Rabu, 16.07 WIB
“Musibah dan Kematian membuat kita lebih menghargai kehidupan dan orang-orang yang kita kasihi”
Saat itu aku tengah mandi di kosku, debi yang sedang duduk di teras tiba-tiba mengingatkanku bahwa sedang terjadi gempa. Aku bisa merasakan kamar mandi bergoyang, apalagi kos ku adalah sebuah rumah kayu dan aku berada di lantai dua. Aku bergegas keluar kamar mandi. Dalam sekejap aku berfikir apa yang harus kuselamatkan : diriku dan laptop. Meja yang berada di terasku tampak bergoyang. Aku dan debi hanya menatapnya. gempa berhenti.
“Oh,..” kataku dalam hati. Aku begitu santai.
Hera tiba-tiba menelpon dan memberitahuku bahwa pusat gempa berada di tasik dan berpotensi tsunami. Keadaan berubah menjadi panik. Aku berusaha menghubungi ibuku namun tidak bisa. Aku semakin panik. Aku dan debi bergegas menuju warung.
Belum juga motorku melaju, ibu dan bapak kosku berlari panik ke arahku dan memberitahuku berita yang sama. Aku semakin panik.
Setengah gemetar aku melaju dengan motorku, tidak terfikir lagi jika aku harus belanja untuk kebutuhan warung. Aku hanya ingin segera sampai di warung, melihat berita di TV dan menghubungi keluargaku. Aku tidak bisa berfikir.
****
Akhirnya aku bisa menghubungi mereka. Alhamdulilah keluargaku baik-baik saja. Hanya rumah yang retak-retak dan kaca pecah-pecah. Aku bisa merasakan suara ibuku yang bergetar. Rahma adikku meng-update statusnya di facebook : boro-boro inget harta, yang dia ingat cuma anaknya. Begitu juga ibuku yang ketika kejadian langsung ingat nenekku dan segera mengeceknya yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Aku hanya bisa diam dan gemetar duduk di depan TV. Aku sudah lega bahwa keluargaku baik-baik saja, namun aku juga mengkhawatirkan keluargaku yang ada di pangandaran, dan beberapa pegawai ibuku yang berada di daerah pantai selatan tasik. Semoga mereka baik-baik saja, do’aku.
***
Kejadian ini membuatku teringat dengan salah satu sms temanku beberapa hari yang lalu, ia masih berduka karena ayahnya baru saja meninggal,
“Mbak, bagaimana mengatasi rindumu ketika ayahmu benar-benar pergi?”
“Tidak perlu di atasi, tapi dinikmati. Karena rindu itu bukan masalah tapi berkah. Ingatlah kenangan-kenangan manis yang kalian lewati bersama, syukuri lalu kirimkan doa untuknya.” Kurang lebih begitu balasanku.
Kematian ayahnya mengingatkanku pada kepergianku ayahku 7 tahun yang lalu. Berduka kehilangan orang yang kita cintai seringkali membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Aku butuh waktu hampir 5 tahun untuk bisa betul-betul menerima kepergian ayahku. Kupikir aku sudah mengikhlaskan dari awal, namun secara tidak sadar sosok ayahku selalu membayang-bayangi kehidupanku terutama kehidupan dengan pasanganku. Secara tidak sadar aku selalu mencoba mengganti rasa kehilangan itu pada sosok pasanganku. Aku bahkan sempat tertarik dengan lelaki setengah baya hanya karena ketika bersama mereka aku bisa merasakan kehadiran sosok ayahku. Aku mencari kasih sayang dan perlindungan itu dari pasanganku. Tentu saja bukan hal yang baik. Pada akhirnya aku harus bisa menerima bahwa aku tidak bisa membandingkan lelaki manapun dengan ayahku, dan sosok ayahku tidak bisa digantikan oleh siapapun. Ayahku dan pasanganku akan memiliki posisi yang berbeda dalam hidupku, dan itu harus dihargai.
Apa yang sebenarnya membuat kita begitu berduka ketika kehilangan seseorang yang kita kasihi?
