Thursday, September 24, 2009

The Magic Moment of Idul Fitri

Well, lebaran memang selalu menakjubkan. Berkumpul bersama keluarga adalah saat-saat terindah, terutama bagi keluarga yang terpisah oleh jarak. Momen sungkeman adalah peristiwa magis yang selalu ditunggu setiap tahunnya.

Di hari idul fitri, biasanya seluruh keluarga akan berkumpul, satu demi satu kami sungkem pada mamah, lalu saling gantian sungkem antar saudara dan keponakan. Setelah selesai sungkeman, biasanya ibuku akan memberi petuah untuk anak-anaknya. Kami anak-anak dan cucunya akan duduk bersila mengelilingi beliau.

Petuah tahun ini tak banyak berbeda dibanding petuah tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ibuku akan meminta kami anak-anaknya agar selalu rukun, bahwa jika ada diantara kami yang berselisih itu akan membuatnya bersedih dan terluka. Ia selalu mengingatkan bahwa sebetapapun kami tidak menyukai perilaku kami satu sama lain, namun kami adalah bersaudara. Lalu ibuku akan mengingatkan kami agar selalu meniru dan meneruskan setiap sifat dan perbuatan baik darinya,dan tidak mencontoh perilaku buruknya. Setiap tahun aku mendengar kalimat itu dan aku begitu menghargai kerendahan hati ibuku, ia menyadari bahwa ia bukan ibu yang sempurna, ia memiliki kekurangan dan kelebihan. Meskipun bagiku, tak kan ada ibu yang lebih sempurna darinya. Dan seperti biasanya, selalu ada momen di mana kami mengenang dan mengirimkan doa bagi almarhum bapakku . semoga ia bahagia melihat kami jauh lebih dewasa kini.

Ibuku memiliki 8 orang anak dan 27 orang cucu. Terbayang betapa ramainya rumah kami. Belum lagi jika dijumlah dengan keluarga dari ibuku yang memiliki 12 saudara dengan ratusan cucu dan cicit. Wooow…

Di hari kedua lebaran, ada pertemuan keluarga dari pihak bapak yang tahun ini diselenggarakan di rumah kami, sekitar 200 orang sanak saudara datang ke rumah kami. Jika di hari biasa mereka yang bermasalah saling bertelikung untuk tidak bertemu, maka di hari ini mereka tak punya pilihan lain untuk saling menyapa dan bersalaman. Terlihat ada sedikit kecanggungan di sana-sini, namun bukankah ini hal indah?

Di saat seperti itu aku baru menyadari betapa besarnya keluarga besarku. Jika dari pihak ibu saja ada sekitar 200-an orang ( hanya dari satu garis nenek) dan sekitar 200-an lagi dari pihak bapak, terbayang berapa jumlah keseluruhannya hanya dari satu garis keturunan ayah dan ibu? Wooowww….

Terbayang betapa jumlah undangan yang disebar jika ada pernikahan di keluarga kami? 500 undangan sepertinya hanya akan tersebar di lingkungan keluarga saja.

No comments:

Post a Comment