Saturday, July 04, 2009

Silent Light

Ada saat-saat senyap dimana yang tampak hanyalah kegelapan malam di balik jendela-jendela yang dingin dan kaku. Setiap perjalanan selalu menghadirkan denting sunyi, kesadaran yang begitu nyata dimana kulihat bagian diriku tercecer di jalanan. Di balik jendela itu ada kota-kota yang mencitrakan dirinya dalam denting sunyi di diriku. Ada lampu malam jakarta, hujan badai di india, gelap pekat pesawahan menuju pare, keramaian kuta bali, deru ombak di pantai bingin, liku terjal jalanan malangbong menuju tasik, atau jalanan menuju jogja yang kuanggap sebagai pintu rumahku.

Aku tak punya arah melangkah, seperti athena yang mendengarkan suara Sang Ibu, aku melawan jalan yang telah ditakdirkan bagi mereka yang ingin mudah meraih kebahagiaan dalam hidup. Dalam setiap langkahku ada ketakutan yang sekaligus menjelma menjadi kekuatan untuk berhadapan dengan rahasia di balik pintu-pintu yang tertutup.

Aku tak sebijaksana Khalil Gibran yang memilih untuk memberi daripada menerima. Aku mencari jiwa yang sesungguhnya telah di titipkan di semesta. Yang kubutuhkan adalah seorang guru, mereka yang telah bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar sebagai manusia, mereka yang telah mencari lalu dicobai untuk menemukan keselarasan dengan hidup. Aku menemukan cahaya ini pada dua sosok perempuan yang baru saja kutemui dalam dua bulan terakhir ini, Radhika Chandiramani dan Melani Budianta. Bagiku suatu takjub melihat citra keanggunan dalam sosok yang jelas melangkah melawan jalan yang dilalui oleh kebanyakan orang. Namun dalam langkah itu aku melihat mereka telah menemukan keanggunan yang hanya bisa di peroleh melalui proses yang sulit. Tak hanya proses memahami ilmu pengetahuan, namun juga proses spiritual yang didalamnya penuh dengan dera.

Bagiku, mempelajari segala sesuatu hanya seperti menambah beban otak dan kemudian menjadikannya sampah yang hanya mengotori kenaifan. Untuk apa aku memahami kebusukan dunia ini? Mengenal simbol-simbol dan pertanda yang telah sedemikian rupa disakralkan oleh tetua kita demi kekuasaan dan keuntungan segelintir orang? Semuanya hanya membusuk di dalam fikiranku dan mencegahku melihat kemungkinan-kemunngkinan terbaik dan mempesona yang ditawarkan hidup kepada diriku. Yang kubutuhkan adalah spiritualitas, sesuatu yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan membuatku merasa diinginkan, dicintai dan dilindungi.

Aku ingin pergi ke ashram.

No comments:

Post a Comment