Kasus Manohara menjadi pemberitaan hangat di media massa dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak kepulangan Mano ke Indonesia beberapa hari yang lalu, kasus ini menjadi lebih heboh lagi, bahkan mengalahkan kampanye pemilihan presiden juli mendatang. Dalam beberapa hari terakhir ini Mano muncul dalam berbagai acara infotainment, berita dan talkshow. Kali ini saya ingin menyoroti pemberitaan infotainment berhubungan dengan kasus manohara. Ide untuk memakai media sebagai alat pembentukan opini dan simpati masyarakat adalah sebuah ide yang bagus. Namun ide menggunakan media infotainment untuk kasus ini bukan ide yang bijaksana. Saya cukup gemas dengan cara infotainment menyuguhkan kasus manohara, berbagai pertanyaan yang diajukan mencoba membentuk opini yang keluar dari permasalahan yang sebenarnya.
berbagai pertanyaan yang diajukan oleh media seakan mengarah pada keuntungan apa yang didapat oleh manohara dan keluarganya dari cerita yang menghebohkan ini. pertanyaan seperti : sudah dapat tawaran main film? nyanyi? model? atau ada yang mau menjadikan kisah ini sebagai film?
kalo nggak, pertanyaannya akan beralih ke seputar uang atau harta yang didapat bu desi dari pihak kerajaan kelantan. opini saya, berapapun uang dan harta yang di dapat bu desi dari keluarga kerajaan tidak kemudian menunjukkan keserakahan yang kemudian menjadi pembenaran atas apa yang menimpa manohara. saya setuju dengan bu desi yang mengatakan : kalau sudah ngasih jangan di ungkit-ungkit! hahaha....kena banget!!
Kebanyakan media massa kita tidak cukup sensitif gender. Terutama media infotainment. Mungkin karena judulnya juga info dan entertainment, jadi keburukan dan penderitaan seseorang pun sedemikian mungkin harus bisa menghibur penonton. Atau paling tidak membuat penonton bersyukur bahwa hidupnya lebih baik ( angkuh banget ya? )
Dibalik apapun motif pernikahan manohara, bagaimanapun masa lalu keluarga manohara, hal itu tidak dapat dipakai sebagai sebuah pembenaran atas ketidakadilan yang menimpa manohara. Beberapa opini mulai bermunculan. Yang paling menggelikan adalah salah satu opini psikolog bernama Lidya yang saya saksikan dalam infotainment hari ini. Ia mengatakan bahwa tindakan kekerasan tersebut muncul karena ada pemicunya, bisa jadi karena manohara terlalu banyak keinginan atau tidak bisa di atur. Ia juga menyimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda depresi dan stress dari wajah manohara. Manohara justru tampak senang. Sungguh menggelikan, opini yang sangat tidak bijaksana dari seorang psikolog yang bahkan tidak menangani kasus manohara. Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor, kebanyakan klien saya yang mengalami post abortion syndrome juga tidak menampakan tanda-tanda stress di depan publik, justru kebanyakan dari mereka sangat aktif dan ceria. Kita tidak dapat menilai apa yang dihadapi oleh seseorang berdasarkan penampilan luarnya.
Di negeri ini perempuan selalu salah. Perempuan pantas dipukul karena ia bukan perempuan yang baik. Istri pantas dipukul karena ia bukan istri yang baik. Apapun alasannya, kekerasan tidak dapat diterima. Apapun kesalahan seseorang tidak dapat menjadi sebuah pembenaran atas tindak kekerasan.
Ya, pantas saja manohara menerima perlakuan buruk. Toh salah ibunya yang menikahkannya di bawah umur, yang haus uang, haus ketenaran dan kekuasaan. Apalagi bu desi punya rekaman masa lalu yang tidak baik. Gak mungkin kan keluarga manohara gak menerima uang dari pihak kerajaan kelantan? Pasti semua ini rekaan bu desi karena obsesinya tidak terpenuhi. Lagipula manohara kan istri yang tidak baik yang mencoba melarikan diri dari suaminya?
