(Catatan LSTEO Jakarta, 22 Oktober 2009)
Seperti biasanya, salah satu agenda kedatanganku ke Jakarta adalah berkumpul dengan teman-teman perempuan yang rata-rata kukenal lewat internet. Jika sebelumnya aku bertemu dengan mereka satu demi satu, kupikir mempertemukan teman-teman dalam satu forum akan jadi lebih menarik.
LSTEO atau Listening and Strengtening to Each other kemarin diadakan di Melly’s Jl Wahid Hasyim. Aku dan putri bertemu di sana sejak pukul 16.00 WIB, sedangkan teman-teman lain baru bergabung setelah pukul 18.00, dan berakhir sekitar pukul 24.00.dalam LSTEO biasanya kami banyak mengobrol tentang trauma-trauma yang pernah dialami setiap orang dan berbagi bagaimana kami mengatasinya. Hal ini sangat membantu agar setiap orang memiliki perspektif yang baru dalam melihat trauma-trauma tersebut dan keluar dari kotak yang membelenggunya. Namun LSTEO kemaren sedikit berbeda, entah siapa yang memulai, namun topic seksualitas dan kesehatan reproduksi mulai mendominasi perbincangan kami. Dari mulai intan yang bercerita bagaimana ia dan teman-temannya menantang diri mereka untuk berani mengatakan vagina tanpa merasa kaku, ibu guru kita yang berbagi pengalaman mengajarkan pendidikan seksual pada anak-anak TK, juga tentang bagaimana mengadvokasi teman-teman di lingkungan kita untuk melakukan safe-sex, hingga jokes mengenai vagina portable yang aman dan menguntungkan bagi para perempuan. Shera dan Upi dari Jurnal Perempuan juga berada di sana, dan banyak memberi informasi berharga mengenai gender dan seksualitas. Putri dan Pirma juga bergabung bersama kami, menyenangkan sekali melihat mereka tertawa bersama kami. Mereka telah menjadi contoh bagi yang lainnya tentang ketegaran melalui masa-masa sulit. Marlisa, salah seorang wartawan di Koran Jakarta juga turut memberi sumbangsih pemikirannya dalam forum ini.
Intan sempat mempertanyakan mengapa begitu mudahnya bagiku mengatakan ‘vagina’ dengan penuh rasa percaya diri. Komentarku pada intan adalah bahwa hal tersebut menunjukkan betapa kita masih teralienasi dari tubuh kita sendiri. Kita cenderung mendiskriminasi bagian-bagian tertentu dari tubuh kita. Kita masih menyimpan praduga dan prasangka negative terhadap vagina dibanding pada jari jemari atau hidung atau mulut atau bagian lain dari tubuh kita. Lalu bagaimana kita akan mengenal diri kita dengan baik jika kita masih melihat tubuh kita secara terpisah.
Jika kita belum bisa adil pada tubuh kita sendiri, bagaimana kita bisa adil terhadap orang lain?
Hal ini mengingatkanku pada obrolanku dengan upi tepat di pagi hari yang sama. Setelah bertahun tahun bergulat dengan perasaan tidak cantik. Keputusanku untuk menggundul kepala justru menjadi cara untuk melihat makna kecantikan di dalam diriku sendiri. Aku melatih diriku untuk berkaca dalam keadaan telanjang beberapa menit setiap harinya. Awalnya aku ingin muntah melihat tubuhku sendiri, melihat lipatan lemak di bagian perutku, selulit yang sangat tidak artistik di bagian pantat dan payudara, melihat lipatan-lipatan berwarna gelap di seputar selangkangan, belum lagi menatap bentuk kepalaku dalam keadaan gundul. Namun seiring dengan waktu aku mulai terbiasa melihat diriku sendiri, dan mendapatkan makna kecantikan itu tanpa memilah mana yang lebih baik atau lebih buruk dari tubuhku sendiri. Tanpa membandingkan diriku dengan Julia Roberts atau luna maya. Karena itulah aku. Ketika kita mengenal setiap lekuk tubuh kita dan menerimanya apa adanya, kita akan belajar untuk melihat kecantikan dari perspektif yang berbeda. Bukan kecantikan yang tertuju pada apa yang dapat ditampilkan, namun kecantikan yang membantu kita untuk ‘bertumbuh’.
