Monday, August 03, 2009

Warung : Cooking, Service, Hospitality & Healing

hmmm, beginilah resikonya punya warung. kadang kita harus mau mendengarkan keluh kesah para pelanggan yang datang ke warung. ngobrol ngalor ngidul hanya untuk segelas kopi murah meriah.

sejak beberapa hari yang lalu, salah seorang warga kampung selalu menyempatkan diri untuk minum kopi di warungku setiap malam. terkadang aroma anggur merah tercium dari mulutnya. tak hanya minum kopi, ia selalu mengajak mengobrol. dari mulai ngomongin si doi sampe politik, tebak-tebakan ataupun berkeluh kesah tentang hidup.

malam ini ia kembali datang dengan obrolan 'mabuknya' dan aku tetap harus menemaninya mengobrol dan berpura-pura tak tahu bahwa ia tengah mabuk. kunikmati obrolan itu sebagai bagian dari pekerjaanku. ia sendiri tak sadar bahwa ia datang ke warung hanya memakai sendal sebelah dan kebingungan mencari sendalnya ketika akan pulang :)

konsumen adalah raja. bukan soal suka atau tidak, namun ini tentang bagaimana menghargai dan memberikan pelayanan terbaik, membuat mereka merasa nyaman dan diterima dengan baik. tentu saja, membuat mereka kembali keesokan harinya.

harus kuakui bahwa aku lelah bekerja di warung. hanya aku dan andi yang mengelola warung. tak hanya memasak, namun aku juga harus memutar otak untuk mengurus keuangan warung yang masih amburadul. aku belum sanggup untuk meng-hire pegawai, tak ayal akupun harus menanggung multiple job desk. terakhir kali aku harus memasak catering untuk 30 orang hanya sendirian, melelahkan. namun pada akhirnya aku bangga pada diriku yang berhasil melewati rasa jenuh, cape dan stress.

lelah tak jadi soal, karena aku belajar banyak hal dalam proses ini. tak hanya soal memasak yang enak, namun juga bagaimana mencintai proses memasak yang butuh kesungguhan, seperti memberikan cinta yang tulus pada setiap hal yang kita kerjakan. interaksi dengan konsumen juga telah melatihku untuk belajar lebih rendah hati dan memberikan pelayanan yang terbaik.

Anna Loewendahl, seorang teman dari australia pernah mengatakan padaku bahwa menyajikan makanan untuk teman adalah bagian dari healing. aku terus memikirkan hal itu, dan kupikir itu sungguh masuk akal, ketika kita menyajikan makanan yang enak dengan keramahan dan senyum, maka kita baru saja menyebarkan kasih. semenjak itu, aku menambahkan resep lain ke dalam masakanku : cinta, ketulusan, senyum dan doa.

sebagai seorang director di samsara, aku memiliki otoritas lebih untuk berinteraksi dengan orang lain. namun ketika berhadapan dengan konsumen maka aku adalah seorang waitress yang hanya bertugas melayani dengan baik. terkadang ada sedikit kesombongan yang membuatku merasa lebih "tahu" dari para konsumen yang kebanyakan adalah mahasiswa, namun ke'tahu'anku tak berharga di warung. orang tak peduli apa yang ku 'tahu', yang orang inginkan adalah datang untuk makan dan dilayani.

aku mensyukuri pekerjaanku sebagai tukang masak dan waitress, dari proses ini aku belajar tentang keseimbangan, rendah hati dan melayani. karena pada dasarnya, apapun pekerjaan kita, tugas kita adalah melayani.

thanks to d'masiv untuk lagunya 'Jangan Menyerah", sebuah lagu yang selalu menguatkan ketika jenuh dan lelah menghampiri. hidup adalah perjuangan.

No comments:

Post a Comment