Monday, February 16, 2009

Memahat Kerutan di Wajah Perempuan Tua

“Ia bahkan rela memberikan satu-satunya sikat gigi miliknya, sebagian besar do’a dan air matanya dikirimkan pada seperempat malam, untukku. Aku tak punya alasan untuk tak mencintainya”

Perempuan tua itu hampir tak memiliki gigi lagi, sebagian kawat gigi menyembul dari balik senyumnya yang udzur. Langkah kakinya gontai di malam hari, dingin mengerutkan sayraf-syaraf kakinya yang melepuh oleh usia. Ketika matahari masih mengintip di balik fajar, ia berkutat dengan ngilu demi bersujud pada Tuhan-nya. Ia terbangun lebih awal dari siapapun yang lebih muda di rumah itu. Jiwa-nya tak pernah tua di pagi hari. Mengais rejeki untuk ibadah.
Namanya Dedeh Sa’adah. Ia tak pernah ingat kapan tepatnya ia dilahirkan. Alasan kenapa di KTP-nya tercantum 17 Agustus 1946 adalah karena tanggal itu satu-satunya yang ia ingat ketika belajar di bangku sekolah. Ia adalah anak tercantik di keluarganya, anak ke-7 dari 13 kakak beradik. Ayah dan Ibunya adalah seorang pedagang, keahlian yang juga diturunkan padanya. Di usianya yang ke 63 tak ada satu pun yang dapat menghentikannya untuk terus bekerja. Seandainya ia mau, anak-anaknya dapat membiayai hidupnya yang sederhana itu. Namun ia tak pernah mau menjadi beban bagi mereka, kepuasan bersedekah adalah alasannya untuk tetap bekerja.
Ketika masih belia, ia dipaksa untuk menikah dengan seorang duda yang 11 tahun lebih tua darinya. Enung Suryana, suaminya, membantu kedua orang tuanya sebagai pedagang. Duda muda beranak satu ini dikenal sangat sederhana dan jujur. Itu sebabnya ketika ia pamit untuk pulang dan menikahi perempuan pilihannya, kedua orang tua Dedeh malah mengurungnya di dalam kamar selama beberapa hari danmemaksanyauntuk memilih salah satu anak perempuannya untuk dinikahi. Karena rasa hormat akhirnya ia mengalah dan memilih Dedeh sebagai istrinya. Saat itu dedeh masih berumur 15 tahun, selama 2 tahun pertama pernikahan mereka, suaminya mengurusnya bak seorang ayah mengurus anaknya. Sedangkan dedeh masih asyik bermain dengan teman-temannya. Drama ini berakhir ketika suaminya mengembalikannya ke rumah orang tuanya. Bukannnya di terima, dedeh malah dikembalikan lagi kepada suaminya. Tak ada pilihan, semenjak saat itu dedeh belajar menjadi seorang istri.
Pernikahan mereka dikarunia 7 orang anak, 4 perempuan dan 3 lelaki di tambah satu anak lelaki dari istri pertama suaminya. Suaminya tinggal bersamanya di kampung kelahirannya. Jika bukan karena kecintaannya pada istrinya dan rasa hormat pada kedua mertuanya, mungkin sejak lama ia telah kembali ke kampung halamannya. Berkali-kali usaha mereka bangkrut, miskin dan lapar menjadi bagian yang tak asing dalam kehidupan keluarga mereka. Terkadang dedeh dan anak-anaknya bersembunyi ketakutan di dalam rumah ketika para penagih hutang datang menggedor pintu rumah mereka. Ia hanya bisa menangis. Tuhan telah banyak membantu keluarga i ni keluar dari kesulitan. Setelah belasan tahun menikah, akhirnya keluarga ini mulai mandiri secara ekonomi.
Suaminya meninggal tepat di siang hari yang terik di bulan november 2002. Dengan sedikit tangis ia melepas kepergian suaminya dengan doa. Ia resmi menjadi seorang janda. Beruntung suaminya telah mengajarkannya banyak hal dalam urusan dagang, ia masih tetap bisa mandiri tanpa suaminya. Sesekali ia menangis kala lelah karena rindu belaian suaminya. Satu-satunya hal yang berubah adalah tak ada lagi dukungan suami tercinta. Ia seringkali kesepian di rumah yang telah ditinggalkan anak-anaknya.Tuhan selalu menjaganya, memberinya kekuatan untuk terus bertahan.
Di rumahnya yang tak kecil itu, ia menghabiskan hari bersama para pegawainya dan seorang pembantu yang telah menjelma menjadi sahabatnya. Taman kecil menjadi penghilang penat, al-quran adalah bacaan penghibur hatinya. Separuh hidupnya telah ia berikan untuk anak-anaknya. Bahkan ketika tua menghantuinya, ia masih berkutat hidup hanya untuk memastikan anak-anaknya hidup dengan baik dan mapan. Entah kapan terakhir kalinya ia bersenang-senang untuk dirinya sendiri. Kesenangannya ada pada kesenangan anak-anaknya. Sekalipun nyawa yang dibutuhkan untuk menyenangkan mereka, akan ia berikan.
Waktu telah memahat kerutan di wajahnya. Tulang-tulangnya mulai rapuh dan keropos. Mungkin ia hanya menunggu waktu untuk pergi hingga aku benar-benar telah hidup dengan baik.
Ya, ia adalah ibuku. Aku satu-satunya anaknya yang belum menikah dan belum memiliki penghasilan tetap. Aku lah anaknya yang masih dengan sombong mempertahankan idealisme meski seringkali kelaparan dan kedinginan. Mungkin karena aku pulalah ia bertahan untuk tetap hidup, hanya untuk memastikan bahwa aku akan memiliki kehidupan yang baik dengan seorang lelaki baik yang akan menjagaku. Tak ada alasan bagiku untuk tak mencintainya.

3 comments:

  1. ya, jelas kan skrg? dan harusnya lo cukup bersyukur bahwa sebenernya lo btuh beruntung, bukannya cuma mengeluh dan mengeluh bagaimana hidup sudah sangat kejam. it's bullshit! while some people sooo encoraged by you, even tried to BE LIKE YOU. whyy??? karena lo tuh sbenernya berharga. lonya aja yg terlalu shallow mikirnya

    ReplyDelete
  2. Baguslah kalau lo sudah dpat membaca dan mengerti kerutan dahi ibu.Guae pernah l;aluia semuamitu.Nah sekarang dah cukup bahagia.Anak cumaa tiaga,Cucu dah enam and keep on coming.

    Inglah,tuhan mencipta keindahan,dan tuhan suka padamyangm in dah.

    Satu-saatunya yang indah itu iaalah bila kita sabggupdan rela bekongsi hidup.

    Sementara sayang masih ada !

    ReplyDelete