Nah, kalo masih banyak orang kagok mengatakan vagina. Maka jangan menyalahkan si vagina, yang justru harus diperbaiki adalah persepsi mereka tentang si vagina ini.
Mengutip perkataan Remy Silado pada acara diskusi dan peluncuran buku di Pusat Bahasa UNJ, di pagi hari yang sama, bahwa sudah saatnya kita merubah kata ‘kemaluan’. Kenapa harus malu? Justru itu adalah kebanggaan, jika tidak memiliki zakar atau vagina, itu baru namanya malu. Salah satu pembicara lainnya juga mengatakan bahwa seharusnya kata ‘kemaluan’ diganti dengan ‘kebanggaan’, karena dari sanalah kehidupan juga berasal. Tanpa zakar maka tak ada kehidupan manusia.
Kalau mengatakan ‘vagina’ saja masih kagok, apalagi melihat vagina kita sendiri? Jangan-jangan masih banyak juga perempuan yang belum tahu bentuk vagina mereka sendiri, atau mungkin tidak tahu apakah labia luar mereka lebih kecil atau lebih besar dari labia dalam mereka.
Hayyoo, jangan lupa beli cermin untuk LSTEO berikutnya ya!
Kami juga sempat mengobrol tentang lakunya penjualan selaput dara palsu dari korea dan jepang sampai orang harus inden. Apakah keperawanan sedemikian pentingnya sehingga harus membohongi diri sendiri. Mungkin sebetulnya keperawanan itu letaknya bukan di hymen, tapi di kejujuran hati. Sama halnya aku menolak disebut perawan tua karena belum menikah, karena kata perawan itu sendiri sudah tidak tepat maknanya. Atau teman upi yang bersenandung ; ‘ bukan janda, juga bukan perawan’. Kalimat yang mungkin tidak nyaman di dengar orang lain namun sebenarnya mengindikasikan kejujuran.
Vagina portable sendiri adalah imajinasiku tentang teknologi vagina yang pro perempuan. Demi keselamatan, vagina anda dapat disimpan di lemari tanpa harus membawanya ketika bertugas di wilayah krisis. Vagina portable juga dilengkapi dengan mesin pembayaran online dengan kartu kredit atau debit. Sehingga para PSK tidak lagi harus membagi keuntungan mereka dengan para germo, keuntungan bisa langsung masuk ke dalam rekening mereka. Pemakaian kartu platinum, gold atau silver juga menentukan kualitas layanan yang berbeda.dan bagi para ibu rumah tangga, vagina portable hanya bisa bekerja jika suami anda sudah menggesekan kartu debit mereka untuk rekening keluarga. Jadi jika suami anda belum memberikan jatah uang belanja keluarga, maka vagina portable tidak dapat bekerja.
Ah, kalau yang itu cuma jokes. Jangan terlalu dianggap serius!
Anda bisa membayangkan berada di sebuah café di tengah keramaian, dan para perempuan berkumpul di sebuah meja sambil berbicara soal vagina dengan lantangnya. Tentu saja membuat orang-orang sekitar menjadi kikuk sendiri. Bahkan beberapa pelayan di dekat bar tampak sangat serius diam-diam mendengarkan pembicaraan kami. Beberapa lelaki di samping kami juga sangat asyik mencuri dengar obrolan kami.
Hahahaha, saya jadi ingat salah satu interview dengan anika, seorang mahasiswa Australia yang melakukan riset di Indonesia. bahkan di café LIP jogja, anika sempat grogi dengan perhatian banyak orang yang mendengarkan pembicaraan kami soal aborsi. Anika sempat menurunkan volume suaranya, lalu bertanya padaku : apakah aborsi dan sex sesuatu yang tabu di Indonesia? jawabanku ; sex bukan sesuatu yang tabu di Indonesia. yang tabu adalah orang membicarakan seks secara terbuka. Dan lirikan para pengunjung bukanlah sesuatu yang buruk, itu justru menunjukkan keingintahuan mereka terhadap isu ini.
Sampai jumpa di LSTEO berikutnya!
