami tugas untuk membacakan cerita pengalaman sendiri di depan kelas. Dan cerita terbaik yang selalu kami ingat adalah cerita si R. maksudnya mau kreatif mengobati penisnya yang sakit, ia malah mengoleskan balsam di penisnya yang tentu saja membawa siksa dan petaka.
Ketika SMA dulu, aku hanya punya satu sepatu. Setiap minggu sepatuku akan di cuci. Satu waktu, hari minggu ternyata hujan dan sepatuku masih basah ketika akan kupakai sekolah di hari senin. Dengan sangat kreatifnya aku akhirnya melapisi kaos kakiku dengan plastic agar kakiku tak jadi basah. Namun sepanjang upacara, terdengar suara kresek-kresek. Itu suara kakiku yang bergerak-gerak akibat pegel berdiri sepanjang upacara. Belum lagi polah anak-anak perempuan yang suka pura-pura sakit, lalu akhirnya bergosip di ruang UKS. Ah ada-ada saja.
Entah berapa kali aku disidng di ruang BP. Atau dihukum berdiri di bawah tiang bendera gara-gara terlambat. Namun yang pasti aku paling benci dihukum di perpustakaan dan harus menulis kalimat menyebalkan itu ; aku menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Rasanya seperti kita membuat janji yang kita tahu tidak bias kita tepati. Itu baru sedikit cerita dengan teman-teman sekelasku saja. Belum lagi cerita dengan teman-teman lainnya.
***
Persahabatanku dengan dedi sebenarnya persahabatan aneh. Bukan begitu ded? Kami di sekolah jarang menghabiskan waktu bersama, malah seringkali saling diam. Mungkin karena kami berbeda. Aku sangat cerewet dan jail, sedangkan dedi tidak terlalu hiper-aktif sepertiku. Paling-paling dia hanya akan tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya, atau tertawa khas dirinya. Namun di luar sekolah, kami menghabiskan waktu berjam-jam di telepon untuk saling curhat setiap malamnya.
Aku, bahkan ibuku selalu mengingatnya sebagai Dedi Dunkin. Karena setiap kali ia pulang liburan dari Jakarta, ia akan membawakan dunkin donut untukku. Biasanya donutnya akan diselipkan di tas punggunggku. Kalau bukan donut, ia akan membawakanku buku diary bergambar Winnie the Pooh. Ya, karena aku suka sekali menulis buku diary, dan juga suka sekali Winnie the Pooh. Tentu saja teman-teman tidak mengetahuinya, karena hadiah-hadiah ini akan diberikan seusai pulang sekolah di warung belakang. Lucu, meskipun kami tak lagi saling curhat. Namun ketika aku menulis di buku diary, rasanya sama saja seperti aku sedang curhat padanya.
Seingatku, kami juga pernah bertukar tanaman kaktus kecil. Kaktus itu kurawat dengan baik karena aku percaya itu adalah simbol persahabatan kami. Kadang, ketika aku tidak bias curhat padanya, aku pun akan curhat pada kaktusku.
Setahun setelah keluar SMA,aku sempat kehilangan jejaknya. Tapi Tuhan maha baik. Di tahun 2001, di hari pertama UMPTN di UNPAR bandung, tanpa sengaja dia menyapaku yang sedang berdiri di pinggir jalan. Senang sekali hatiku, hari itu kami menghabiskan waktu mengobrol, makan dan jalan-jalan. Wajar saja kami tidak lulus UMPTN.
Beberapa tahun terakhir ini aku sedikit menghindar darinya, sepertinya liku perjalanan hidupku membuatku tak ingin tampil di hadapannya. Aku sudah banyak berubah, dan mungkin bukan lagi sosok sahabat yang sama dengan 9 tahun yang lalu. Dedi pun kurasa banyak berubah. Anehnya arah perubahan kami tampaknya berkebalikan. Aku kadang menghindari telpon atau sms darinya, bahkan aku segera meng-offline kan ym atau fb ku jika dia online. Aku juga gak tau kenapa. Yes, I’m weird. Kami tak banyak mengobrol akhir-akhir ini. Namun google dan social networking cukup memberi banyak bantuan untuk melacak kabar terbaru. Mungkin salah satu yang membuatku menarik diri adalah karena aku sempat membaca beberapa artikel di google yang menyebut namanya sebagai salah satu aktifis hizbut tahrir. Gentar juga aku. Mungkin tepatnya malu. Dulu, kayaknya aku yang lebih religius dari dedi. Tapi sekarang malah kebalikannya. Hehehe…makanya dedi pernah bilang : ati-ati ah, ina mah suka kebablasan. Ya kan ded? Hehehe…
***
Nah, yang masih inget cerita konyol yang belum ditulis, atau mau mengoreksi beberapa ceritaku yang mungkin kurang detail, Ayo tulis di komentar, nanti ku tambahin lagi di sini. Rencananya kan, tahun 2010 kita mau bikin reuni gede. Nah seru kan kalo kita kumpulin cerita semasa SMU terus dibikin booklet.
Tentu saja, bukan untuk dikonsumsi suami/anak atau istri ( biar tetep jaga wibawa )
Oh ya, lupa bilang kalo…
I LOVE YOU ALL, FULL!
I LOVE YOU ALL, FULL!
No comments:
Post a Comment