“Tak ada seorang pun yang kuat, yang ada adalah mereka yang memilih untuk tidak terjebak pada kelemahan mereka dan memfokuskan dirinya untuk memaksimalkan kelebihan mereka. Mereka yang dianggap kuat adalah mereka yang berhasil mengatasi emosi-emosi mereka, menerima, dan mencintai diri mereka apa adanya.”
Jangan menganggapku terlalu tinggi. Aku tak lebih dari perempuan lain, yang menangis ketika terpuruk dan diam-diam menjerit ketika merasa diabaikan. Jalanku tak mulus; berkelok dan sering kali aku tersungkur, lagi dan lagi. Sekali lelah oleh luka tak berarti luka berhenti datang, selama hidup luka akan terus datang. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk tidak melukai kita. Ya, luka dan masalah tak kan membunuh kita, hanya membuat kita semakin tegar dan belajar tentang hidup.
Dalam luka, akan ada banyak air mata dan kekecewaan. Malam yang sepi diam-diam memasungmu dalam penjara yang sunyi. Dinginnya malam menusuk jauh ke dalam hati kita. Pedih dan nyeri tiada terkira.
Luka seperti sebuah penjara yang gelap dan sunyi. Sebuah tempat di mana tak ada lubang cahaya, tak ada pintu keluar. Sekelilingmu hanya tembok-tembok tinggi yang tak bersahabat. Hati yang luka, amarah, dan rasa bersalah yang bermuara di dalam diri kita telah menjelma menjadi tembok-tembok yang kokoh. Tembok yang menghalangi kita dari melihat keindahan hidup yang sesungguhnya. Trauma membuat kita tak ingin melihat apa pun selain rasa sakit yang ada di dalamnya. Tak ada siapa pun yang dapat mengeluarkanmu dari sana. Bahkan tawaran cinta sekalipun tak mampu menyembuhkan.
Kecuali, keyakinanmu sendiri.
Hanya dengan keyakinan, tembok itu akan runtuh. Hanya dengan keyakinan, cahaya matahari akan menyusup menghangatkan kulitmu yang putih pasi. Ya, hanya dengan keyakinan, segala keindahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya akan menunggumu di luar sana.
Kita tak perlu mendengarkan nasihat siapa pun, bahkan mereka yang sebelumnya terluka seperti kita. Kita tak butuh nasihat para pemuka agama yang saleh, tak butuh buku-buku yang sok tahu tentang apa yang kita alami, termasuk buku ini. Kita juga tak butuh petuah dari para orang tua.
Yang kita butuhkan adalah mendengarkan suara hati. Hening. Dengarkan.
Saya menulis buku ini bukan untuk mengajari siapa pun tentang cara hidup, tentang bagaimana melalui luka itu. Anda lebih tahu kehidupan seperti apa yang anda inginkan, dan hanya anda yang paling tahu cara apa yang paling tepat untuk menjalani hidup anda. Saya hanya ingin perempuan dan banyak orang lain di luar sana tahu, bahwa bukan mereka satu-satunya orang yang hidup dalam penjara gelap dengan tembok yang tinggi. Bahwa mereka bukan satu-satunya orang yang terluka. Bahwa luka tak kan pernah bisa membunuh kita. Bahwa semua orang bisa memenangkan pertarungan dengan bagian gelap hidup mereka, dan keluar dari sana, berjalan tegak dengan penuh harga diri.
Saya sudah merasa diabaikan sejak kecil, merasa apa pun yang saya lakukan tak pernah benar, merasa tak cukup baik sebagai seorang anak, merasa tak cukup cantik sebagai seorang perempuan, merasa tak cukup saleh sebagai seorang manusia yang bertuhan.
Saya telah membiarkan diri saya diukur oleh nilai-nilai yang didoktrinkan pada saya oleh kitab dan aturan-aturan yang bahkan asing bagi saya. Saya menenggelamkan diri dalam anggapan negatif orang-orang di sekeliling saya, dalam penolakan dan kesedihan. Kesemuanya membuat saya tuli dan buta, hingga saya kehilangan diri sendiri, tak bisa melihat jauh ke dalam diri saya dan mendengarkan suara hati sendiri.
Kegagalan saya telah menjadi sempurna ketika akhirnya saya melakukan sesuatu yang salah menurut apa yang saya yakini. Saya sedemikian rupa mencari pembenaran atas keputusan melakukan aborsi. Dan sedemikian rupa mencari alasan untuk menyalahkan orang lain atas keputusan yang saya ambil. Saya tersesat dalam keputusasaan. Saya merasa gagal sebagai perempuan.
Tiga kali saya merasa hampir mati. Dua di antaranya adalah ketika saya melakukan aborsi, dan masa-masa yang harus saya lewati setelahnya. Kematian yang terakhir adalah ‘kematian’ yang sebenarnya. Tubuh saya utuh sempurna, senyum saya mengembang dan binar mata saya tampak seperti matahari. Tak ada satu pun luka dan nyeri di tubuh saya. Namun pada saat itu, jiwa saya cacat. Saya tak punya keinginan untuk hidup, saya tak merasakan apa pun dalam diri saya, saya telah membunuh mimpi-mimpi dan harapan. Jiwa saya mati dalam tubuh yang hidup. Tak ada yang jauh lebih menyeramkan daripada itu. Jika pada dua kasus sebelumnya, saya berpikir tentang apa yang sudah saya perbuat dan mengingat ayah dan ibu saya pada detik-detik terakhir, saat ini saya bahkan tak memikirkan apa-apa lagi. Kosong. Kematian tubuh tak lagi membuat saya takut.
Saya masih sering terheran-heran ketika melihat diri saya saat ini. Bagaimana bisa saya melalui kematian itu, dan kini mulai berani bermimpi dan hidup sehidup-hidupnya.
Ada banyak keajaiban dalam hidup yang tak kita duga sebelumnya. Keajaiban yang hanya datang dari kekuatan dan kebesaran cinta. Saat itu, saya mungkin tak punya cukup kekuatan untuk bertahan. Tapi percayalah bahwa selain luka, ada banyak cinta di luar sana yang tetap mengirimkan doa dan kekuatannya untuk kita. Doa itu yang telah menolong saya lepas dari kematian.
Dengarkan hatimu. Rahasia kebahagiaan hidup ada di sana. Ikuti kata hatimu.
Luka karena trauma bukan luka fisik yang bisa dilihat mata atau dideteksi oleh alat-alat kedokteran yang canggih. Sering kali orang-orang bahkan tak memahami bahwa luka itu ada di dalam dirinya. Sering kali orang mengabaikan luka yang ada di dalam diri mereka. Trauma itu tak kan hilang; ia akan tetap ada di sana, menjadi bagian hidup kita. Kekecewaan tetap menjadi bagian sejarah hidup kita. Pulih dari trauma bukan berarti melupakan atau mengabaikan luka. Namun justru menerima dan berdamai dengan luka. Menerima bahwa apa yang sudah terjadi tak dapat diubah, bahwa waktu tak dapat diputar kembali. Sebaliknya, pulih dari trauma adalah ketika kita mengubah reaksi dan sikap kita terhadap luka itu sendiri. Ketika anda menengok ke belakang dan teringat pada luka itu, anda bisa tersenyum dan secara sadar memahami bahwa tak ada amarah, kebencian, ketakutan, dan rasa sakit ketika mengingatnya. Anda tak bisa mengubah masa lalu, namun anda bisa mengubah sikap anda.
Saya rentan dan rapuh terhadap penilaian orang lain. Tetapi saya memilih untuk memercayai naluri dan hati saya daripada judgment orang lain. Saya hanya seorang perempuan yang pernah melakukan kesalahan dan harus membayar mahal atas perbuatan saya, namun saya memilih untuk bangkit dan bertanggung jawab, sekalipun itu tidak menyenangkan. Daripada harus terus menerus menyesalinya.
Penilaian dan judgment orang lain bisa tak tanggung-tanggung menyakitkan dan membebani. Keinginan menjadi manusia yang normal, manusia yang dianggap memiliki budi pekerti sering kali membuat saya terlihat bodoh dan tak berdaya. Saya bersedia dianggap gila tapi tetap punya kuasa atas diri sendiri daripada dianggap normal namun menjadi tak berdaya atas diri sendiri.
Bagi saya, kekuatan tidak selalu datang dari warna-warna yang cerah. Warna gelap sering kali membuat kita belajar lebih banyak kegetiran dan menghargai hidup. Emosi bukan lagi sesuatu yang perlu ditakuti, ia hanya sesuatu yang datang dari kesadaran dan kedalaman hati dalam menikmati dan merasakan hidup. Enyahkan pandangan bahwa tangis dan ketakutan adalah sesuatu yang buruk. Ketakutan adalah elemen penting dalam hidup, ketakutan mengarahkan kita memasuki ruang pengalaman baru yang menakjubkan. Saya memiliki banyak ketakutan, namun saya memilih untuk mengatasi rasa takut daripada menghindarinya. Hanya itu satu-satunya cara mengalahkan rasa takut. Saya menolak anggapan bahwa menangis menunjukkan kelemahan seseorang. Tangisan datang dari kedalaman hati. Saya tetap akan menangis di saat sedih, saya memilih dianggap cengeng dan rapuh oleh orang lain, namun mampu mengatasi emosi-emosi saya dan berhasil memahami perasaan saya sendiri. Saya memilih untuk jujur dengan perasaan saya, daripada sekadar mengharapkan penilaian baik dari orang lain.
Saya harus berterima kasih pada Oprah dan Denias. Oprah telah menjadi role model bagi seseorang seperti saya. Saya melihat perjuangan Oprah membantu banyak orang, sekaligus membantu dirinya sendiri keluar dari trauma masa kecilnya ketika ia mengalami pelecehan seksual. Cap negatif dari orang lain dan trauma-trauma dalam diri kita hanya akan membuat kita semakin kaya hati, semakin bersahaja. Kegelapan, kesunyian, kesepian, rasa rendah diri, amarah, dan kebencian tak kan pernah menang melawan satu kekuatan: keyakinan. Saya mungkin manusia yang penuh dengan luka, namun saya ingin menjadi seorang pejuang, bukan korban.
Setelah membuat pengakuan terhadap keluarga, saya mengalami pertentangan batin di dalam diri saya. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah orangtua dan melupakan mimpi-mimpi saya. Saya merasa terlambat meraih mimpi-mimpi itu. Namun, film Denias, Senandung di Atas Awan telah menggugah hati saya. Jika Denias kecil berani bermimpi melewati gunung hanya untuk sekolah, maka tak pernah ada kata terlambat untuk saya. Saya akhirnya memilih untuk merajut kembali mimpi itu dengan penuh keyakinan. Dan kini, satu demi satu mimpi itu mulai menjelma dalam kehidupan saya. Salah satunya kini berada di tangan anda.
Kesempurnaan manusia adalah ketika ia berdamai dengan ketidaksempurnaan dirinya.
( notes ini adalah bagian penutup dari buku Diary of Loss Edited By Miranda Harlan )
Jangan menganggapku terlalu tinggi. Aku tak lebih dari perempuan lain, yang menangis ketika terpuruk dan diam-diam menjerit ketika merasa diabaikan. Jalanku tak mulus; berkelok dan sering kali aku tersungkur, lagi dan lagi. Sekali lelah oleh luka tak berarti luka berhenti datang, selama hidup luka akan terus datang. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk tidak melukai kita. Ya, luka dan masalah tak kan membunuh kita, hanya membuat kita semakin tegar dan belajar tentang hidup.
Dalam luka, akan ada banyak air mata dan kekecewaan. Malam yang sepi diam-diam memasungmu dalam penjara yang sunyi. Dinginnya malam menusuk jauh ke dalam hati kita. Pedih dan nyeri tiada terkira.
Luka seperti sebuah penjara yang gelap dan sunyi. Sebuah tempat di mana tak ada lubang cahaya, tak ada pintu keluar. Sekelilingmu hanya tembok-tembok tinggi yang tak bersahabat. Hati yang luka, amarah, dan rasa bersalah yang bermuara di dalam diri kita telah menjelma menjadi tembok-tembok yang kokoh. Tembok yang menghalangi kita dari melihat keindahan hidup yang sesungguhnya. Trauma membuat kita tak ingin melihat apa pun selain rasa sakit yang ada di dalamnya. Tak ada siapa pun yang dapat mengeluarkanmu dari sana. Bahkan tawaran cinta sekalipun tak mampu menyembuhkan.
Kecuali, keyakinanmu sendiri.
Hanya dengan keyakinan, tembok itu akan runtuh. Hanya dengan keyakinan, cahaya matahari akan menyusup menghangatkan kulitmu yang putih pasi. Ya, hanya dengan keyakinan, segala keindahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya akan menunggumu di luar sana.
Kita tak perlu mendengarkan nasihat siapa pun, bahkan mereka yang sebelumnya terluka seperti kita. Kita tak butuh nasihat para pemuka agama yang saleh, tak butuh buku-buku yang sok tahu tentang apa yang kita alami, termasuk buku ini. Kita juga tak butuh petuah dari para orang tua.
Yang kita butuhkan adalah mendengarkan suara hati. Hening. Dengarkan.
Saya menulis buku ini bukan untuk mengajari siapa pun tentang cara hidup, tentang bagaimana melalui luka itu. Anda lebih tahu kehidupan seperti apa yang anda inginkan, dan hanya anda yang paling tahu cara apa yang paling tepat untuk menjalani hidup anda. Saya hanya ingin perempuan dan banyak orang lain di luar sana tahu, bahwa bukan mereka satu-satunya orang yang hidup dalam penjara gelap dengan tembok yang tinggi. Bahwa mereka bukan satu-satunya orang yang terluka. Bahwa luka tak kan pernah bisa membunuh kita. Bahwa semua orang bisa memenangkan pertarungan dengan bagian gelap hidup mereka, dan keluar dari sana, berjalan tegak dengan penuh harga diri.
Saya sudah merasa diabaikan sejak kecil, merasa apa pun yang saya lakukan tak pernah benar, merasa tak cukup baik sebagai seorang anak, merasa tak cukup cantik sebagai seorang perempuan, merasa tak cukup saleh sebagai seorang manusia yang bertuhan.
Saya telah membiarkan diri saya diukur oleh nilai-nilai yang didoktrinkan pada saya oleh kitab dan aturan-aturan yang bahkan asing bagi saya. Saya menenggelamkan diri dalam anggapan negatif orang-orang di sekeliling saya, dalam penolakan dan kesedihan. Kesemuanya membuat saya tuli dan buta, hingga saya kehilangan diri sendiri, tak bisa melihat jauh ke dalam diri saya dan mendengarkan suara hati sendiri.
Kegagalan saya telah menjadi sempurna ketika akhirnya saya melakukan sesuatu yang salah menurut apa yang saya yakini. Saya sedemikian rupa mencari pembenaran atas keputusan melakukan aborsi. Dan sedemikian rupa mencari alasan untuk menyalahkan orang lain atas keputusan yang saya ambil. Saya tersesat dalam keputusasaan. Saya merasa gagal sebagai perempuan.
Tiga kali saya merasa hampir mati. Dua di antaranya adalah ketika saya melakukan aborsi, dan masa-masa yang harus saya lewati setelahnya. Kematian yang terakhir adalah ‘kematian’ yang sebenarnya. Tubuh saya utuh sempurna, senyum saya mengembang dan binar mata saya tampak seperti matahari. Tak ada satu pun luka dan nyeri di tubuh saya. Namun pada saat itu, jiwa saya cacat. Saya tak punya keinginan untuk hidup, saya tak merasakan apa pun dalam diri saya, saya telah membunuh mimpi-mimpi dan harapan. Jiwa saya mati dalam tubuh yang hidup. Tak ada yang jauh lebih menyeramkan daripada itu. Jika pada dua kasus sebelumnya, saya berpikir tentang apa yang sudah saya perbuat dan mengingat ayah dan ibu saya pada detik-detik terakhir, saat ini saya bahkan tak memikirkan apa-apa lagi. Kosong. Kematian tubuh tak lagi membuat saya takut.
Saya masih sering terheran-heran ketika melihat diri saya saat ini. Bagaimana bisa saya melalui kematian itu, dan kini mulai berani bermimpi dan hidup sehidup-hidupnya.
Ada banyak keajaiban dalam hidup yang tak kita duga sebelumnya. Keajaiban yang hanya datang dari kekuatan dan kebesaran cinta. Saat itu, saya mungkin tak punya cukup kekuatan untuk bertahan. Tapi percayalah bahwa selain luka, ada banyak cinta di luar sana yang tetap mengirimkan doa dan kekuatannya untuk kita. Doa itu yang telah menolong saya lepas dari kematian.
Dengarkan hatimu. Rahasia kebahagiaan hidup ada di sana. Ikuti kata hatimu.
Luka karena trauma bukan luka fisik yang bisa dilihat mata atau dideteksi oleh alat-alat kedokteran yang canggih. Sering kali orang-orang bahkan tak memahami bahwa luka itu ada di dalam dirinya. Sering kali orang mengabaikan luka yang ada di dalam diri mereka. Trauma itu tak kan hilang; ia akan tetap ada di sana, menjadi bagian hidup kita. Kekecewaan tetap menjadi bagian sejarah hidup kita. Pulih dari trauma bukan berarti melupakan atau mengabaikan luka. Namun justru menerima dan berdamai dengan luka. Menerima bahwa apa yang sudah terjadi tak dapat diubah, bahwa waktu tak dapat diputar kembali. Sebaliknya, pulih dari trauma adalah ketika kita mengubah reaksi dan sikap kita terhadap luka itu sendiri. Ketika anda menengok ke belakang dan teringat pada luka itu, anda bisa tersenyum dan secara sadar memahami bahwa tak ada amarah, kebencian, ketakutan, dan rasa sakit ketika mengingatnya. Anda tak bisa mengubah masa lalu, namun anda bisa mengubah sikap anda.
Saya rentan dan rapuh terhadap penilaian orang lain. Tetapi saya memilih untuk memercayai naluri dan hati saya daripada judgment orang lain. Saya hanya seorang perempuan yang pernah melakukan kesalahan dan harus membayar mahal atas perbuatan saya, namun saya memilih untuk bangkit dan bertanggung jawab, sekalipun itu tidak menyenangkan. Daripada harus terus menerus menyesalinya.
Penilaian dan judgment orang lain bisa tak tanggung-tanggung menyakitkan dan membebani. Keinginan menjadi manusia yang normal, manusia yang dianggap memiliki budi pekerti sering kali membuat saya terlihat bodoh dan tak berdaya. Saya bersedia dianggap gila tapi tetap punya kuasa atas diri sendiri daripada dianggap normal namun menjadi tak berdaya atas diri sendiri.
Bagi saya, kekuatan tidak selalu datang dari warna-warna yang cerah. Warna gelap sering kali membuat kita belajar lebih banyak kegetiran dan menghargai hidup. Emosi bukan lagi sesuatu yang perlu ditakuti, ia hanya sesuatu yang datang dari kesadaran dan kedalaman hati dalam menikmati dan merasakan hidup. Enyahkan pandangan bahwa tangis dan ketakutan adalah sesuatu yang buruk. Ketakutan adalah elemen penting dalam hidup, ketakutan mengarahkan kita memasuki ruang pengalaman baru yang menakjubkan. Saya memiliki banyak ketakutan, namun saya memilih untuk mengatasi rasa takut daripada menghindarinya. Hanya itu satu-satunya cara mengalahkan rasa takut. Saya menolak anggapan bahwa menangis menunjukkan kelemahan seseorang. Tangisan datang dari kedalaman hati. Saya tetap akan menangis di saat sedih, saya memilih dianggap cengeng dan rapuh oleh orang lain, namun mampu mengatasi emosi-emosi saya dan berhasil memahami perasaan saya sendiri. Saya memilih untuk jujur dengan perasaan saya, daripada sekadar mengharapkan penilaian baik dari orang lain.
Saya harus berterima kasih pada Oprah dan Denias. Oprah telah menjadi role model bagi seseorang seperti saya. Saya melihat perjuangan Oprah membantu banyak orang, sekaligus membantu dirinya sendiri keluar dari trauma masa kecilnya ketika ia mengalami pelecehan seksual. Cap negatif dari orang lain dan trauma-trauma dalam diri kita hanya akan membuat kita semakin kaya hati, semakin bersahaja. Kegelapan, kesunyian, kesepian, rasa rendah diri, amarah, dan kebencian tak kan pernah menang melawan satu kekuatan: keyakinan. Saya mungkin manusia yang penuh dengan luka, namun saya ingin menjadi seorang pejuang, bukan korban.
Setelah membuat pengakuan terhadap keluarga, saya mengalami pertentangan batin di dalam diri saya. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah orangtua dan melupakan mimpi-mimpi saya. Saya merasa terlambat meraih mimpi-mimpi itu. Namun, film Denias, Senandung di Atas Awan telah menggugah hati saya. Jika Denias kecil berani bermimpi melewati gunung hanya untuk sekolah, maka tak pernah ada kata terlambat untuk saya. Saya akhirnya memilih untuk merajut kembali mimpi itu dengan penuh keyakinan. Dan kini, satu demi satu mimpi itu mulai menjelma dalam kehidupan saya. Salah satunya kini berada di tangan anda.
Kesempurnaan manusia adalah ketika ia berdamai dengan ketidaksempurnaan dirinya.
( notes ini adalah bagian penutup dari buku Diary of Loss Edited By Miranda Harlan )
No comments:
Post a Comment