Ketika kita kehilangan barang, missal laptop. Kita tahu bahwa kita bisa mendapatkan laptop yang lebih baik suatu saat nanti. Itu bisa digantikan. Namun ketika seseorang yang kita kasihi meninggal, kita tahu bahwa ia tak bisa kembali, waktu tak dapat di putar kembali.
Sebetulnya, kita berduka bukan karena kepergiannya, namun kita berduka karena kita tak memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kita padanya. Kita berduka karena kita mengasihani diri kita yang telah lalai pada orang yang kita kasihi.
Kematian itu pasti terjadi. Itu tidak dapat dihindari.
Kita tahu bahwa suatu saat orangtua, saudara, anak, sahabat, tetangga, bahkan kucing kita pasti mati. Kita tidak dapat menghindari itu. Namun seringkali kita berfikir bahwa kematian akan datang di waktu yang tepat. Itu salah kita.
Temanku telah merawat ayahnya, namun ayahnya justru meninggal ketika ia tidak di sampingnya. Begitu juga aku yang menunggu ayahku selama 10 hari di rumah sakit, sekalinya aku pulang justru ia meninggal. Itu membuatku sedih luar biasa.
Seringkali kita menyalahkan diri kita atas kepergian seseorang.
Sebetulnya ini adalah sebuah refleksi yang luar biasa dalam, kita menyalahkan diri kita karena sadar bahwa kita tidak memiliki waktu cukup panjang untuk dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi.
Ketika mereka dalam keadaan sehat seringkali kita lalai pada mereka, kita pikir toh mereka baik-baik saja dan dapat menjaga diri mereka sendiri. Lalu kita pun mencurahkan fokus pada diri kita sendiri, pekerjaan dan kehidupan cinta kita sendiri, we are the center of the world. Namun ketika terjadi musibah dan kematian, kita hanya bisa menyesal karena kita tidak cukup waktu untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kita pada mereka.
Itu yang terjadi padaku ketika mendengar kabar tentang gempa. Aku tahu kematian pasti terjadi, namun aku kemudian teringat dengan kelalaianku selama ini. Betapa aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri dan pekerjaanku. Seringkali aku lalai untuk sekedar meng-sms mereka untuk menanyakan kabar, hanya untuk sekedar menikmati waktu senggang dengan tertawa santai. Aku kecewa pada diriku sendiri.
Aku tidak punya kata untuk mengekspresikan perasaanku pada mereka, aku hanya bisa mengirimkan sms kepada mereka.
“I love you full. Doa inna dikirim.”
Bayangkan berapa banyak waktu yang kita habiskan terjebak dalam macet. Berapa banyak pulsa yang kita habiskan untuk bergosip di telpon. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk berlama-lama main poker online. Atau bagi para aktivis, berapa banyak tenaga dan waktu yang kita curahkan untuk advokasi, mengikuti pelatihan, rapat, membuat laporan dan memikirkan bagaimana caranya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik buat semua orang.
Bandingkan dengan waktu dan tenaga yang kita berikan untuk orang-orang terdekat yang kita kasihi…
Semoga notes ini bisa menjadi refleksi bagi banyak orang untuk meluangkan waktu mereka untuk orang-orang yang mereka kasihi. Lebih mensyukuri kehidupan dan tidak lupa untuk menyampaikan cinta mereka pada orang-orang yang mereka kasihi.
Paulo Coelho pernah menulis, bahwa orang-orang yang kita cintai berhak untuk tahu bahwa mereka dicintai. Sudahkah kita memberikan hak mereka?
Kapan terakhir kali anda menyampaikan rasa cinta anda pada mereka? Menyampaikan rasa rindu dan memeluk mereka dengan hangat? Kapan?
Terimakasih untuk teman-teman yang menanyakan kabar keluargaku di tasik, sms atau telepon kalian membuat aku merasa dikasihi dan dicintai. Terimakasih untuk debi dan andi yang ada di sampingku menenangkanku. Aku bersyukur memiliki teman dan sahabat seperti kalian. God bless you all.
