Oh My God, i've just realize something...ternyata selama ini gw hidup di dalam hypnotic state, sekalinya gw mencoba meditasi, itu membawa gw ke dream state. Relaxation, peace dan resentless yang gw rasakan selama ini ternyata ada di dream state. What the hell is this? Where is the reality?
Kebanyakan dari kita hidup di hypnotic state. Konstruksi sosial, budaya, hukum dan agama telah mengkondisikan kita dalam situasi tertentu yang memacu kita untuk memenuhi berbagai tuntutan sebagai sebuah keharusan. Dan kita terhipnotis oleh semua itu. Kita yakin bahwa itulah kehidupan ideal yang harus kita wujudkan. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan tersebut seringkali membuat kita frustasi. Misalnya, merasa menjadi perempuan/lelaki yang tidak baik, anak tidak berguna, manusia yang berdosa, warga negara yang buruk dll. Hypnotic state ini telah telah diturunkan dari satu masa ke masa lainnya. Untuk apa? Tujuannya mungkin untuk mempertahankan kekuasaan, kesakralan atau apapun itu. Tentu saja salah satunya sebagai alat kontrol.
Dunia ini gila. Kita hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan, prasangka. Tak selalu buruk, namun seringkali begitu. Itu sebabnya sebagian orang mencoba mencari kedamaian di tengah dunia yang gila ini. Salah satunya adalah dengan mencari dan menciptakan kedamaian di dalam dirinya. Sebagian melakukannya dengan meditasi, yoga atau melakukan ritual keagamaan. Namun, apakah kedamaian dan ketenangan yang di dapat benar-benar merupakan real state? Atau hanya dream state?
Aku cukup lihai menggunakan kekuatan pikiran untuk membantu pekerjaanku sehari-hari, menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, bahkan menghubungkan satu personal dengan personal lainnya dalam sebuah pengkondisian. Hal ini positif ketika kulakukan untuk menunjang pekerjaanku sebagai konselor. Seiring dengan waktu, aku mulai melatih pikiranku untuk autocontrol terhadap situasi-situasi tertentu yang darurat.
Autocontrol ternyata tak selalu baik. Apalagi autocontrol terhadap pikiran kita sendiri. Ada saatnya pemusatan pikiran ini terjadi pada saat meditasi, alih-alih melakukan law of attraction, bisa jadi justru menciptakan sebuah kondisi imaginer yang terkontruksi dengan baik bak sebuah film. Semuanya tertata dan terencana. Jika kondisi itu “too good too be true” atau “never been real” maka bisa jadi itulah dream state. salah satu tujuan meditasi adalah membawa kesadaran. Nah...
Lalu bagaimana membedakan harapan, mimpi, dream state dan overeaction imaginations?
Dimana batasan unconscious, subconscious dan conscious? Pada setiap state tersebut, gelombang apa yang berpengaruh? Waah...butuh satu bab tulisan lagi kayaknya. Belum, nanti ya..aku explore dulu.
Kebanyakan dari kita hidup di hypnotic state. Konstruksi sosial, budaya, hukum dan agama telah mengkondisikan kita dalam situasi tertentu yang memacu kita untuk memenuhi berbagai tuntutan sebagai sebuah keharusan. Dan kita terhipnotis oleh semua itu. Kita yakin bahwa itulah kehidupan ideal yang harus kita wujudkan. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan tersebut seringkali membuat kita frustasi. Misalnya, merasa menjadi perempuan/lelaki yang tidak baik, anak tidak berguna, manusia yang berdosa, warga negara yang buruk dll. Hypnotic state ini telah telah diturunkan dari satu masa ke masa lainnya. Untuk apa? Tujuannya mungkin untuk mempertahankan kekuasaan, kesakralan atau apapun itu. Tentu saja salah satunya sebagai alat kontrol.
Dunia ini gila. Kita hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan, prasangka. Tak selalu buruk, namun seringkali begitu. Itu sebabnya sebagian orang mencoba mencari kedamaian di tengah dunia yang gila ini. Salah satunya adalah dengan mencari dan menciptakan kedamaian di dalam dirinya. Sebagian melakukannya dengan meditasi, yoga atau melakukan ritual keagamaan. Namun, apakah kedamaian dan ketenangan yang di dapat benar-benar merupakan real state? Atau hanya dream state?
Aku cukup lihai menggunakan kekuatan pikiran untuk membantu pekerjaanku sehari-hari, menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, bahkan menghubungkan satu personal dengan personal lainnya dalam sebuah pengkondisian. Hal ini positif ketika kulakukan untuk menunjang pekerjaanku sebagai konselor. Seiring dengan waktu, aku mulai melatih pikiranku untuk autocontrol terhadap situasi-situasi tertentu yang darurat.
Autocontrol ternyata tak selalu baik. Apalagi autocontrol terhadap pikiran kita sendiri. Ada saatnya pemusatan pikiran ini terjadi pada saat meditasi, alih-alih melakukan law of attraction, bisa jadi justru menciptakan sebuah kondisi imaginer yang terkontruksi dengan baik bak sebuah film. Semuanya tertata dan terencana. Jika kondisi itu “too good too be true” atau “never been real” maka bisa jadi itulah dream state. salah satu tujuan meditasi adalah membawa kesadaran. Nah...
Lalu bagaimana membedakan harapan, mimpi, dream state dan overeaction imaginations?
Dimana batasan unconscious, subconscious dan conscious? Pada setiap state tersebut, gelombang apa yang berpengaruh? Waah...butuh satu bab tulisan lagi kayaknya. Belum, nanti ya..aku explore dulu.
No comments:
Post a Comment