Sekitar 20 orang pemuda dalam keadaan mabuk mendatangi warungku tadi malam. Salah seorang dari mereka mengangkat sepeda milik temanku yang terparkir di depan warung, lalu melemparkannya ke atas motor. Aku dan temanku yang tengah duduk di dalam warung melihat kejadian itu dan tak berbuat apa-apa. Aku tahu mereka berharap kami emosi dan naik pitam agar memancing mereka untuk bisa bersikap lebih anarkis. Aku kemudian berdiri dan mendekati mereka. Kutanya baik-baik ada perlu apa mereka datang. Dari jarak dekat itulah bisa kucium bau alkohol dari mulut mereka. Mereka mulai bertanya siapa pemilik warung dan siapa yang bertanggung jawab di sini. Ku jawab bahwa akulah pemilik sekaligus penanggung jawab di warung ini. Mereka mulai meracau satu demi satu lalu menyuruh temanku untuk segera pulang. Saat itu aku kemudian meminta temanku untuk segera meninggalkan warung.
Temanku segera pamit dan menyalami beberapa orang dari mereka yang berdiri di depan pintu. Mengambil sepedanya yang terserak di halaman warung lalu segera pergi dari situ. Kupikir setelah kepergian temanku, warga kampung akan segera bubar. Kukatakan pada mereka bahwa aku akan segera menutup warung. Namun mereka tetap berdiri di sana, bahkan beberapa mulai menyelonong masuk ke dalam warungku.
“Sini kubantu, tak tumpaki wae mbaknya.” Kata seorang pemuda ketika melihatku berusaha memasukan motor ke dalam warung. Yang lain tertawa.
“tumpaki matamu” umpatku dalam hati, bajingan.
Kukatakan pada diriku sendiri : “Kontrol, kontrol”
“rambutmu panjang toh, coba buka ikatan rambutnya. Digerai aja.” Tambah pemuda lain.
“asu, jembutmu aja digerai.” Umpatku lagi dalam hati.
Mereka tetap tak mau pergi.
Aku berusaha untuk tidak tampak emosi dan panic di depan mereka. Walaupun sebenarnya aku mengumpat dalam hati. Aku paham bahwa suatu saat kejadian ini akan terjadi. Ini adalah sekuel dari perselisihan dengan warga kampung sebelumnya. Hanya tinggal menunggu aku melakukan satu kesalahan maka peristiwa ini akan terjadi.
Dan di sanalah, aku seorang diri menghadapi mereka. Beberapa orang berdiri di pintu warung, beberapa menyerobot masuk ke dalam warung dan sebagian lainnya bergerombol di jalan raya. Satu demi satu tuduhan mulai keluar dari mulut mereka. Dari mulai soal tamu lelaki yang masih ada di warung di tengah malam, hingga masalah andi yang sering berada di rumahku, bahkan mempertanyakan kenapa aku lebih memilih mempekerjakan seorang lelaki daripada seorang wanita. Satu demi satu keluar dari mulut mereka. Saat itu juga aku tahu bahwa beradu argumen bukan jalan keluar yang baik. Aku memilih untuk diam dan sesekali mengucapkan kata maaf dan mendengarkan omongan mereka yang saling menyela satu sama lain tentang satu hal : mencari kesalahanku.
Sungguh ironis, saat itu aku dan temanku tengah berdiskusi tentang intolerance, hipocracy, fundamentalis, militia, bahkan teroris dan bagaimana cara otak bekerja dalam merespon informasi yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Aku tidak menyangka bahwa akan ada kejadian anarkis yang penuh hipocracy di warungku pada malam itu juga.
Aku tidak mungkir bahwa tubuhku gemetar saat itu. Gemetar walau tak gentar. Mereka benar-benar mabuk, yang mereka lakukan adalah mengulangi perkataan dan pertanyaan yang sama. Walau sudah kujawab mereka akan mengulanginya lagi. Walaupun aku berbicara pelan dan meminta maaf atas kesalahanku namun mereka malah akan mengatakan supaya aku jangan terus ngeyel dan mau menerima salahku. Tidak ada pembicaraan yang nyambung. Yang terfikir saat itu hanyalah hp dan keselamatan laptopku. Hp untuk menghubungi polisi, dan laptop karena hampir semua pekerjaan ku berada di situ.
Untung ada salah satu dari mereka memanggil pak RT datang. Namun kedatangan pak RT tak banyak membantu karena isi pembicaraan hanyalah pengulangan perkataan dan pertanyaan yang sama yang dilakukan oleh mereka silih berganti, bahkan dijawab oleh mereka sendiri. Jawaban ku singkat karena tak ada kesempatan untuk menjelaskan.
Dari penjelasan pak RT ini pula aku semakin tahu bahwa kejadian ini adalah sekuel dari perselisihan sebelumnya. Aku di dakwa bersalah atas beberapa tuduhan melanggar aturan kampung, termasuk tidak melaporkan kedatanganku ke kampung ini dan menyalahi aturan jam menerima tamu. Ternyata beliau saja lupa bahwa aku sudah pernah menemuinya sebelumnya. bukankah ini warung, apa ada aturan jam berapa harus tutup? pecel lele depan saja tutup jam 2 malam, belum lagi angkringan dan burjo yang buka sepanjang malam. kenapa warungku sendiri yang dikenakan jam malam?
