Wednesday, July 29, 2009

Tak gentar walau gemetar

2 hari setelah peristiwa perselisihan dengan warga kampung, pagi ini kudengar kabar bahwa suami dari salah satu pegawai laundry sebelah warungku meninggal dunia. Kuputuskan aku akan pergi melayat.

“Kamu siap jadi selebritis?” Tanya andi.
“Ya. “ jawabku

Aku sudah siap menghadapi warga kampung. Kamipun berangkat melayat.

“Wuiih..itu preman-preman yang kemarin” kata andi.

Kusempatkan mataku melirik kea rah mereka yang tengah berdiri di ujung jalan masuk.

“ Dan janganlah kamu memusuhi suatu kaum. Bersikap adil lah terhadap mereka”

Kudengar penggalan tafsiran ayat al qur’an itu melalui pengeras suara yang mengiringi langkahku menuju rumah duka. Tampak kerumunan orang kampung di depanku, sebagian duduk di lapangan, sebagian di dekat kuburan dan sebagian lagi duduk di depan rumah. Langkah kakiku rasanya berat, kepalaku ingin tertunduk, tapi aku harus berjalan tegak. Lirih terdengar beberapa orang membicarakan diriku,

“itu tuh mbak nya..”
“mbak nya tuh..”
“ iya, yang itu…”

Fiuh, pura-pura saja aku tuli, hanya dalam waktu 2 hari aku sudah jadi selebritis di kampung ini. Harus kuakui meskipun tak gentar, tapi aku gemetar. Namun kutahu bahwa di dalam hatiku tak ada sedikitpun niat melawan warga kampung, tak ada sedikitpun kebencianku pada mereka. Kukirim afirmasi pada otakku bahwa semuanya kan baik-baik saja, bahwa beberapa saat dari sekarang aku akan duduk bersama mereka menikmati secangkir kopi.

Seakan tak pernah terjadi apa-apa, aku melenggang di depan mereka, bersalaman dengan ibu-ibu di dalam rumah dan menyampaikan belasungkawa pada yang tengah berduka. Aku duduk beberapa waktu bersama mereka. Bagiku semuanya baik-baik saja meskipun tampak beberapa orang merasa kikuk dengan kehadiranku.

Muncul di depan mereka bukan hal yang mudah, bagi sebagian orang mungkin cukup mengejutkan karena di kira aku akan takut menghadapi warga kampung, atau mungkin sebagian lagi akan mengira aku tak tahu malu berani muncul setelah peristiwa kemarin. Kuserahkan semua prasangka itu pada mereka. Cukuplah aku mendengar suara di dalam hatiku sendiri.

Seperti ayat yang kudengar dari dari pengeras suara :

“Dan janganlah kamu membenci suatu kaum…”

No comments:

Post a Comment