( This is a comment on a birthday notes by Grace Susetyo )
Happy birthday at first. Again, I forgot the date. Hopefully to be there with you to celebrate the day. Thousand hugs for you :)
well grace, aku akan menulis dalam bahasa indonesia saja sembari diam-diam menaruh cemburu pada kefasihanmu menulis dalam bahasa inggris yang mengalir dan indah ( as always )
Sejak kecil aku tahu bahwa tempatku bukan berada di jalan yang sama yang ditempuh saudara-saudaraku. Aku melihat diriku akan berada somewhere di afrika menjadi salah satu relawan PBB. Atau mungkin di Afghanistan menjadi salah satu dokter di sebuah kamp terpencil. Bahkan terfikir olehku bahwa pada umurku yang lebih dari seperempat abad ini aku mungkin sedang berada di pedalaman papua dan jatuh cinta pada salah satu kepala suku yang ada di sana lalu mengajar baca tulis bagi anak-anak di suku pedalaman. Aku juga melihat diriku di umur 27 tengah sibuk menyelesaikan studi S2, mungkin dalam bidang politik atau budaya.
Hidup berkata lain, satu kesalahan telah mengobrak abrik impianku. Aborsi. Hingga kini aku masih membayar apa yang telah kuperbuat, terutama mengembalikan waktu yang terbuang sia-sia selama 4 tahun dalam depresi dan ketiadaan. Kukatakan pada diriku “ aku harus berlari, karena waktuku semakin sedikit “ dan kulakukan apapun untuk memulai segalanya kembali dari nol. Aku menemukan kekuatan itu dari salah satu buku Paulo Coelho “The Fifth Mountain”. Beranjak dari kisah itu aku kemudian percaya bahwa memulai dari nol adalah sebuah redefinisi hidup yang akan menghantarkanku pada hidup yang luar biasa. Bersenggama dengan rasa takut, memeluk kegetiran dan berakhir dengan suka cita.
Dalam skenario yang berbeda aku mengalami apa yang tengah kamu alami sekarang. Bertanya-tanya mengapa di umurku yang ke-27 aku kini sibuk memasak sup ceker dan tom yam. Hal pertama yang kuingat di pagi hari adalah sereh dan daun jeruk. Lebih dari 6 jam aku duduk di warungku yang sepi, mengubur kecemburuanku pada pengemis yang lalu lalang dengan sekantung uang di bajunya. Kontradiksi melihat mereka datang ke warungku. Mereka pikir aku kaya, bahkan ketika menyisipkan receh di kantung mereka aku tahu bahwa uang mereka lebih banyak daripada uang di kas warungku. Ketika mereka pulang membawa receh untuk keluarga mereka, aku mungkin tengah terisak mengingat bahwa uangku hari ini tak cukup untuk belanja warung esok hari.
Aku kadang frustasi memikirkan kenapa aku mau mengambil resiko kelaparan dan terseok-seok sedangkan dengan daya yang kumiliki aku bisa saja memiliki uang cukup dengan bekerja pada NGO lain yang bisa membiayai hidupku. Namun aku telah membuat keputusan untuk tetap menjalankan samsara, dan warung hanyalah satu option untuk mencegahku dari rasa lapar dan dingin. Harus kuterima apapun resikonya. Harus kusyukuri bahwa dengan warungku yang masih sepi toh aku masih menjaga perutku dari rasa lapar. Ah, grace aku jadi ingat ketika tahun lalu kamu datang ke jogja dan mengajakku menginap di jogja plaza hotel. Itu betul-betul sebuah kemewahan buatku, menikmati makan pagi gratis yang mewah dan bisa tidur di atas kasur yang nyaman.
Aku dibesarkan di tengah keluarga muslim yang fundamentalis, dengan obsesi menjadikanku sebagai “pendakwah”. Namun kontradiksinya adalah mereka religius dalam hal-hal besar namun tidak dalam hal-hal kecil. Apakah kemudian aku membenci mereka? Tidak, aku tetap bersyukur memiliki mereka. aku tidak dapat mengubah keluarga dari mana aku berasal. Meskipun aku membenci beberapa hal yang mereka donasikan dalam kehidupan dan pemikiranku namun aku mensyukuri keberadaan mereka yang kupikir karena mereka pula-lah aku dilatih untuk menjadi sangat kritis terhadap agamaku sendiri, diriku sendiri. Pada akhirnya aku memahami bahwa mereka tak sepenuhnya salah dan aku tak sepenuhnya benar. Dalam perbedaan ini aku belajar untuk menemukan kesempurnaan. Aku mencintai friksi yang terjadi di dalam keluargaku, kami akhirnya tumbuh bersama, walaupun melalui jalan yang berbeda namun selalu ada persimpangan yang mempertemukan kami.
