Sunday, August 16, 2009

Mungkin Tak Ada Surga Untukku

Dalam beberapa minggu terakhir ini, pemberitaan tentang teroris kembali menguak memoriku, mengenang perjalanan bertahun-tahun lalu yang selalu mengganggu hati dan fikirku. Selama berminggu-minggu aku menahan gelitik untuk tidak menulis, fikiran tentang foto imam samudra yang terpajang di dinding rumah salah satu saudaraku memaksaku untuk menulis notes ini. Foto wajah imam samudra dalam keadaan mati itu diperlakukan bak pahlawan.

Aku tumbuh ditengah keluarga “beragama”, aku sempat mengenyam pendidikan pesantren, namun hatiku selalu merasa kosong dan tak tenang. Ketika SMA, setiap hari rabu aku berangkat ke sebuah pengajian, namun hanya kebencian yang kudapat sepulang dari sana. Kebencian pada mereka yang memusuhi islam, mereka yang telah memusuhi jalan tuhan. Bukan ini yang kucari, kataku pada diri sendiri.

Ada banyak pertanyaan di kepalaku, namun aku tak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Sebaliknya seringkali aku mendapat nasihat untuk segera beristigfar karena telah mempertanyakan sesuatu yang buruk.

“ bahwa ada hal-hal yang tak dapat difikirkan dengan akal, bahwa kekuasaan tuhan di luar batas akal manusia.”

Lalu mengapa ayat pertama yang turun : IQRA !

Saat itu aku belum genap 17 tahun, namun aku sadar jika aku tak pergi dari rumah, maka kegelisahanku takkan pernah berakhir, atau mungkin aku akan mulai meyakini apa yang kuragukan saat itu dan menjadi bagian kelompok yang penuh dengan kebencian atas nama tuhan mereka.

Aku telah merencanakan pelarianku selama 3 tahun, pada tahun 2000 akhirnya aku menjadi anak perempuan pertama yang meninggalkan rumah.

Dalam perjalanan itu aku berteman dengan pendeta, orang yahudi atau penganut agama lainnya. Lalu aku mulai mempertanyakan : apakah sahabat-sahabatku ini akan masuk neraka nantinya karena mereka tak mengikuti tuhanku? Bukankah mereka ini jahat, melawan tuhan, namun mengapa hatiku mengatakan lain ketika aku bersama mereka. Aku merasakan kebahagiaan, kehangatan atas ketulusan yang mereka berikan.

Atau mungkinkah aku yang masuk neraka karena tak mengikuti tuhan mereka?

****

Tuhan siapa?
Tuhan yang mana?
Tuhan yang menjanjikan surga yang dibangun di atas darah?
Tidak, itu bukan tuhanku.
Akupun tak menginginkan surga yang dibangun di atas darah.

***

Bicara tentang agama, mengingatkanku pada pernikahan.

Salah satu teori tentang tuhan mengatakan bahwa manusia menyadari dirinya tidak sempurna, dan secara intuitif manusia mencari sesuatu di luar diri mereka yang mereka anggap sempurna, sesuatu yang dapat dipercayai secara absolut. Karena pada dasarnya manusia haus akan kesempurnaan.
Teori tersebut mengatakan bahwa manusia lah yang menciptakan tuhan.

Tentu saja teori ini belum tentu benar. Ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh teori ini.

Namun teori ini tidak hanya terjadi dalam soal “Tuhan”, pada dasarnya kita semua melakukan hal ini dalam banyak hal, dalam mencari pasangan, pekerjaan atau apapun itu. Kita menginginkan sesuatu yang lebih dari yang kita miliki dan kita mencarinya lewat pekerjaan, pernikahan bahkan agama.
Pernikahan dan agama menawarkan sesuatu yang sama : kebahagiaan.

Semua orang ingin bahagia, dan untuk mendapatkan kebahagiaan maka orang pun harus percaya pada apapun yang ditawarkan untuk bahagia, salah satunya melalui lembaga pernikahan dan agama.

Bukankan seperti itu pula brain wash yang dilakukan para teroris pada korban-korbannya? Bahwa ada kebahagiaan yang kekal, kebahagiaan yang dijanjikan oleh tuhan dan untuk itu harus melalui jalan jihad.

Ada sesuatu yang kupertanyakan dari teori ini, yaitu dasar teorinya itu sendiri. Dasar teori bahwa manusia tidak sempurna dan mencari kesempurnaan. Dasar teori yang membahayakan dan membodohi.
Pada akhirnya orang menikah dan beragama atas dasar insecure, untuk mencari sesuatu. Dan ketika sesuatu yang mereka cari tidak ada dalam lembaga tersebut maka orang pun frustasi. Lalu mulailah mencari lagi, terus mencari.

Bukankah sudah saatnya kita bias menerima dan mensyukuri apa yang kita punya? Dan kalaupun kita memilih untuk menikah dan beragama, itu atas kesadaran penuh untuk kehidupan yang lebih baik, untuk mengembangkan diri dan hidup?

Bukankah sudah saatnya kita membangun apapun atas dasar pemikiran dan jiwa yang sehat?

****

Aku percaya pada tuhan, namun aku ragu pada “agama”. Bagiku tuhan dan agama adalah hal yang saling bersangkutan, namun tak mutlak sama. Tuhan tak dapat dijelaskan dengan rasio manusia, apalagi dikonstruksikan dengan agama yang dibuat manusia.

Aku tak bilang bahwa agama salah, namun sudah saatnya kita kembali merenung dan melihat ke dalam diri kita sendiri. Menggunakan akal untuk mempertanyakan kebenaran yang telah disebut sebagai sebuah “kemutlakan”.

Mungkinkah tuhan yang maha kuasa meminta kita mengorbankan darah untuk-Nya?

Jika Ia Maha Kuasa mungkinkah ia meminta kita untuk mengorbankan darah untuk kesucian-Nya?

Mungkinkah tuhan yang maha kuasa yang telah memberi kita akal menginginkan kita untuk menjadi bodoh dan serba menerima apa yang telah turun temurun diceritakan oleh mereka yang “berilmu”?

Jika tuhan melarang kita meragukan sesuatu, mengapa dengan begitu teganya ia memberi kita akal yang hanya akan menjerumuskan kita pada dosa?

***

Ah, ini sekedar corat coret, curhatanku pada tuhan. Jangan dianggap terlalu serius apalagi membaca dengan kening berkerut dan emosi…

No comments:

Post a Comment