Saturday, July 04, 2009

Lelucon Jilbab Menjelang Pilpres

Isu jilbab kembali mencuat menjelang pemilihan presiden 8 juli mendatang. Isu ini berpangkal pada pertarungan dua kubu yaitu kubu JK-Wiranto dimana kedua pendampingnya memakai jilbab, dan kubu SBY-Boediono dimana kedua pendampingnya tidak menggunakan jilbab. Isu ini cukup mempan untuk mengobrak-abrik umat islam yang menjadi pemilih terbanyak dalam pilpres yang akan datang.

Gambar JK-Wiranto dengan kedua pendampingnya yang memakai jilbab terpasang di mana-mana, hal ini cukup mengambil simpatik banyak umat islam yang merasa bahwa tampilan kedua perempuan berjilbab ini adalah salah satu ikon yang akan membawa kebaikan bagi bangsa ini.

Apa hubungannya jilbab dengan negara?

Hari ini sebuah acara tahlilan di selenggarakan di kampung halamanku, herannya tidak semua anggota keluarga di undang ke acara ini. Tidak salah duga, ternyata acara tahlilan ini menjadi salah satu medan kampanye. Sepulang dari acara tahlilan, setiap orang mengantongi uang puluhan ribu plus beberapa lembar brosur JK-Wiranto. Yang menarik adalah dalam brosur ini tidak dijelaskan mengenai program JK-Wiranto, melainkan berisi pembahasan mengenai betapa pentingnya seorang perempuan berjilbab sebagai pendamping pemimpin bangsa ini.

Dalam brosur tersebut dijelaskan bahwa kriteria pendamping yang ideal menurut islam adalah :

  1. Sholehah
  2. penyejuk Rumah Tangga
  3. Motivator bagi suami dalam menjalankan tugas
Nah, disebutkan pula bahwa salah satu pertanda wanita sholehah adalah jika ia menggunakan jilbab, itulah sebabnya disarankan agar umat islam memilih JK-Wiranto karena kedua pendampingnya tampil islami dengan jilbab dan busana yang sederhana. Lucu sebenarnya, karena kalau betul-betul diamati tentu kita tahu bahwa busana yang mereka pakai bukan busana murahan, pastinya busana mahal dan buatan desainer, lalu letak sederhana nya dimana?

Pertanyaannya adalah, apakah jika ia tidak berjilbab maka tak dapat di anggap sholehah?
Kita jangan lupa bahwa Sriatun, si pemilik klinik aborsi di jakarta yang baru saja tertangkap awal tahun ini juga memakai jilbab, bukankah ia sholehah juga? Terlepas apapun pekerjaannya..

Isu jilbab ini hanya satu dari gelitik politik menjelang pilpres. Walaupun harus kuakui bahwa isu jilbab ini memberikan hikmah buatku. Begini ceritanya,

Hanya aku satu-satunya yang tidak berjilbab di keluarga. Aku menanggalkan jilbab semenjak 9 tahun yang lalu. Ini cukup menjadi permasalahan yang pelik di dalam keluargaku. Meskipun banyak yang tersenyum dan menerimaku dengan hangat di tengah keluarga besar, namun aku tak terlalu naif untuk percaya bahwa mereka tak mencibir di belakangku.

Aku tetap berjilbab jika pulang ke rumah ibuku, ini kulakukan sebagai negosiasi. Ketika aku berada di wilayah kekuasaan ibuku, maka aku perlu menghormati dan mengikuti aturannya. Toh ibuku juga tahu bahwa selain di rumah aku tak memakai jilbab. Awalnya aku menolak untuk pulang dan memakai jilbab, namun setelah aku mendiskusikan ini dengan Rino, ia berhasil meyakinkanku bahwa penghormatan terhadap seorang ibu jauh lebih tinggi daripada sebuah idealisme yang ku anut. Aku ingat ia mengatakan : apa artinya mengorbankan idealisme hanya untuk 2 atau 3 hari dalam sebulan untuk seorang ibu yang jelas-jelas mengorbankan segalanya untuk anaknya sepanjang hidupnya.

Beberapa tahun yang lalu aku akhirnya berjibaku air mata dengan ibuku soal jilbab. Ibuku akhirnya dapat menerima hal ini setelah aku berjanji padanya bahwa aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada ketika aku berjilbab dulu. Dua idealisme yang bersebrangan akhirnya melebur. Pada akhirnya aku dan ibuku sadar bahwa soal aku berjilbab atau tidak bukan lagi sebuah persoalan besar. Kalaupun pada akhirnya aku berjilbab, itu adalah karena kesadaranku sendiri. Kami berdua berusaha sedemikian rupa untuk memperbaiki kualitas hubungan kami. Dan alhamdulilah, aku bahagia dengan hubungan kami kini.

Kembali ke isu jilbab menjelang pilpres.

Keluarga kecilku yang sebelumnya selalu melihat jilbab sebagai titik tolak awal keislaman seseorang tiba-tiba kini mulai tersadarkan. Kebetulan mereka mendukung SBY-Boediono. Pertanyaanku adalah : bagaimana bisa memilih mereka yang pendampingnya tak berjilbab?
Ibuku menjawab dengan gamblang bahwa yang akan memimpin negeri ini adalah SBY-Boediono, bukan istri mereka. Ia juga mengutip perkataan Tifatul Sembiring bahwa jilbab takkan menyelesaikan permasalahan negara. Aku sengaja memancing ibu dan kakak perempuanku mengenai isu jilbab ini, dan aku cukup bangga dengan pandangan mereka yang tak lagi begitu kolot melihat permasalahan jilbab.

Gelitik jilbab ini mengingatkanku pada sejarah jilbab di negeri ini. Jilbab yang tadinya bermuatan politis dan merupakan ikon perlawanan, kini telah menjadi bagian budaya populer., bahkan industri yang menggiurkan. Lucunya, jika dulu jilbab dipakai oleh orang-orang di bawah untuk melawan kekuasaan, kini justru sebaliknya, jilbab dipakai sebagai alat kekuasaan untuk meraih massa.

Siapapun yang anda pilih, bersikaplah bijak !

No comments:

Post a Comment