Kusyukuri setiap persimpangan itu.
Yang kumaksud grace, kita semua menyimpan rasa cemburu satu sama lain, kita merasa tidak puas pada apa yang kita miliki. Kupikir itu normal, itu adalah sebuah friksi yang dapat menumbuhkan kita dari dalam. Kembali seperti apa yang kau tulis : “God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, courage to change the things I can, and wisdom to know the difference.”
Aku mengenal jesus lewat tanganmu grace, bersuka cita akan kasih yang ditawarkan jesus pada manusia. Ketika aku mengalami depresi, ministry gereja lah yang telah membantuku untuk keluar dari ketiadaan itu. Sebagai non-kristiani, aku berterimakasih pada apa yang telah kalian donasikan dalam kehidupanku.
Grace, dari awal pertemuan kita tulisan lah yang membuat kita dekat satu sama lain. Dengan gaya yang berbeda, kamu dengan gaya menulis yang penuh kedalaman dan aku dengan gaya yang pedas, kita tahu bahwa kita berbicara tentang hal yang sama, dalam sebuah pencarian yang sama. Aku selalu menyimpan kecemburuan pada tulisan-tulisanmu, sama halnya aku menyimpan kecemburuan pada penulis-penulis lainnya. Berfikir mengapa aku tidak dapat menulis seperti mereka dengan begitu tersusun apik, manis dan mengalir.
Namun pada akhirnya aku menerima bahwa inilah gaya tulisanku : kacau, berlari-lari dan seringkali pedas. Itulah aku.
Kamu bilang : However, the reason why I find it hard appreciate my writing gift is because part of me had been educated to believe that writing and talking about something is not a real form of action, and does not provide any real solutions other than some new knowledge or insight that most people rarely follow up in practice.
I must say : disagree
Menulis adalah sebuah perlawanan. Tidak hanya perlawanan terhadap kekuasaan, agama, budaya atau masyarakat, namun juga perlawanan terhadap diri kita. Kadangkala kita bersebrangan dengan apa yang kita tulis, namun itu adalah sebuah upaya mengkritisi diri sendiri. Mungkin itu sebabnya aku tak banyak menulis, karena setiap kali menulis aku melihat jauh ke dalam diriku. Apakah hal yang kutulis memang mencerminkan kejujuran, apakah aku mampu bertanggung jawab terhadap apa yang ku tulis.
And I must say that writing and talking is a real form of action. Lihatlah bagaimana samsara dimulai, kita memulainya dari obrolan-obrolan kecil dan tulisan-tulisan kecil di blog. Kadang menggelikan karena pada dasarnya itu pula yang masih kita lakukan hingga sekarang. Aku menyebut kerja samsara sebagai kerja personal, karena cara kita bekerja adalah lewat tulisan dan obrolan. Kita menyempatkan waktu menulis refleksi dan membiarkan orang-orang membaca dan belajar sesuatu darinya. Kita juga menyempatkan diri minum kopi bersama dan mengobrol dengan klien kita.
Aku masih ingat salah satu tulisanmu : “Hal yang paling mudah dilakukan adalah menyerah.” Karena satu kalimat pendek itulah keesokan paginya aku segera berangkat ke jakarta untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru di UT setelah sebelumnya kupikir untuk menyerah dan kembali ke pangkuan ibuku.
What you do is a real form of action. Be proud of it. Seperti yang kubilang kemarin grace, aku masih membutuhkanmu di samsara, aku tak mau kehilangan hal-hal spiritual di samsara. Kita bukan sebuah lembaga formal yang segala sesuatunya harus masuk akal, ada hal-hal yang tak masuk akal yang justru menumbuhkan jiwa kita. Aku tak berbicara tentang islam ataupun kristen, aku berbicara tentang sesuatu yang kita percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita dan telah mengikat kita menjadi sebuah kesatuan.
Selamat ulang tahun grace, enjoy your journey!
Ps : im so happy for you to find someone beside you. This is the first man since I knew you. See, im jealous coz Its been 17 month since I found the man that I love and still need to wait another 12 month to be with him. Keburu jamuran, hahahaha....
No comments:
Post a Comment