“Musibah dan Kematian membuat kita lebih menghargai kehidupan dan orang-orang yang kita kasihi”
Saat itu aku tengah mandi di kosku, debi yang sedang duduk di teras tiba-tiba mengingatkanku bahwa sedang terjadi gempa. Aku bisa merasakan kamar mandi bergoyang, apalagi kos ku adalah sebuah rumah kayu dan aku berada di lantai dua. Aku bergegas keluar kamar mandi. Dalam sekejap aku berfikir apa yang harus kuselamatkan : diriku dan laptop. Meja yang berada di terasku tampak bergoyang. Aku dan debi hanya menatapnya. gempa berhenti.
“Oh,..” kataku dalam hati. Aku begitu santai.
Hera tiba-tiba menelpon dan memberitahuku bahwa pusat gempa berada di tasik dan berpotensi tsunami. Keadaan berubah menjadi panik. Aku berusaha menghubungi ibuku namun tidak bisa. Aku semakin panik. Aku dan debi bergegas menuju warung.
Belum juga motorku melaju, ibu dan bapak kosku berlari panik ke arahku dan memberitahuku berita yang sama. Aku semakin panik.
Setengah gemetar aku melaju dengan motorku, tidak terfikir lagi jika aku harus belanja untuk kebutuhan warung. Aku hanya ingin segera sampai di warung, melihat berita di TV dan menghubungi keluargaku. Aku tidak bisa berfikir.
****
Akhirnya aku bisa menghubungi mereka. Alhamdulilah keluargaku baik-baik saja. Hanya rumah yang retak-retak dan kaca pecah-pecah. Aku bisa merasakan suara ibuku yang bergetar. Rahma adikku meng-update statusnya di facebook : boro-boro inget harta, yang dia ingat cuma anaknya. Begitu juga ibuku yang ketika kejadian langsung ingat nenekku dan segera mengeceknya yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Aku hanya bisa diam dan gemetar duduk di depan TV. Aku sudah lega bahwa keluargaku baik-baik saja, namun aku juga mengkhawatirkan keluargaku yang ada di pangandaran, dan beberapa pegawai ibuku yang berada di daerah pantai selatan tasik. Semoga mereka baik-baik saja, do’aku.
***
Kejadian ini membuatku teringat dengan salah satu sms temanku beberapa hari yang lalu, ia masih berduka karena ayahnya baru saja meninggal,
“Mbak, bagaimana mengatasi rindumu ketika ayahmu benar-benar pergi?”
“Tidak perlu di atasi, tapi dinikmati. Karena rindu itu bukan masalah tapi berkah. Ingatlah kenangan-kenangan manis yang kalian lewati bersama, syukuri lalu kirimkan doa untuknya.” Kurang lebih begitu balasanku.
Kematian ayahnya mengingatkanku pada kepergianku ayahku 7 tahun yang lalu. Berduka kehilangan orang yang kita cintai seringkali membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Aku butuh waktu hampir 5 tahun untuk bisa betul-betul menerima kepergian ayahku. Kupikir aku sudah mengikhlaskan dari awal, namun secara tidak sadar sosok ayahku selalu membayang-bayangi kehidupanku terutama kehidupan dengan pasanganku. Secara tidak sadar aku selalu mencoba mengganti rasa kehilangan itu pada sosok pasanganku. Aku bahkan sempat tertarik dengan lelaki setengah baya hanya karena ketika bersama mereka aku bisa merasakan kehadiran sosok ayahku. Aku mencari kasih sayang dan perlindungan itu dari pasanganku. Tentu saja bukan hal yang baik. Pada akhirnya aku harus bisa menerima bahwa aku tidak bisa membandingkan lelaki manapun dengan ayahku, dan sosok ayahku tidak bisa digantikan oleh siapapun. Ayahku dan pasanganku akan memiliki posisi yang berbeda dalam hidupku, dan itu harus dihargai.
Apa yang sebenarnya membuat kita begitu berduka ketika kehilangan seseorang yang kita kasihi?
