Aku tak pernah begitu seantusias kali ini melewati saat-saat natal. Sebagai non-kristiani, natal bukan bagian tradisi yang kurayakan setiap tahunnya. Kali ini aku bersuka cita melihat cahaya natal yang menebar kasihnya di penjuru dunia. Seakan ingin membagi suka cita itu, aku pun ingin mengirimkan doa dan berkatku bagi mereka yang merayakannya di seluruh penjuru dunia. Terutama bagi seseorang yang telah kembali ke keluarganya setelah perjalanan panjang dalam kebimbangan.
Aku adalah dia, sebagaimana dia adalah aku.
Sama halnya saat ramadhan tiba, ia akan begitu antusias menyambutnya dan sesekali ikut berpuasa bersamaku meskipun jarak tak memungkinkan kami menikmati hidangan berbuka bersama. Saat lebaran tiba, penuh suka cita ia mengirimkan doanya untukku dan keluargaku.
Ia tak menyebut dirinya sebagai kristiani yang baik, ia bahkan mengkhianati tuhannya dimasa mudanya. Aku bukan pula seorang muslim yang baik, bahkan masih meragukan keislamanku.
Namun dengan waktu, aku belajar untuk menghargai apa yang telah ditanamkan tetua kami melalui nilai-nilai luhur agama yang telah diturunkan dalam kelahiran kami.
Kini aku mengerti apa yang disampaikan oleh salah seorang guru ku, dibalik setiap perayaan selalu ada konstruksi manusia dengan segala tujuannya, namun itu tak perlu menghilangkan cara pandang kita untuk melihat esensi dari kasih dan syukur yang telah diberkati ke dalam hidup kita.
Cinta itu melintasi ruang, waktu, ras, politik, budaya bahkan agama.
Ketika ia mengucapkan selamat natal dan doa untukku dan keluargaku, haru dan bahagia menyeruak ke angkasa. Keluar dari tubuhku dan menari-nari di atas langit. Adalah sebuah kebahagiaan untukku ketika aku bukan seorang kristiani namun diberi kesempatan untuk menikmati kidung suci ini.
Sudah 2 natal, 2 lebaran, 2 kali musim hujan dan 2 kali perayaan tahun baru. Dan tuhan masih menghendaki kami belajar mengasihi satu sama lain keluar dari batas keinginan manusia. Entah berapa natal dan musim penghujan lainnya yang harus kami lewati, namun hangatnya kasih tuhan akan terus bersama kami melewati setiap jalan yang terjal, gonggongan anjing dan dinginnya malam. Setiap mil jarak yang memisahkan, budaya dan agama yang membatasi, tidak dapat mencabut kehendak tuhan atas kami.
Semoga kita semua belajar, bahwa agama tak menjadi batas bagi manusia untuk saling mengasihi. Bahwa agama tak menjadi batas bagi setiap orang untuk menikmati sesuatu hanya bagi dirinya dan kelompoknya. Bahwa agama kemudian mengajarkan kita untuk menghargai setiap perbedaan dan bertumbuh daripadanya.
No comments:
Post a Comment