Ada kerinduan yang membuncah. Bukan pada sang kekasih, bukan pula pada pohon pisang sahabatku. Membahana di dalam dada, mengalir deras dalam darah, menggelayut di pelupuk mata. Sungguh, lelah aku berkelana di ruang kosong.
Ada kerinduan yang membuncah, untuk diriku. Untuk bagian yang sempat hilang tersesat dalam keramaian. Dalam tumpukan kertas dan kerja-kerja yang tak juga usai.
Aku bisa saja melangkah ke manapun, menari dalam bayangan cahaya dan bermain di bawah kerlap bintang. Namun hatiku akan tetap memanggilku untuk datang pada senja yang khidmat, yang menunduk pada cahaya dan hangat oleh redup bulan.
Ya, aku telah menelantarkan jiwa. Aku telah tuli pada suara hatiku. Mengabaikan apa yang telah menuntunku sedemikian rupa melalui perjalanan panjang yang membawaku ke titik ini.
Aku tak lagi terbangun dengan punggung yang sakit karena dinginnya lantai yang menyerap pada matras tipisku. Tak juga gelisah karena persediaan kopi dan gula ku menipis. Tak perlu menunggu tengah malam untuk menikmati internet murah dan pulang menghadap gelap menuju pagi hari.
Aku rindu menggali siapa diriku, mendengarkan perdebatan di dalam diri tentang kemana aku akan menuju dan bagaimana aku akan menuju. Aku rindu pada gelisah yang menuntunku pada pertanyaan besar tentang semesta.
Semesta, aku kembali padamu.
feels like it wakes me up... reminds me of what's been forgotten for a long time...
ReplyDeletethanks for sharing..
Asih