Ketika kita kehilangan barang, missal laptop. Kita tahu bahwa kita bisa mendapatkan laptop yang lebih baik suatu saat nanti. Itu bisa digantikan. Namun ketika seseorang yang kita kasihi meninggal, kita tahu bahwa ia tak bisa kembali, waktu tak dapat di putar kembali.
Sebetulnya, kita berduka bukan karena kepergiannya, namun kita berduka karena kita tak memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kita padanya. Kita berduka karena kita mengasihani diri kita yang telah lalai pada orang yang kita kasihi.
Kematian itu pasti terjadi. Itu tidak dapat dihindari.
Kita tahu bahwa suatu saat orangtua, saudara, anak, sahabat, tetangga, bahkan kucing kita pasti mati. Kita tidak dapat menghindari itu. Namun seringkali kita berfikir bahwa kematian akan datang di waktu yang tepat. Itu salah kita.
Temanku telah merawat ayahnya, namun ayahnya justru meninggal ketika ia tidak di sampingnya. Begitu juga aku yang menunggu ayahku selama 10 hari di rumah sakit, sekalinya aku pulang justru ia meninggal. Itu membuatku sedih luar biasa.
Seringkali kita menyalahkan diri kita atas kepergian seseorang.
Sebetulnya ini adalah sebuah refleksi yang luar biasa dalam, kita menyalahkan diri kita karena sadar bahwa kita tidak memiliki waktu cukup panjang untuk dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi.
Ketika mereka dalam keadaan sehat seringkali kita lalai pada mereka, kita pikir toh mereka baik-baik saja dan dapat menjaga diri mereka sendiri. Lalu kita pun mencurahkan fokus pada diri kita sendiri, pekerjaan dan kehidupan cinta kita sendiri, we are the center of the world. Namun ketika terjadi musibah dan kematian, kita hanya bisa menyesal karena kita tidak cukup waktu untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kita pada mereka.
Itu yang terjadi padaku ketika mendengar kabar tentang gempa. Aku tahu kematian pasti terjadi, namun aku kemudian teringat dengan kelalaianku selama ini. Betapa aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri dan pekerjaanku. Seringkali aku lalai untuk sekedar meng-sms mereka untuk menanyakan kabar, hanya untuk sekedar menikmati waktu senggang dengan tertawa santai. Aku kecewa pada diriku sendiri.
Aku tidak punya kata untuk mengekspresikan perasaanku pada mereka, aku hanya bisa mengirimkan sms kepada mereka.
“I love you full. Doa inna dikirim.”
Bayangkan berapa banyak waktu yang kita habiskan terjebak dalam macet. Berapa banyak pulsa yang kita habiskan untuk bergosip di telpon. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk berlama-lama main poker online. Atau bagi para aktivis, berapa banyak tenaga dan waktu yang kita curahkan untuk advokasi, mengikuti pelatihan, rapat, membuat laporan dan memikirkan bagaimana caranya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik buat semua orang.
Bandingkan dengan waktu dan tenaga yang kita berikan untuk orang-orang terdekat yang kita kasihi…
Semoga notes ini bisa menjadi refleksi bagi banyak orang untuk meluangkan waktu mereka untuk orang-orang yang mereka kasihi. Lebih mensyukuri kehidupan dan tidak lupa untuk menyampaikan cinta mereka pada orang-orang yang mereka kasihi.
Paulo Coelho pernah menulis, bahwa orang-orang yang kita cintai berhak untuk tahu bahwa mereka dicintai. Sudahkah kita memberikan hak mereka?
Kapan terakhir kali anda menyampaikan rasa cinta anda pada mereka? Menyampaikan rasa rindu dan memeluk mereka dengan hangat? Kapan?
Terimakasih untuk teman-teman yang menanyakan kabar keluargaku di tasik, sms atau telepon kalian membuat aku merasa dikasihi dan dicintai. Terimakasih untuk debi dan andi yang ada di sampingku menenangkanku. Aku bersyukur memiliki teman dan sahabat seperti kalian. God bless you all.
No comments:
Post a Comment