Friday, August 28, 2009

Berdamai dengan asal usul


Dini hari ini hatiku seperti dibasuh kelembutan, petikan kalimat Mario Teguh telah membantuku menghilangkan kegelisahan.

“Jika kita mengaku sebagai agama yang rahmatan lil alamin, maka kita harus menciptakan kedamaian, ketenangan bagi semua orang.”

“Setiap agama baru memiliki backward kepada agama sebelumnya. Agama baru dipersiapkan untuk memahami agama sebelumnya. Namun agama lama tidak dipersiapkan untuk memahami agama baru.”

Begitu kira-kira petikan kalimat Mario teguh dalam salah satu wawancaranya di TV One. Kantukku seketika hilang mendengarnya. Ya, itu maksudku.

Akhir-akhir ini hatiku gundah gulana. Kepulanganku ke tasik minggu lalu membawa kesedihan yang luar biasa. Ibuku memanggilku dan menasehatiku untuk lebih berhati-hati menulis tentang agama di notes facebook, apalagi dengan menceritakan pengalamanku yang dapat membuka aib keluarga. Pembicaraan kami diselingi air mata yang tertahan, dan kekecewaan yang tak menemukan kesepahaman. Satu hal yang bias kusampaikan pada beliau, aku tak berniat melawan tuhan, aku justru tengah menjemputnya.

Aku sedih luar biasa. Aku tak takut pada hujatan dan hinaan siapapun. Namun aku gentar pada air mata ibuku. Maka akupun memutuskan untuk tak menulis lagi di notes facebook.

Namun dini hari ini, aku tak dapat mencegah hasratku untuk menulis. Aku percaya kali ini tak kan meninggalkan air mata bagi ibuku.

Mungkin ini saatnya aku berdamai dengan asal usulku, terutama dengan ke-islamanku.

Sebagian menyebutku frustasi dengan agama. Mungkin memang benar, namun lebih tepatnya dengan orang-orangnya,bukan agamanya. Agama yang dikenalkan padaku seringkali kontradiksi dengan mereka yang membawanya. Kekecewaanku pada institusi agama, guru-guru agama bahkan mereka yang berjilbab telah memberi dampak besar dalam keyakinanku.

Lalu akupun mulai menoleh pada keyakinan-keyakinan lain. Meskipun aku terlahir sebagai seorang muslim dan ber-KTP muslim, namun aku masih ragu untuk menyebut diriku sebagai muslim. Identitas sebagai seorang muslim tentunya memiliki konsekuensi-konsekuensi tertentu. Rasanya terlalu narsis aku menyebut diriku sebagai seorang muslim hanya dengan bermodal syahadat, masih banyak kekurangan yang harus kuperbaiki untuk mengaku sebagai muslim pada diriku sendiri. Akupun menyebut diriku sebagai multidimensionalism.

Setelah melewati perdebatan panjang di dalam diriku. Aku sadar bahwa sudah saatnya aku melupakan trauma di masa lalu. Selama ini aku terlalu focus melihat trauma-trauma di masa lalu yang berhubungan dengan agama. Kekecewaanku pada mereka yang telah memperlihatkan kontradiksi dalam beragama. Ibaratnya, di tangan kanan menyebut nama tuhan, namun di tangan kiri masih menyimpan dengki, saling menghujat dan merasa diri paling benar.

Sudah saatnya aku mengalihkan fokusku pada mereka yang telah memberikan contoh lebih baik. Mereka yang tanpa embel-embel agama namun mampu mengamalkan “rahmatan lil alamin”.

Ya, aku pikir aku tak sendiri, aku percaya ada banyak orang di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Sudah saatnya kita meredifinisi ulang tentang beragama. Aku sepakat apa yang di sampaikan oleh Mario Teguh.

“Kita seringkali mempersempit agama dengan kata-kata. “

Kita menyebut tuhan sebagai allah, yesus, atau apapun itu. Ketika kita memilih kata tersebut maka kita sedang mendirikan sebuah batasan pemikiran.

Bukankah kata seringkali membuat batasan? Sudah saatnya kita menghilangkan batasan itu dan melihat melampaui penglihatan orang-orang biasa.

Aku merasa seperti diberkati dan dikuatkan saat ini, akupun menolak untuk menulis kata Allah dan memilih kata tuhan di dalam bukuku. Bukannya aku tak mengakui Allah, aku hanya mencoba merubuhkan batasan itu.

Terimakasih pak Mario teguh, aku belajar untuk berbesar hati. Seperti kata bapak,

“Orang-orang berani mendapat masalah lebih banyak.”

Hahaha,padahal aku sempat sedih dan terpuruk karena masalah yang tak kunjung henti. Akhirnya aku bias melihat kualitas lain dari diriku. Bahwa aku tengah diuji dan dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Bahwa dengan semakin banyak masalah itu artinya aku memiliki kualitas untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan menembus batas-batas di luar kesadaranku.

No comments:

Post a Comment