Seperti biasanya, salah satu agenda kedatanganku ke Jakarta adalah berkumpul dengan teman-teman perempuan yang rata-rata kukenal lewat internet. Jika sebelumnya aku bertemu dengan mereka satu demi satu, kupikir mempertemukan teman-teman dalam satu forum akan jadi lebih menarik.
LSTEO atau Listening and Strengtening to Each other kemarin diadakan di Melly’s Jl Wahid Hasyim. Aku dan putri bertemu di sana sejak pukul 16.00 WIB, sedangkan teman-teman lain baru bergabung setelah pukul 18.00, dan berakhir sekitar pukul 24.00.dalam LSTEO biasanya kami banyak mengobrol tentang trauma-trauma yang pernah dialami setiap orang dan berbagi bagaimana kami mengatasinya. Hal ini sangat membantu agar setiap orang memiliki perspektif yang baru dalam melihat trauma-trauma tersebut dan keluar dari kotak yang membelenggunya. Namun LSTEO kemaren sedikit berbeda, entah siapa yang memulai, namun topic seksualitas dan kesehatan reproduksi mulai mendominasi perbincangan kami. Dari mulai intan yang bercerita bagaimana ia dan teman-temannya menantang diri mereka untuk berani mengatakan vagina tanpa merasa kaku, ibu guru kita yang berbagi pengalaman mengajarkan pendidikan seksual pada anak-anak TK, juga tentang bagaimana mengadvokasi teman-teman di lingkungan kita untuk melakukan safe-sex, hingga jokes mengenai vagina portable yang aman dan menguntungkan bagi para perempuan. Shera dan Upi dari Jurnal Perempuan juga berada di sana, dan banyak memberi informasi berharga mengenai gender dan seksualitas. Putri dan Pirma juga bergabung bersama kami, menyenangkan sekali melihat mereka tertawa bersama kami. Mereka telah menjadi contoh bagi yang lainnya tentang ketegaran melalui masa-masa sulit. Marlisa, salah seorang wartawan di Koran Jakarta juga turut memberi sumbangsih pemikirannya dalam forum ini.
Intan sempat mempertanyakan mengapa begitu mudahnya bagiku mengatakan ‘vagina’ dengan penuh rasa percaya diri. Komentarku pada intan adalah bahwa hal tersebut menunjukkan betapa kita masih teralienasi dari tubuh kita sendiri. Kita cenderung mendiskriminasi bagian-bagian tertentu dari tubuh kita. Kita masih menyimpan praduga dan prasangka negative terhadap vagina dibanding pada jari jemari atau hidung atau mulut atau bagian lain dari tubuh kita. Lalu bagaimana kita akan mengenal diri kita dengan baik jika kita masih melihat tubuh kita secara terpisah.
Jika kita belum bisa adil pada tubuh kita sendiri, bagaimana kita bisa adil terhadap orang lain?
Hal ini mengingatkanku pada obrolanku dengan upi tepat di pagi hari yang sama. Setelah bertahun tahun bergulat dengan perasaan tidak cantik. Keputusanku untuk menggundul kepala justru menjadi cara untuk melihat makna kecantikan di dalam diriku sendiri. Aku melatih diriku untuk berkaca dalam keadaan telanjang beberapa menit setiap harinya. Awalnya aku ingin muntah melihat tubuhku sendiri, melihat lipatan lemak di bagian perutku, selulit yang sangat tidak artistik di bagian pantat dan payudara, melihat lipatan-lipatan berwarna gelap di seputar selangkangan, belum lagi menatap bentuk kepalaku dalam keadaan gundul. Namun seiring dengan waktu aku mulai terbiasa melihat diriku sendiri, dan mendapatkan makna kecantikan itu tanpa memilah mana yang lebih baik atau lebih buruk dari tubuhku sendiri. Tanpa membandingkan diriku dengan Julia Roberts atau luna maya. Karena itulah aku. Ketika kita mengenal setiap lekuk tubuh kita dan menerimanya apa adanya, kita akan belajar untuk melihat kecantikan dari perspektif yang berbeda. Bukan kecantikan yang tertuju pada apa yang dapat ditampilkan, namun kecantikan yang membantu kita untuk ‘bertumbuh’.
