Thursday, May 13, 2010

every little sweet bad things

Seringkali aku berjalan di belakang lelaki ini. Menatapnya dari jauh dan berfikir ‘apa yang kusuka dari lelaki ini?’. Ada saat-saat dimana aku merasa bodoh menyukai lelaki ini, mempertanyakan diriku sendiri mengapa aku mau menghabiskan waktu bersamanya, dan terus menerus menjadi seorang ‘conformist’ tanpa mempedulikan ego-ku.
Aku masih sering berjalan di belakangnya. Menikmati gaya jalannya yang penuh keraguan, dengan punggung yang membungkuk dan kerutan di separuh mukanya. Ia tampak jauh lebih tua dari umurnya. Sungguh sangat tua.
Dan kukatakan pada diriku sendiri : “ aku layak mendapatkan lebih dari ini.”
Namun mengapa hari ini aku masih di sini, berada di bali di kamar yang sama dan berjalan bersama sepanjang hari?
Rasionalitasku menyatakan tidak pada lelaki ini. Realita juga menyatakan hal yang sama. Dan ini tidak hanya muncul dariku, sepertinya lelaki ini memiliki ide yang sama denganku.
Terlepas dari apapun yang tidak kusuka darinya, pilihan-pilihan apapun yang tak masuk akal bagiku, dan betapa menjengkelkan sikapnya sepanjang hari.
Aku harus mengakui hal yang satu ini,
Lelaki ini telah membuatku mengingat kembali hal-hal kecil yang lama terbujur kaku di dalam diriku. Hal-hal kecil yang terpinggirkan oleh memori rasaku. Meruntuhkan egoku sebagai perempuan kuat dan luar biasa. Merasakan kembali nikmatnya merasa ‘kecil’ dan ‘tak berarti’
Kita semua mencintai dan membenci tubuh kita pada saat yang sama, atau kadang berbeda, tapi kita semua merasakannya. Aku menyukai bentuk bibirku namun pada saat yang sama membenci lenganku yang menjuntai oleh gelambir lemak.
Aku terlalu gagah dengan fikiranku hingga melupakan hal-hal kecil yang membuatku merasa ‘kecil’ itu. Dan lelaki ini telah membantuku menemukan kembali ‘ketidaknyamanan’ itu. Aku bahkan tidak bisa menatap diriku sendiri di depan cermin saat aku bersamanya, padahal sehari sebelumnya aku bersama lelaki-lelaki lain, dengan gelambir lemak yang sama, dan aku tetap merasa luar biasa.
Dan semakin aku berkutat dengan gelambir lemak-ku itu, ia hanya akan mengatakan ‘tidak apa-apa. Kamu oke!’ semakin aku pusing dengan berat badanku, ia akan mengatakan ‘tidak apa-apa. I love your kilo’s!’ ooh, sweet..
Lelaki ini membantuku memaksa mengeksplor orgasme fikiranku tanpa harus bersetubuh. Sepanjang malam kami berbagi kamar dengan dua bed yang terpisah, dengan payudaraku yang terumbar kemana-mana, dengan dia berkeliaran di dalam ruangan hanya memakai celana dalamnya yang ‘ugly’ itu.
Aku tidak akan menyangkal bahwa tubuhku bereaksi, denyut nadiku bertambah kencang dan vagina ku mulai basah. Namun pada saat yang bersamaan aku juga belajar untuk mengendalikan birahiku. Tidak karena vagina ku mulai basah maka aku bisa memakai penisnya untuk memuaskanku.
Aku geli pada diriku sendiri yang habis-habisan mencari perhatiannya, dan semakin dia pura-pura tak memperhatikanku, semakin aku gelisah, aku menjadi iritasi.
Aku sudah lupa rasanya iritasi, lupa rasanya terluka karena di abaikan, dan aku belajar lagi semua itu bersamanya.
Aku adalah perempuan yang selalu merasa di ‘inginkan’, dan sekarang aku harus berkutat dengan kenyataan bahwa tak semua orang menginginkanku. Sekalipun lelaki ini sungguh bersikap baik padaku, tapi ia tak menginginkanku.
Aku tetap saja jengkel karena ia tak menginginkanku. Padahal jelas aku juga tak menginginkan dia untuk tujuan yang sama. Aku tahu aku menginginkan orang lain, dicintai oleh orang lain itu pula, tapi egoku terus saja memintaku membuktikan sekali lagi bahwa lelaki ini harus menginginkanku. Egoku kalah telak kali ini.
****
Malam ini aku baru menyadari bahwa lelaki ini tengah melewati masa-masa sulit, namun sesulit apapun itu, lelaki ini tetap berusaha menyenangkanku, menjagaku dan memperlakukanku dengan baik.
Lelaki ini tak tahu bahwa tanpa sengaja aku telah membaca emailnya di halaman yang lupa ia tutup. Air mataku bercucuran mengingat betapa aku sangat egois dan penuh prasangka padanya selama ini tanpa pernah tahu masa sulit yang tengah ia lalui. Dan lelaki ini tetap saja berusaha menyenangkanku tanpa membagi dukanya bersamaku.
Aku harus menyatakan rasa terimakasih atas apa yang telah ia lakukan untukku. Pelukan hangat yang bisa kuakses kapanpun aku membutuhkannya. Bantuan yang bisa datang kapanpun setiap aku membutuhkannya. Telinga yang mendengarkan omelan dan keluhanku. Dompetnya yang selalu terbuka lebar untukku, bahkan kadang royal.
Saat ini ia sudah tertidur lelap di bed sebelahku. Ingin sekali aku menghampirinya dan mengecup keningnya sembari mengucapkan selamat malam.
Aku tidak akan marah-marah lagi padamu, tidak juga ngomel-ngomel lagi, aku akan belajar menghargai setiap hal kecil yang kita lakukan bersama tanpa harus merasa aku lebih baik darimu.
Kamu boleh tetap arogan, boleh tetap lebay dan menyebalkan, boleh bicara bahasa hungaria sesukamu meskipun kepalaku sakit, boleh iri pada apapun, boleh complain sepanjang hari. Tidak apa-apa. Aku tidak peduli. You is You ! and you’re my very special man, my very special neighbor, my very special roommate, my very special ex-boyfriend, my very special best friend.
My best wishes and bless for you

No comments:

Post a Comment