Sunday, February 15, 2009

Cross Personal Understanding ( CPU )

Sejak akhir tahun lalu dave menjadi teman serumahku, menempati sebuah kamar di lantai pertama tepat di bawah kamarku. Rumah tempat kami tinggal terbuat dari kayu dengan sedikit taman kecil di bagian depan dan belakang rumah. Sekilas tampak kosong dari luar, hanya aku dan dave yang betul-betul menempati rumah itu. Riri teman sebelah kamarku tak pernah nampak di rumah, begitu juga keponakan pemilik rumah yang hanya muncul di siang hari.
Biasanya aku akan menunggu matahari terbenam dari teras kamarku. Di atas kursi bambu kulepas penatku sembari menatap ke arah timur, menunggu atraksi langit memerah sebelum matahari terbenam. Beberapa kali aku menikmatinya bersama dave, diselingi obrolan yang menyenangkan. Terkadang obrolan menjadi sangat serius hingga detik dimana matahari terbenam terlewatkan begitu saja.
Aku mengenal dave setahun yang lalu, tapi obrolan kami yang pertama terjadi di bulan desember ketika dave pertama kali pindah ke kos ku. Awalnya aku sedikit kikuk dengan pembawaannya yang pendiam (aku selalu kikuk dengan orang pendiam, mungkin tepatnya minder karena aku terlalu cerewet, hehe ) namun siapa sangka, seiring dengan waktu dave menjadi sangat aktif mengobrol bahkan bisa dibilang lebih banyak menguasai pembicaraan di antara kami.
Dave berasal dari Inggris, kecerewetanku tertekan karena aku harus memakai bahasa inggris dalam percakapan kami. Kadangkala kupikir ia egois karena tak mau berbicara dalam bahasa indonesia sehingga aku yang harus selalu menyesuaikan diri dengannya. Bagaimanapun, berdebat dalam bahasa indonesia jauh lebih mudah daripada dalam bahasa inggris. Akhirnya aku lebih sering menggeram tak karuan karena tak bisa beropini secara gamblang. Kalau sudah begitu, mukaku akan berkerut dan bibirku tambah manyun karena jengkel.
Bukan pertama kalinya aku serumah dengan orang asing. Sebelumnya aku tinggal bersama Collin, seorang lelaki asal Australia. Namun menyesuaikan diri dengan collin tak sesulit dengan dave. Aku dan collin lebih banyak mengobrol santai ditemani sebotol bir, tertawa bersama dan sesekali saling curhat. Setiap pagi kami saling mengucapkan salam, sebuah kegiatan yang menyenangkan. Lalu membuat kopi dan sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Hanya ada satu meja kecil di teras, dan kami membuat pembatas meja untuk laptop kami masing-masing. Kadang-kadang kami bercanda dengan saling menyimpan barang di luar wilayah pembatas meja.
“Hey, this is my table. “ kataku sambil mengenyahkan pemantik apinya
“I’m sorry, but this is my ashtray” kata Collin sambil mengambil asbak yang sedang kupakai
Kami lalu tersenyum bersama.
Ada saat dimana collin pulang kerja dengan wajah yang lelah. Tak ada senyum.
“Are you okay? Need a friend to talk?” tanyaku
Atau ada saat dimana aku masih sibuk bekerja di tengah malam, ketika collin pulang ia akan menyapaku.
“How’s work?Okay?” tanyanya
Terkadang kita tak sadar betapa sebuah sapaan kecil dan pendek bisa memiliki kekuatan men-support yang luar biasa. Aku merasakan itu lewat persahabatanku dengan collin.
Berbeda dengan dave, isi percakapan kami lebih banyak mengenai sains, film, politik, media, huh...pokoknya yang berat-berat lah yang mebutuhkan opini kuat. Selalu kubilang padanya bahwa kepalaku masih pentium 1, butuh waktu untuk mencerna semua itu. Namun ia tetap saja menjejaliku dengan teori-teori atau hasil bacaan terbarunya. Alhasil,aku selalu tampak lemot didepannya.
Evil Vegan, begitu candaanku padanya. Dave seorang vegetarian yang selalu memakai pakaian serba hitam, tampak jahat. Hal yang paling kubenci darinya adalah karena langkahnya tidak bersuara. Entah berapa kali aku menjerit terkaget-kaget di siang hari karena tiba-tiba ia sudah muncul di teras kamarku tanpa kusadari. Sungguh, sepertinya aku lah satu-satunya hal yang membuat rumah ini tampak hidup, selain si kutung anjing pemilik kos tentunya. Keberisikan ku memberi nyawa pada rumah yang tampak tua dan sepi ini. Hal yang menyebalkan adalah, dave bisa tahu keberadaanku di rumah hanya dari suara langkah kakiku. Namun aku harus mengirimnya sms terlebih dahulu untuk tahu ia benar-benar ada di dalam rumah atau tidak. Seringkali kami selalu salah waktu ketika bercanda. Ketika aku serius, ia bercanda. Ketika aku bercanda, ia menanggapinya secara serius. Keadaan seperti ini biasanya akan menimbulkan konflik baru di antara kami.
Kadang-kadang aku menyebutnya Grey Eminence. Istilah ini berasal dari Perancis yang berarti seorang penasihat. Aku banyak meminta nasihat padanya tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan pekerjaanku sebagai konselor dan penulis, sesekali mengenai keluarga juga. Rasanya menyenangkan memiliki teman serumah yang bisa menjadi penasihat gretongan, hehe.
Suatu malam di dapur kami, sekali lagi kami berdebat karena menurut dave aku selalu bercanda di tengah obrolan yang serius. Aku harus serius dalam hidup, katanya. Kali ini aku benar-benar marah. Air mataku menetes.
“Kenapa aku harus serius? Kenapa aku tidak boleh bercanda?”
“Can you imagine, everyday i received email from my client, most of them are full of sadness, depression and pain. I try my best to give them support. In fact, in my life i dont know where to go to share my story.” Kataku sambil menangis.
“And now you telling me to be more serious? Huh...I’m thinking about this, how could i give them support if i’m too stress and serious. i need more humour in my life, i need to smile, dance and happy.this is my house, im not on working time. Why can’t i be happy here?” Lanjutku sambil terus terisak.
Dave diam memangku tangan menatapku.
“You know where people go when they feel like this?”tanyanya.
Aku menggeleng.
“They came to me.” Kata dave
Aku tersenyum. Sesekali teman serumahku bisa menyenangkan, meskipun tetap saja kadang menjengkelkan.
Aku senang memiliki teman serumah. Serasa kami adalah keluarga. Banyak hal yang kami harus belajar untuk menyesuaikan diri satu sama lain, terutama masalah emosi kami masing-masing. Perbedaan budaya dan cara kami dididik membuat kami harus belajar melonggarkan ego kami masing-masing.
Beberapa hari yang lalu, percakapan yang sama terulang lagi. Aku bercanda dan dave menanggapinya serius.
“ You always joking when i’m serious, you attack my personality.”
“What??? I’m the one who should says that. Thats what i feel when you joke on me” kataku sambil keluar dari kamarnya
“In England, the more you teasing the more you close to someone. You can’t do that to everybody.”
Akhirnya pagi itu kami sepakat bahwa kami harus belajar lebih menyesuaikan diri satu sama lain
“hmm, ini namanya CCU, cross cultural understanding.” Kataku
Dave tersenyum, lalu kami tos.
Aku berjalan menuju dapur, mencuci gelas sambil terus berfikir. Dave masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Oh, aku tahu. Not CCU but CPU.”kataku lagi sambil menoleh padanya.
Dave mengerutkan keningnya
“Cross Personal Understanding.” Jelasku
Dave tersenyum lagi dengan menggerakan kedua alisnya.

“Terimakasih, aku belajar lagi dan lagi dan lagi...”




No comments:

Post a Comment