Apakah itu opini yang kita inginkan untuk masyarakat kita? Membuat masyarakat kita semakin bodoh, menghipnotis bangsa ini bahwa perempuan pasti selalu salah.
Saya gemas dengan negeri ini. Negeri yang katanya berbudi luhur, namun sepertinya menikmati dihipnotis dengan suguhan-suguhan seperti ini.
berbagai pertanyaan yang diajukan oleh media seakan mengarah pada keuntungan apa yang didapat oleh manohara dan keluarganya dari cerita yang menghebohkan ini. pertanyaan seperti : sudah dapat tawaran main film? nyanyi? model? atau ada yang mau menjadikan kisah ini sebagai film?
kalo nggak, pertanyaannya akan beralih ke seputar uang atau harta yang didapat bu desi dari pihak kerajaan kelantan. opini saya, berapapun uang dan harta yang di dapat bu desi dari keluarga kerajaan tidak kemudian menunjukkan keserakahan yang kemudian menjadi pembenaran atas apa yang menimpa manohara. saya setuju dengan bu desi yang mengatakan : kalau sudah ngasih jangan di ungkit-ungkit! hahaha....kena banget!!
Kebanyakan media massa kita tidak cukup sensitif gender. Terutama media infotainment. Mungkin karena judulnya juga info dan entertainment, jadi keburukan dan penderitaan seseorang pun sedemikian mungkin harus bisa menghibur penonton. Atau paling tidak membuat penonton bersyukur bahwa hidupnya lebih baik ( angkuh banget ya? )
Dibalik apapun motif pernikahan manohara, bagaimanapun masa lalu keluarga manohara, hal itu tidak dapat dipakai sebagai sebuah pembenaran atas ketidakadilan yang menimpa manohara. Beberapa opini mulai bermunculan. Yang paling menggelikan adalah salah satu opini psikolog bernama Lidya yang saya saksikan dalam infotainment hari ini. Ia mengatakan bahwa tindakan kekerasan tersebut muncul karena ada pemicunya, bisa jadi karena manohara terlalu banyak keinginan atau tidak bisa di atur. Ia juga menyimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda depresi dan stress dari wajah manohara. Manohara justru tampak senang. Sungguh menggelikan, opini yang sangat tidak bijaksana dari seorang psikolog yang bahkan tidak menangani kasus manohara. Berdasarkan pengalaman saya sebagai konselor, kebanyakan klien saya yang mengalami post abortion syndrome juga tidak menampakan tanda-tanda stress di depan publik, justru kebanyakan dari mereka sangat aktif dan ceria. Kita tidak dapat menilai apa yang dihadapi oleh seseorang berdasarkan penampilan luarnya.
Di negeri ini perempuan selalu salah. Perempuan pantas dipukul karena ia bukan perempuan yang baik. Istri pantas dipukul karena ia bukan istri yang baik. Apapun alasannya, kekerasan tidak dapat diterima. Apapun kesalahan seseorang tidak dapat menjadi sebuah pembenaran atas tindak kekerasan.
Ya, pantas saja manohara menerima perlakuan buruk. Toh salah ibunya yang menikahkannya di bawah umur, yang haus uang, haus ketenaran dan kekuasaan. Apalagi bu desi punya rekaman masa lalu yang tidak baik. Gak mungkin kan keluarga manohara gak menerima uang dari pihak kerajaan kelantan? Pasti semua ini rekaan bu desi karena obsesinya tidak terpenuhi. Lagipula manohara kan istri yang tidak baik yang mencoba melarikan diri dari suaminya?
Apakah itu opini yang kita inginkan untuk masyarakat kita? Membuat masyarakat kita semakin bodoh, menghipnotis bangsa ini bahwa perempuan pasti selalu salah.
Saya gemas dengan negeri ini. Negeri yang katanya berbudi luhur, namun sepertinya menikmati dihipnotis dengan suguhan-suguhan seperti ini.
luar biasa memang ya televisi...hegemoninya sungguh kuat..ckckckckc
ReplyDelete