“ Tolong, kalau mau pakai halaman orang, permisi baik-baik “
Inna
Kalimat yang tertera di kertas itulah yang kemudian dijadikan barang bukti oleh warga kampung untuk menuduhku telah mempermalukan warga kampung. Sekitar 20-an warga kampung mendatangi warung sekaligus rumah tempat tinggalku. Andi yang saat itu berada di warung akhirnya harus mencoba menenangkan diri menghadapi berbagai omongan pedas dan ancaman dari warga. Sebagian mulai mengompor-ngompori : “di obong aja, di obong aja!”
Beberapa perempuan dan ibu-ibu turut meramaikan suasana dengan ikut-ikutan memanas-manasi untuk merusak warungku.
“Apa maksudmu menulis itu” Tanya andi padaku ketika ia menyusulku ke rumah zul, yang berjarak beberapa meter dari warung tempatku tinggal.
“Aku emosi” jawabku
“Kamu sadar konsekuensinya apa?” tanyanya lagi
“Ya, konsekuensi terburuk adalah aku di depak dari kampung ini.” Jawabku lagi.
Andi pun menceritakan kedatangan warga kampung yang marah-marah dan memintaku untuk datang menemui mereka sore ini. Ku iyakan.
***
Berawal dari acara sebuah perkawinan yang diadakan tetangga depan warungku. Sejak seminggu yang lalu sudah dilakukan rembukan warga mengenai acara kawinan dan pementasan wayang di rumahnya, tepat di depan warungku. Semua yang hadir pada acara rembukan itu adalah lelaki, para perempuan sibuk menyiapkan minuman. Aku tidak diundang pada acara rembukan tersebut. Namun selintas aku bisa tahu isinya dari pengeras suara, apalagi acara tesebut dilakukan tepat di sebrang warungku.
Beberapa hari kemudian tenda pun mulai di pasang. Selama 3 malam berturut-turut musik dangdut dan campur sari diputar sepanjang alam. Jujur saja aku terganggu, namun aku masih bisa memaklumi, toh pesta ini hanya terjadi sekali dalam setahun.
Puncaknya terjadi di hari sabtu malam, ketika aku baru tiba pulang kulihat meja-meja prasmanan sudah berada tepat di depan pintu warungku. Aku kesal, kenapa tidak ada yang meminta ijin padaku terlebih dahulu. aku pun segera pergi meninggalkan warung.
Ketika aku kembali, andi menyampaikan padaku bahwa bapak pemilik hajatan baru saja datang dan memintaku untuk menutup warung besok karena akan ada hajatan. Dia tidak meminta ijin memakai halamanku jika saja andi tidak menanyakan apakah ia akan memakai halaman depan atau tidak. Aku kembali emosi. Seharusnya ia membicarakan hal ini sebelum meja-meja itu ditaruh di depan pintu warungku. Malam itu aku tertidur dengan penuh amarah.
Esok harinya ketika aku membuka pintu depan warung, hanya beberapa sentimeter dari pintu adalah meja-meja prasmanan. Aku tidak dapat keluar dari pintu depan. Lalu kutanya bagaimana caranya mengeluarkan motor dari warung dan salah satu dari mereka memintaku mengeluarkan motor dari pintu belakang yang jelas-jelas tidak mungkin karena itu adalah tangga.
***
Aku terduduk menangis di dapurku. Sakit hatiku rasanya. Aku merasa di abaikan, merasa tidak di hargai. Aku tahu bahwa aku adalah pendatang di kampung ini, namun aku juga ingin merasa di akui sebagai warga kampung di sini.
Aku mulai berfikir, apa kiranya salahku pada warga kampung sini hingga aku merasa di abaikan. Aku merasa semuanya baik-baik saja, dalam 5 bulan terakhir semenjak aku di sini, aku merasa hubungan ku dengan warga kampung baik-baik saja. Kami saling tesenyum, bertegur sapa, bahkan saling mengirimkan makanan. Aku terkejut kejadian ini terjadi. Jangankan meminta ijin memakai halamanku, aku pun bahkan tidak menerima undangan pernikahan.seakan-akan aku tidak ada di kampung ini. Ah, mungkin aku sensi saja.
Selama 9 tahun di jogja aku belum pernah mengalami peristiwa seperti ini. Aku sangat berhati-hati dan menjaga hubunganku dengan tetangga. Aku sebisa mungkin mengenal tetanggaku dan menghargai mereka. Namun mengapa kali ini ak merasa amat disepelekan?
Lalu datanglah fikiran buruk itu dalam pikiranku : jangan-jangan karena aku pendatang, makanya mereka memperlakukanku seperti ini.
Ah, bodohnya aku terfikir itu. Akhirnya aku pun emosi.
Kuambil spidol dan kertas, lalu kutulislah kalimat itu dan kutempelkan tepat di luar pintu warungku.
Masalahpun di mulai.
***
Sore itu dengan langkah yang berat aku berjalan menuju kerumunan, mencari si bapak pemilik hajatan. Semua mata memandangku seakan aku adalah penjahat.
Dalam pembicaraan itu kusampaikan permintaan maafku atas tulisan itu, kubilang bahwa aku sangat emosi. Aku juga menyampaikan alasanku melakukan itu karena aku merasa diabaikan, tidak di hargai. Aku tidak keberatan untuk menutup warungku, yang kuinginkan adalah ia meminta ijin terlebih dahulu padaku. Kubilang bahwa di tempat asalku, orang akan meminta ijin telebih dulu untuk memakai properti orang lain. Kubilang juga bahwa aku ingin menjadi bagian dari warga kampung ini, dan kejadian ini membuatku merasa tidak “di anggap” sebagai bagian dari warga kampung ini. Kusampaikan bahwa jangan-jangan aku tidak di anggap karena aku pendatang di kampung ini. Ia berkilah bahwa warga di sini sangat menghargai pendatang meskipun itu kontras dengan yang ia lakukan.
Selalu, yang muda akan selalu salah karena tidak berfikir panjang. Dan yang tua selalu benar.
Pertemuan itu akhirnya menjadi moment si muda meminta maaf atas kesalahannya, dan yang tua memaafkan dan memberi wejangan pada yang muda.
Tidak ada satu kalimatpun yang menyatakan bahwa ia mengakui apa yang di perbuatnya adalah salah. Justru dikait-kaitkan pada persoalan ras. Dapat dipahami mengapa perilakuku begini, karena aku bukan orang jawa. Ia membandingkanku dengan pemilik laundry sebelah yang orang jawa, yang tanpa dimintai ijin langsung menutup tokonya selama 3 hari agar tidak mengganggu acara kawinan. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku tidak tinggal di warungku. Pemilik laundry itu hanya datang di siang hari untuk bekerja. Sedangkan aku, warungku adalah tempat tinggalku, kantor ku juga.
Dalam pertemuan itu aku memilih lebih banyak diam. Karena aku sadar ia tidak punya keinginan untuk mendengarkan. Alih-alih membuat ia mengerti, pada akhirnya perselisihan akan menjadi lebih sengit.
Di akhir pertemuan itu, dengan tegas ia menyatakan bahwa masalahku dengannya sudah selesai. Aku di maafkan atas perilakuku. Namun ia menambahkan bahwa ia tidak dapat menjamin masalahku dengan warga setempat selesai. Secara tidak langsung ia mengancamku dengan halus, bahwa aku harus lebih berhati-hati dengan barang-barangku karena warga setempat terutama anak muda yang suka minum-minum tidak mudah di kendalikan. Aku juga harus siap menghadapi konsekuensi terburuk dari warga dan pemilik ruko yang kusewa.
Satu hal yang ia minta padaku adalah agar aku berfikir panjang sebelum bertindak. Warga sini baik jika di-baiki, namun bisa lebih kasar jika di-kasari. Jika bukan karena warga sini, warungku dan motor-motor di depan itu belum tentu aman. Sikapku pada warga kampunglah yang akan menentukan keamananku selama di sini.
Kutarik nafas dalam-dalam. Kukuatkan hatiku menghadapi ancaman lembut ini. Aku tersenyum lalu berpamitan pulang dengan di iringi tatapan warga yang penuh amarah.
***
Aku duduk di dapurku sambil menangis. Andi mencoba menenangkanku.
“ Aku sedih “ kataku
“ Aku sedih melihat mereka, saudara-saudaraku yang merasa benar dan tidak menyadari bahwa mereka telah menyakiti orang lain”
“ Aku juga sedih karena harus mengalah dan bersikap seakan-akan mereka benar”
“Juga sedih melihat mereka yang terprovokasi untuk bersikap anarkis tanpa mereka tahu apa masalahnya”
Sore itu menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagiku. Aku mulai memahami mengapa bisa tejadi perselisihan di sampit, di tempat-tempat lain antara penduduk setempat dan warga pendatang.
“ Semua orang bilang aku harus sabar. Sabar itu setelah kita berusaha. Nah, sekarang…ketika aku sudah menyuarakan pendapatku dan hasilnya tidak seperti yang kuharapakan, baru saatnya kita bersabar” kataku pada andi
Kesedihan ini luar biasa, namun paling tidak aku telah menyampaikan pendapatku. Paling tidak aku telah menyampaikan pada mereka bahwa perlakuan mereka itu salah dan menyakiti orang lain. Meskipun mereka tidak memahami itu. Paling tidak aku telah memperjuangkan hak ku, walaupun itu dibayar dengan air mata, sinisme dan kebencian.
Semoga ini tidak terjadi pada orang lain, pada siapapun pendatang di manapun.
***
Ancaman halus sudah di depan mata. Gosip sudah mulai tersebar ke penjuru kampung. Mata-mata mulai melirik pedas padaku. Aku hanya meminta tuhan untuk melindungiku. Mereka boleh merusak dan mengambil apapun yang kumiliki, namun tak ada yang dapat mengambil kemerdekaanku dari rasa takut.
No comments:
Post a Comment