Sesekali aku melihat ke arah jalan raya, mataku menangkap sosok bapak tetangga yang sebelumnya bermasalah denganku sedang berjalan hilir mudik di depan warungku di antara para pemuda. Tiba-tiba aku ingat dengan jelas perkataan beliau pada saat aku menemuinya : “masalahmu denganku sudah kuanggap beres. Tapi kamu tahu sendiri pemuda di sini suka minum, kamu tahu sendiri kan kalo orang minum itu seperti apa. Aku tidak menjamin urusanmu dengan warga kampung sini selesai. ”
Malam ini, ancaman halusnya menjadi kenyataan. Tak hanya itu, malam ini aku juga menerima ancaman halus lainnya soal kelancaran warungku.
Di hadapan mereka aku memilih untuk menyatakan bersalah atas semua tuduhan dan memohon maaf atas perilakuku. Aku juga bersedia menerima sanksi jika melakukan kesalahan yang sama. Namun dalam hatiku aku percaya hanya tuhan yang tahu yang mana kesalahanku.
Setelah lebih dari setengah jam mereka akhirnya keluar dari warungku. Aku segera mengunci semua pintu. Kucek berulang kali untuk memastikan bahwa aku aman. Suara dan tawa mereka masih terdengar di luar. Mereka tetap berada di luar warungku hingga 30 menit kemudian.
Lagi-lagi, aku menangis sendirian di dapurku. Bagaimana bisa orang berlaku seperti ini. Mereka merasa diri mereka benar karena mereka adalah penduduk asli kampung ini, dan aku hanya seorang pendatang, perempuan, dan belum menikah. Have no power.
Satu demi satu kurekam wajah mereka dalam ingatanku. Sebagian dari mereka tak asing bagiku. Kadang kami bertegur sapa dan saling tersenyum di siang hari. Tapi siapa sangka, keadaannya akan berubah di malam hari ketika mereka mabuk. Pengecut. Mereka berani melakukan ini hanya dalam keadaan mabuk dan bergerombol.
Sebagai seorang perempuan, kuangkat jempol untuk diriku sendiri. Bahwa mereka butuh kekuatan alcohol dan bergerombol hanya untuk mengintimidasiku. Huh, lalu siapa yang sebenarnya merasa terancam di sini?
Tiba-tiba aku mendapat kekuatan untuk berhenti menangis. Mereka tidak dapat menakutiku, they don’t have power to upset me. They don’t matter enough to upset me. Aku tak punya alasan untuk takut pada mereka. Sekali lagi, siapapun boleh mengambil dan merusak property ku namun tak ada yang bisa mengambil kebebasanku dari rasa takut.
Aku sempat menelpon andi memberitahu kejadian ini. Andi meminta maaf karena ia jadi terbawa-bawa. Ia menasehatiku untuk segera menelpon polisi.
“Sekarang semua sudah terlanjur terjadi. Yang penting bagaimana kita hadapi mereka esok hari. We have to stand up” kataku pada andi.
Temanku juga beberapa kali mengirim sms hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Ia . meminta maaf gara-gara ia kelamaan berada di sana akhirnya berakhir seperti ini.
“i’m not okay. They just leave but still in the front. I’ll be fine. FA.” Balasku
“ No need to feel sorry. You’re just black sheep for them. They have been waiting for this.”
FA is Fuck All. A is not only for all, A is also Asshole . So..FA is Fuck Asshole ( cuma berani dalam hati, hahaha )
***
Hari ini aku bangun pagi, kucium schakty yang masih tertidur pulas di sampingku. Aku mengingat beberapa potongan kejadian semalam. Dan kuputuskan bahwa hari ini aku akan berjalan tegak menghadapi mereka.
Aku membereskan warung, menyiapkan sarapan untuk kucing-kucingku. Sempat ke luar dengan kedua mata yang masih bengkak. Beberapa ibu-ibu yang duduk-duduk di depan warung tampak mencuri lihat kepadaku. Aku dengan santainya menghampiri mereka dan membeli rokok di warung.
“Hallo mbak, bagaimana kabarmu hari ini?” Tanya tetanggaku sebelah.
Haha, sudah kuduga aku akan mendapat pertanyaan ini. Ini bukan sapaan yang biasa kudengar setiap hari. Pertanyaan ini hanya muncul beberapa kali setiap kali gossip tentang diriku baru saja menyebar. Ini adalah tipe pertanyaan yang keluar dari mulut seseorang yang sudah mendengar gossip tapi masih kepengen tahu lebih banyak dari orangnya langsung. Kusebut ini sebagai “Spying Hello”
“Ah paling sudah tahu kejadian semalam.” Jawabku santai
“Lho, emang ada apa mbak semalam? Aku gak ngerti apa-apa lho.” Katanya
Trik basi !
“Oh nggak, semalam aku baru saja melalui malam yang hebat dan menyenangkan.” Jawabku sambil berlalu masuk ke dalam warung.
Oh, what a drama…drama…I hate to be part of it.
Aku segera menghadiahi diriku sendiri dengan memasak sarapan dan membawanya ke tempat tidurku. Aku akan makan banyak sambil bermalas-malasan. Kupikir aku pantas mendapat sarapan yang lezat setelah peristiwa semalam yang menguras energiku.
Besok warungku akan buka lagi. Aku tidak akan gentar.
ps : minta doanya ya, aku butuh kekuatan dan kesabaran. bener kata soekarno : perjuanganku mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian berat karena melawan bangsa sendiri.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete