Awalnya karena pameran "Seven Needles" di karta pustaka awal september lalu. Mbak Ani dan Cahya menjadi salah satu pengisi pameran di sana. puluhan karya cross stitch atau kruistik membuatku tertegun. bukan soal keindahan karyanya, namun setiap titik yang membentuk gambarnya itu yang membuatku terkagum-kagum. gila, pekerjaan yang berat, pikirku saat itu.
aku sendiri saat itu tengah mengalami stress berat. emosiku kacau balau. kesabaranku tampaknya tak bersisa lagi. secara psikologis aku betul-betul sedang drop. karya-karya kruistik itulah yang kemudian menantangku untuk menata kembali emosiku. kupikir kruistik akan tepat untuk kujadikan terapi menata emosi dan kesabaranku. tentu saja, karena tampaknya untuk menyelesaikan kruistik butuh dedikasi.
akupun membeli seperangkat alat kruistik. akan kucoba saat liburan lebaran nanti, niatku.
namun, aku baru benarbenar menyentuhnya beberapa hari semenjak lebaran. tanpa seorang guru yang melatih, aku pun nekad sok tahu mengerjakan kruistik berdasarkan bantuan keterangan yang tertulis di samping pola kruistik. hanya 3 baris yang kuselesaikan di hari pertama itu. tanpa kepuasan apapun. dan akhirnya kruistik itu hanya teronggok di mejaku selama berhari-hari kemudian.
setiap kali aku menatapnya, aku tahu aku takkan bisa menyelesaikannya. selain malas, kupikir waktuku lebih berharga untuk mengerjakan hal lain daripada hanya berkutat dengan benag-benang itu.
hingga suatu malam, aku tertantang kembali mengerjakan kruistik tersebut,
dan keasyikan itu dimulai di sini.
untuk menyelesaikan kruistik itu, aku melawan gairah ku untuk ber-internet ria, ngeblog atau sekedar ngopi dan teman-teman. waktuku setiap malam kucurahkan untuk kruistik. mataku tampaknya hampir meledak melihat polanya, jempolku kapalan dan leherku tegangnya bukan main.
lama-lama bentuknya mulai terlihat,dan semakin terlihat semakin kepengen cepat aku menyelesaikannya. aku penasaran akan seperti apa hasil akhirnya.
luar biasa, ternyata bukan soal karyanya yang membuatku takjub. lagi-lagi, justru proses nya yang membuatku takjub.
selama membuat kruistik, fikiranku tidak dapat berhenti untuk tidak menghubung-hubungkannya dengan hidup. ya, proses kruistik memiliki pola yang sama tepatnya dalam hidup.
seperti dalam hidup, awalnya kita tidak tahu bagaimana akan mengawalinya. kita hanya melakukannya. kadang kita berhenti karena tampaknya apa yang kita lakukan tak berarti apa-apa, tak menghasilkan apa-apa. ini yang banyak dilakukan oleh kebanyakan orang. dan hanya sebagian kecilnya yang akhirny tetap teguh untuk terus meneruskan apa yang telah mereka mulai.
untuk sebuah karya kruistik, ada waktu yang dikorbankan, ada pola yang dibutuhkan, ada benang dan jarum, ada mata yang pegal, ada jari yang kapalan, dan leher yang tegang. begitu juga dalam hidup. there's no free lunch. begitu juga dalam hidup, tak ada yang gratis, tak ada yang instan. semuanya membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, fikiran, dan tentu saja ilmu yang akan mengajarkan kita tekhniknya.
ketika mengerjakan kruistik, perhitungan kita harus benar-benar jeli. sekali kita salah membuat perhitungan maka itu akan membuat kita melakukan kesalahan di langkah berikutnya. dan ketika ternyata perhitungan kita salah, ada dua hal yang bisa kita lakukan : berhenti atau maju terus. untuk maju terus, maka kita harus memiliki keberanian untuk mengurai kesalahan kita. mengurai kembali benang-benang yang telah salah posisi dalam pola-nya. lalu merajut ulang.
bukankah pola itu juga ada dalam hidup kita?banyak orang yang melakukan kesalahan, lalu ia membiarkan kesalaahan itu membayangi dirinya dan membuatnya menyerah pada cita-cita. bukankah ketika kita melakukan kesalahan seharusnya kita berani mengurai kembali kesalahan kita, mengakuinya, mengambil tanggung jawab lalu memperbaikinya. dengan demikian langkah kita untuk maju pun lebih ringan dan pintu kemudahan pun dibukakan,
dan ketika karya itu selesai, ketika pekerjaan tersebut berhasil dilakukan. bukan hanya hasil akhirnya yang membuat anda bangga. anda akan menemukan bahwa ternyata proses memberi anda lebih banyak dari yang anda duga. bahwa proses nya telah merubah sesuatu di dalam diri kita. kita mulai melihat kemampuan dan kelemahan yang ada pada diri kita. yang terpenting adalah melalui proses itu anda telah bertarung melawan sisi gelap diri anda dan kelar sebagai pemenang.
terakhir, saya ucapkan terimakasih kepada mbak ani dan mbak cahya, juga teman-teman pengisi lainnya di pameran "Seven Needles" yang telah menginspirasi saya. bukan hanya karya yang berhasil di selesaikan, namun juga kestabilan emosi dan proses yang luar biasa.

No comments:
Post a Comment