Nah, kalo masih banyak orang kagok mengatakan vagina. Maka jangan menyalahkan si vagina, yang justru harus diperbaiki adalah persepsi mereka tentang si vagina ini.
Mengutip perkataan Remy Silado pada acara diskusi dan peluncuran buku di Pusat Bahasa UNJ, di pagi hari yang sama, bahwa sudah saatnya kita merubah kata ‘kemaluan’. Kenapa harus malu? Justru itu adalah kebanggaan, jika tidak memiliki zakar atau vagina, itu baru namanya malu. Salah satu pembicara lainnya juga mengatakan bahwa seharusnya kata ‘kemaluan’ diganti dengan ‘kebanggaan’, karena dari sanalah kehidupan juga berasal. Tanpa zakar maka tak ada kehidupan manusia.
Kalau mengatakan ‘vagina’ saja masih kagok, apalagi melihat vagina kita sendiri? Jangan-jangan masih banyak juga perempuan yang belum tahu bentuk vagina mereka sendiri, atau mungkin tidak tahu apakah labia luar mereka lebih kecil atau lebih besar dari labia dalam mereka.
Hayyoo, jangan lupa beli cermin untuk LSTEO berikutnya ya!
Kami juga sempat mengobrol tentang lakunya penjualan selaput dara palsu dari korea dan jepang sampai orang harus inden. Apakah keperawanan sedemikian pentingnya sehingga harus membohongi diri sendiri. Mungkin sebetulnya keperawanan itu letaknya bukan di hymen, tapi di kejujuran hati. Sama halnya aku menolak disebut perawan tua karena belum menikah, karena kata perawan itu sendiri sudah tidak tepat maknanya. Atau teman upi yang bersenandung ; ‘ bukan janda, juga bukan perawan’. Kalimat yang mungkin tidak nyaman di dengar orang lain namun sebenarnya mengindikasikan kejujuran.
Vagina portable sendiri adalah imajinasiku tentang teknologi vagina yang pro perempuan. Demi keselamatan, vagina anda dapat disimpan di lemari tanpa harus membawanya ketika bertugas di wilayah krisis. Vagina portable juga dilengkapi dengan mesin pembayaran online dengan kartu kredit atau debit. Sehingga para PSK tidak lagi harus membagi keuntungan mereka dengan para germo, keuntungan bisa langsung masuk ke dalam rekening mereka. Pemakaian kartu platinum, gold atau silver juga menentukan kualitas layanan yang berbeda.dan bagi para ibu rumah tangga, vagina portable hanya bisa bekerja jika suami anda sudah menggesekan kartu debit mereka untuk rekening keluarga. Jadi jika suami anda belum memberikan jatah uang belanja keluarga, maka vagina portable tidak dapat bekerja.
Ah, kalau yang itu cuma jokes. Jangan terlalu dianggap serius!
Anda bisa membayangkan berada di sebuah café di tengah keramaian, dan para perempuan berkumpul di sebuah meja sambil berbicara soal vagina dengan lantangnya. Tentu saja membuat orang-orang sekitar menjadi kikuk sendiri. Bahkan beberapa pelayan di dekat bar tampak sangat serius diam-diam mendengarkan pembicaraan kami. Beberapa lelaki di samping kami juga sangat asyik mencuri dengar obrolan kami.
Hahahaha, saya jadi ingat salah satu interview dengan anika, seorang mahasiswa Australia yang melakukan riset di Indonesia. bahkan di café LIP jogja, anika sempat grogi dengan perhatian banyak orang yang mendengarkan pembicaraan kami soal aborsi. Anika sempat menurunkan volume suaranya, lalu bertanya padaku : apakah aborsi dan sex sesuatu yang tabu di Indonesia? jawabanku ; sex bukan sesuatu yang tabu di Indonesia. yang tabu adalah orang membicarakan seks secara terbuka. Dan lirikan para pengunjung bukanlah sesuatu yang buruk, itu justru menunjukkan keingintahuan mereka terhadap isu ini.
Sampai jumpa di LSTEO berikutnya!
No comments:
Post a Comment