Monday, March 15, 2010

I’m done with love !

I’m done with love !

Aku membangun benteng yang sangat kuat untuk menahan diriku menjadi bodoh karena cinta. Karena cinta seharusnya membebaskan, membangun dan bertumbuh. Namun tidak semua orang siap untuk cinta yang seperti itu. Dan aku tidak mau membuang waktu, energi dan fikiranku percuma untuk terus berada dalam lingkaran yang membingungkan.

Bukan berarti aku tak pernah bodoh karena cinta. Aku cukup banyak belajar dari tangisan-tangisan dan ratapan-ratapan konyolku di masa lalu. Dan itu sudah cukup bagiku. Hidup hanya sekali, berkarya adalah pilihanku, bukannya mengabdikan diri pada cinta yang absurd, menangisi keadaan hanya karena tak sesuai harapan.

Patah hati selalu menyakitkan, apalagi ketika orang yang kita cinta tak dapat memahami cara kita mencintai mereka dengan cara yang berbeda. Woow…aku menangis semalam, namun aku tahu bahwa rasa sakit ini takkan bertahan lama. Hanya butuh beberapa hari lalu aku akan kembali tersenyum dan menertawakan diriku.

Aku tahu kemampuanku untuk mencintai seseorang, aku akan memperjuangkan sesuatu yang kuanggap patut untuk diperjuangkan. Namun, bukan berarti aku akan menghamba untuk cinta. Tidak !

Aku tak peduli apa pendapat orang tentang kesendirianku atau hubunganku yang tak jelas dengan lelaki antah berantah. Aku takkan menjadikan pendapat orang sebagai dasar untuk menentukan kemana aku akan membawa diriku. Satu hal yang pasti, aku akan memaknai bahwa cinta dan hubunganku berhasil hanya jika produktifitasku meningkat, rasa percaya diriku bertambah, membuatku merasa aman dan nyaman. Otherwise, it was’nt for me.

***

Pernah gak bersama seseorang yang seringkali mengucapkan kata ’ i love you’ tapi kita tahu bahwa ada sesuatu yang janggal?

Itu yang kurasakan. Mungkin aku terlalu lebay. Tapi sebagai seorang konselor aku terbiasa melihat konsistensi antara ucapan dan bahasa tubuh. Aku lebih mendengarkan bahasa tubuh seseorang daripada ucapannya.

Dan aku tak mau berpura-pura menikmati drama ini hanya untuk meyakinkan diriku bahwa aku dicintai seseorang. Untuk apa kita menghabiskan waktu dalam kepalsuan?

Lelaki ini mengagumiku, tapi bukan berarti ia mencintaiku. Namun mengapa bagi seorang lelaki secerdas ini ia harus berusaha membuatku senang dengan mengumbar kata cinta?

Sayang, kamu salah. Aku bukan perempuan yang senang di gombali! Semakin berusaha menyenangkanku dengan gombalmu itu, semakin aku merasa ragu dan menertawakan dirimu.

Aku membuatkan kopi untukmu di pagi hari bukan karena aku ingin membuktikan cintaku. Kopi hanya kopi, aku suka melakukannya. Aku menatap jauh ke dalam matamu, seperti kau bilang seakan aku bisa melihat jauh ke dalam dirimu, bukan karena aku ingin kamu tahu aku mencintaimu. Tapi karena memang matamu itu indah. Itu saja. Aku memasak untukmu karena aku suka memasak bukan karena ingin melayanimu. Aku memintamu untuk memilih bukan karena aku tak mampu memilih, karena aku sudah menentukan pilihanku dari awal. Dan aku ingin kamu menentukan pilihan untuk dirimu sendiri, bukan untuk kita.

Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku sudah pernah hidup di masa lalu, bahkan hidup di masa depan, hingga aku lupa menikmati apa yang ada hari ini. Yang kuinginkan sekarang hanya hidup saat ini. Now and Here. Tapi sepertinya kamu yang hidup di masa depan dan ketakutan melihat apa yang ada hari ini.

Sayang, sepertinya kamu terlalu panik menghadapiku. Kenapa khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik bagiku? Aku bahkan tidak meminta apapun darimu. Aku tahu kemampuanku dan aku bisa mencukupkan bagi diriku sendiri. Ah sayang, sepertinya aku lebih kuat darimu. Bukan aku masalahnya, masalahnya adalah kamu sendiri tak yakin pada kekuatanmu. Tak yakin pada apa yang kamu inginkan.

Yang kuinginkan adalah kamu tahu apa yang kamu inginkan, jika kita harus bersama itu adalah karena kita yakin menginginkannya, bukan karena salah satu dari kita berusaha menyenangkan satu sama lain namun akhirnya menjadi frustasi.

Bahkan jika memang kamu masih mencintai mantan pacarmu, maka akan kukatakan ’ Go get her back!’ yang terbaik adalah memperbaikinya, bukannya mencoba menghibur dirimu dalam pelukanku dan bermain-main dengan perasaanku.

Tidak apa-apa jika aku menjadi waiting room, tapi aku tidak mau menjadi terminal bagi orang yang tersesat tanpa tujuan.

Kadang-kadang sendiri itu menyakitkan, kesepian bisa membuatku menahan nafas panjang dan ingin menghentikan waktu. Namun seringkali sendiri itu jauh lebih baik daripada kita bersama seseorang yang tak tahu dimana dirinya berada.

Jangan khawatirkan aku. Aku pernah melalui masa-masa sulit, dan setiap kali aku melihat ke belakang aku terheran-heran membayangkan diriku bisa melewati masa-masa itu. Namun semua itu membuatku tahu, bahwa kita tak mungkin menghindari masa-masa sulit, tapi pasti kita bisa melaluinya.

Aku akan menangis dan sesekali mengurung diri, namun itu takkan lama. Aku akan terbangun di suatu pagi yang mendung namun tetap cerah hati karena hidup jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Suatu saat aku akan menertawakan apa yang terjadi hari ini dan berterimakasih karena tuhan mempercayakan masa ini padaku untuk aku belajar bertumbuh.

Sepertinya aku membutuhkan seorang pasangan yang jauh lebih cerdas untuk memahami bahwa bagiku cinta itu penting namun bukan berarti segalanya adalah cinta. Seorang pasangan yang tak takut melihatku mengekspresikan perasaan cintaku tanpa merasa terancam oleh kekuatanku.

Anyway, we had a really good times together. Keep in the mind the good times, and let time help us to remembering this moment as a lesson. We will learn something from these, and one day we will laughing ourself for this.

2 comments: