Notes ini kudedikasikan untuk keluargaku,
Malam ini rabu 20 agustus 2009 ibuku mengajak mengobrol privat. Aku tahu bahwa obrolan ini akan berat, sejak kedatanganku ke tasik aku bias merasakan bahwa ada sesuatu yang membuat ibuku gelisah.
Awalnya, mamah hanya menanyaiku mengenai masalah kuliah, warung dan samsara. Tidak sulit untukku, kuceritakan apa adanya. Lalu ia pun mulai menanyaiku mengenai kapan aku akan menemukan pasangan hidup. Itupun tak sulit untukku, kuceritakan apa adanya.
Hingga tibalah topik terakhir yang cukup berat. Ia menanyaiku mengenai tulisan-tulisanku di internet. Notes-notesku mengenai kekecewaanku pada agama. Yang ini cukup sulit bagiku.
Aku sudah menduga bahwa kabar ini akan sampai ke ibuku. Aku hanya masih sulit terbuka tentang hal ini ketika harus menatap matanya.
Ia kecewa mengapa aku menulis tentang membuka jilbab seakan-akan aku bangga pada perbuatan yang jelas-jelas salah. Ia juga kecewa mengapa aku menulis tentang keluarga besarku seakan-akan aku membuka aib keluarga besar. Ia pun mempertanyakan pernyataanku bahwa agama membawa kebencian. Lalu ia pun mulai menghubung-hubungkan aku dengan kelompok sekuler dan Jaringan Islam Liberal.
Tentu saja aku tidak dapat menyimpan rasa kesal pada ibuku. Jelas ia tidak pernah membaca tulisan-tulisanku. Ia hanya mendengar dari mereka yang pernah membacanya dan memahaminya dari sudut pandang mereka sendiri. Mereka yang memilih menyampaikan ini dari mulut ke mulut daripada langsung berbicara terbuka denganku.
“Mungkin ini adalah ujian bagiku. Dari dulu aku anti Sekuler dan Liberal. Sekarang anakku menjadi seorang sekuler dan liberal.” Ujarnya dengan suara yang tersendat. Kekecewaan tergambar di raut mukanya.
Aku tak tahu harus menjawab apa.
“Aku mungkin sekuler buat kelompok mamah. Dan mamah fundamentalis menurut kelompokku.” Kataku
“Aku tidak bias menjelaskan apapun. Yang kutahu bahwa tujuan kita sama meskipun cara kita berbeda.” Tambahku lagi.
Aku memahami betapa ibuku kecewa pada diriku. Ia mendidikku dengan agama, bahkan memasukanku ke pesantren agar aku menjadi seorang muslim yang baik. Namun siapa sangka aku malah menjadi orang yang amat berbeda dengan harapannya. Apalagi ia adalah seorang muslim yang taat,salah satu orang yang menjadi teladanku.
“aku percaya pada tuhan, namun aku tak begitu saja percaya pada mereka yang mengaku beragama dan mengatasnamakan tuhan mereka.” Jelasku.
“mamah sekarang 63 tahun, mamah telah melalui proses menemukan keyakinan mamah. Aku baru 27 tahun dan aku masih dalam proses itu. Aku tidak berani mengatakan bahwa aku yakin dengan agamaku. Tidak, banyak yang masih kupertanyakan. Banyak yang masih kuragukan, bahkan aku meragukan diriku sendiri. Bukankah untuk sampai pada keyakinan kita harus bertanya, berfikir dan meragukan terlebih dahulu?”
Mungkin caraku menuliskan hal ini tak pernah sopan, namun aku tak berniat bersebrangan dengan tuhan. Mungkin caraku tak baik di mata manusia, namun aku percaya tuhan tahu bahwa aku melakukan ini karena aku menginginkan pertemuan dengan-Nya. Hanya saja, aku tak mengharuskan diriku bertemu tuhan dengan cara yang ditentukan oleh manusia.
Selama hidupku, perang batin terus terjadi di dalam diriku. Antara mencari tuhan dan berdamai dengan asal usulku. aku harus mengakui kualitas-kualitas baik yang kutemukan di dalam keluargaku, kebahagiaan, kesulitan dan canda tawa yang telah dibagi selama hidupku. Aku mensyukuri semua nikmat itu. Namun aku juga tidak menutup mata pada apa yang telah didedikasikan keluargaku pada keraguanku dalam pencarian tuhan.
Bagiku tuhan bukan hanya pemilik surga dan neraka, Ia adalah kedamaian yang menyelinap di dalam selapis udara hangat ketika kita sesame manusia saling mengasihi. Ia hadir di saat ketakutan mencekam. Ia yang menciptakan lorong-lorong pekat agar kita tahu bahwa Ia ada di mana saja. Ia bukan sesuatu yang jauh dan tak terjangkau karena Ia ada nyata di dalam setiap hati kita.
Bagiku tidak masuk akal ketika kita mengagung-agungkan tuhan, namun masih menyimpan kebiasaan menggunjing dan menganggap rendah terhadap sesame. Tidak dapat dimengerti olehku ketika kita menyebut asma tuhan dalam doa kita namun masih merasa diri eksklusif dan paling benar.
Lewat tulisan ini aku menyampaikan permintaan maafku pada mereka yang merasa telah tersinggung keyakinan nya atas tulisan-tulisanku. Tidak ada maksudku untuk mengganggu ruang “nyaman” itu. Namun aku juga meminta kita semua berintrospeksi diri untuk melihat jauh ke dalam diri kita dan saling menghargai perbedaan keyakinan apapun itu.
Sebagian menemukan tuhannya pada tiga perempat malam.
Sebagian lagi berjumpa tuhannya melalui ayat-ayat al qur’an..
Namun kita juga harus menerima bahwa sebagian lain menemukan ruang pertemuan itu di jalanan yang gelap, berkerikil dan berdebu. Bahkan sebagian lainnya mungkin berada dalam keadaan telanjang untuk bertemu dengan tuhan.
No comments:
Post a Comment