Wednesday, July 15, 2009

Rumah Soboman

Sepeda segera kuparkir tepat di sebelah kamarku. YinYang, kucing kesayanganku berlari kearahku. Dia tidak merindukanku. Ia berharap aku segera menyiapkan makan malam.

“ Tunggu sayang, Mama Inna masih cape.” Kataku.

Kupangku, kuciumi YinYang. Kubuka pintu kamar. Tas kuletakkan di atas meja. YinYang masih menciumi kedua kakiku. Bulu-bulunya yang berwarna hitam keabu-abuan di gosok-gosokannya ke kakiku.Mengeong.

“Ah, sebentar. Mama Inna ganti baju dulu.”

YinYang naik ke atas meja, mengendus tas ranselku. Mengeong lagi. Kubongkar tas ransel, kantung kresek hitam kuambil. Hadiah istimewa untuk YinYang, ayam bakar. YinYang menarik-narik celanaku kemudian menuju mangkuk makanannya, menunggu. Masih tetap mengeong.

“Selamat makan.”

YinYang langsung menggigit ayam bakar itu. Tidak lagi mengeong.

Aku lelah. Kurebahkan tubuh di atas matras. Kutatap YinYang sedang menikmati makan malamnya. Aku bersyukur dia ada di sini. Aku merasa kesepian. Aku rindu rumah Soboman.


***

Rumah itu berada di Soboman, sebuah kampung di Bantul, Jogjakarta. Satu-satunya rumah di ruas jalanan aspal yang kecil, menghadap ke selatan dan dikelilingi pesawahan. Rumah yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang tak di cat, di biarkan begitu saja. Tanaman merambat menghiasi dinding luar rumah. Bunga-bunga dan pohon cabai tergeletak begitu saja tepat di bawah jendela kamarku. Aku tinggal di sana bersama Nino, Codet dan Shanty. Nino, lelaki berumur 29 tahun dan berasal dari kediri adalah seorang pelukis lulusan ISI, Nino juga membuat patung dan instalasi. Codet sama-sama lulusan ISI, melukis dan artis tattoo. Shanty, seorang ibu beranak satu adalah seorang pembaca tarot. Tidak setiap hari Shanty bersama kami, ia hanya datang ke Jogja jika ada pekerjaan, sisanya ia bersama keluarganya di Semarang. Selain mereka, kami juga memiliki anggota keluarga lain di rumah ini. Mocca, Tetra, Yin dan Yang. Mocca adalah anjing milik Codet dan Tetra, anjing milik Nino. Sedangkan Yin dan Yang adalah kucing kesayanganku. Mereka hidup rukun, bahkan sejak bayi, Yin dan Yang diasuh oleh Mocca. Yin mati tertabrak mobil. Sejak saat itu Yang berubah nama, YinYang.

Rumah ini memiliki 6 kamar berukuran masing-masing 2x1,5 meter, 2 kamar dipakai sebagai gudang, sebuah ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Kamarku terletak di depan, tepat di samping ruang tamu. Dindingnya bercat hitam, kecuali bagian sebelah kanan. Dinding tersebut dilukis sedemikian rupa menyerupai papan catur. Di kotak itu terdapat wajah seorang perempuan tengah menunduk, dengan bunga kamboja terselip di telinga. Sisanya, kata-kata yang tersusun apik
menjadi sebuah puisi. Di dinding sebelah kiri terdapat sebuah lukisan dari Rino, pacarku. Lukisan kelopak bunga teratai. Setiap kelopak memiliki warna yang berbeda. Warna-warna tersebut adalah simbol aura. Rino melukisnya dengan kopi yang dicampur dengan cat minyak. Latarnya berwarna hijau, aku sendiri yang melukisnya. Jendelanya tanpa teralis, sisa-sisa kain perca putih disambung lem menjadi sebuah gorden. Selain lukisan itu, patung wajah Shiva, salah satu dewa umat Hindu, ada di sana. Tidak ada tempat tidur, hanya matras tipis berwarna hijau yang terhampar begitu saja. Tak ada lemari, kecuali beberapa kardus yang di lapisi kertas kado bermotif batik sebagai tempat menyimpan baju dan buku-buku. Bagian atap rumah kami tidak memiliki plafon. Seringkali aku gelisah ketika musim hujan tiba. Jika hujannya berangin, air akan masuk lewat sela-sela genteng. Aku harus mengamankan barang-barangku ke ruangan lain.

Di bagian belakang rumah ada kebun kecil. Kebun kami penuh oleh bunga dan tanaman. Ada anggrek, lidah buaya, pacar cina dan beberapa tanaman obat lainnya. Nino senang berkebun. Kadang teman Nino datang membawakan tanaman baru .Nino dan Codet membuat saung bambu beratap daun kelapa sebagai tempat kami menghabiskan waktu bersama. Kebun belakang ini adalah jantung dari rumah ini, studio terbuka bagi siapa saja. Ada sebuah meja kecil. Aku menyebutnya meja kecil bundar berputar. Sebetulnya meja itu adalah meja untuk membuat keramik dan patung, itu sebabnya meja itu bisa diputar. Jika Nino tidak memakainya, kami biasa menggunakannya untuk minum kopi bersama. Aku menulis di sini.

Pukul setengah enam pagi alarm akan berbunyi. Biasanya aku meditasi selama setengah jam, membersihkan rumah lalu menyiapkan kopi. Hampir dua jam setiap pagi, aku duduk di kebun belakang sembari menikmati kopi dan menulis. Dulu, sebelum Rino pulang ke Belanda, kami mengobrol di sini. Kami bisa menikmati pemandangan sawah dan pepohonan yang mengelilingi rumah. Sinar matahari dan kicauan burung akan membuat pagi hari lebih menyenangkan. Rino sangat suka alam. Impian kami, memiliki rumah kayu dengan halaman yang luas, di sebuah desa atau di pinggir pantai. Aku ingin memiliki kamar di lantai dua dengan teras menghadap laut atau sawah. Aku membayangkan sebuah meja dan kursi untuk menulis. Rino juga bisa melukis di sana. Jika tidak, ia bisa memiliki studionya sendiri. Aku ingin dapurku lengkap, karena aku suka memasak. Rino ingin memiliki kebun kecil, ia ingin menanam sayuran dan bunga.

Di suatu akhir minggu kami mengundang teman-teman untuk makan malam. Di kebun belakang, kami memasak dan mengobrol. Bagus Dwi Danto, Marsono, Bayu Widodo, Maya Whatserface, Pierluigi, Dennis Jaromil dan Annie Sloman adalah sebagian teman-teman yang datang menghabiskan waktu di kebun belakang. Ketika sebagian memasak, yang lain mengobrol atau memainkan gitar. Salah satu teman kami, Yoyo Jewe, biasanya akan membawa mini-pool yang terbuat dari plastik. Kami berendam sambil menikmati kopi atau teh hangat. Di kebun belakang ada sofa bekas berwarna coklat, diletakan begitu saja di dekat sumur tua, tepat menghadap sawah, sofa itu sudah rusak dan bolong-bolong. Kami menyebutnya sofa coklat cerewet, karena sofa tersebut biasa menjadi tempat curhat atau sekedar mengobrol. Aku sering duduk di sana dan menatap bintang di malam hari.

Ketika musim panen tiba dan sawah mulai mengering, tanahnya yang luas menjadi tempat bermain Mocca dan Tetra. Seminggu dua kali, Yoyo Jewe dan muridnya latihan menari di sana, di sore atau malam hari. Aku paling senang bermain lumpur bersama anak-anak kampung atau membantu pak tani membajak sawah. Seringkali aku lupa waktu. Ibuku sempat menyebutku hippies.

“ Bukan hippies mama, aku hanya pintar bersenang-senang saja.”



( menulis ini sebagai latihan menulis deskripsi untuk kelas "narasi" pantau Juni 2008 )

No comments:

Post a Comment