Aku merinding, air mataku bercucuran. Sebuah kisah telah dipercayakan padaku. Seorang perempuan mengkisahkan trauma yang ia alami sejak ia masih kecil. Pelecehan seksual dan pemerkosaan. Sekali lagi, aku menemukan diriku dalam bait-bait tulisannya.
Kisah yang penuh luka dan kesedihan sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Namun aku tak pernah kehilangan rasa haru setiap kali menerima cerita baru. Setiap cerita selalu unik. Aku mencintai pekerjaanku sebagai konselor. Bagiku ini adalah sebuah anugerah. Aku bersuka cita melihat bagaimana orang-orang mempercayakan kisah mereka, kesepian mereka, luka mereka bahkan tangisan mereka bersamaku. Bagiku adalah sebuah berkat ketika seseorang membiarkanku duduk di samping mereka dan membiarkanku melihat diri mereka apa adanya. Setiap kisah selalu memiliki ketegaran yang luar biasa. Kisah yang satu ini membuatku memutuskan untuk menulis tentang pengalamanku sendiri.
Aku masih kecil saat itu, mungkin 5 tahunan. Aku dan beberapa sepupuku biasa bermain bersama. Salah satu saudara jauhku, seorang lelaki remaja, sering ikut bermain dengan kami. Biasanya ia akan mengajak kami bermain gendong-gendongan. Ia akan menggendongku di punggungnya, kedua tangannya akan menahan tubuh kami agar tidak jatuh sedang kedua tanganku akan di kalungkan di lehernya. Kadang ia memainkan kedua tangannya menggelitik celana dalamku, dan aku akan meronta-ronta kegelian. Jari-jarinya lalu digesek-gesekan di permukaan celana dalam kecilku itu.Ia berhasil meyakinkanku bahwa itu adalah bagian dari permainan.
Aku tak pernah tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah, hingga suatu saat ketika aku kelas 1 SMP seorang teman datang padaku dan menangis tersedu-sedu. Ia bercerita tentang pertemuan dengan paman yang ia benci. Pamannya melakukan pelecehan seksual padanya sejak ia masih kecil. Mendengar ceritanya, aku hanya termangu. Aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan saudara ku itu dulu adalah sebuah pelecehan. Tiba-tiba hatiku sakit, tubuhku serasa kotor. Aku jijik pada tubuhku sendiri. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan itu terjadi, aku merasa begitu bodoh. Apa yang kutahu sebagai anak kecil saat itu?
Aku diajarkan baca tulis al-qur'an tapi tak seorang memberitahuku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan vaginaku. Jangankan itu, bilang 'memek' saja tidak boleh, lalu bagaimana aku tahu bagaimana caranya menjaga 'memek' ku ? Aku diajarkan untuk menghormati mereka yang lebih tua dan menyayangi mereka yang lebih muda tapi tak seorang pun memberitahuku bahwa mereka yang kita hormati dan sayangi dapat menyakiti kita dan bermain-main dengan tubuh kita.
Aku tak pernah menceritakan ini pada siapapun hingga aku beranjak dewasa. Selama belasan tahun aku bergumul dengan kebencian pada tubuhku sendiri. Aku teralienasi dari tubuhku sendiri. Aku menghindari pertemuan yang memungkinkan aku akan bertemu dengan saudara ku itu. Suatu ketika aku bertemu dengannya dan ia tersenyum padaku
“Waah Inna sekarang udah gede ya, padahal baru kemaren masih kecil.”
dan bagiku itu kedengaran seperti
“Waah Inna sekarang udah gede ya, padahal baru kemaren mainin memek-nya.”
Aku hanya satu dari sekian banyak perempuan yang teralienasi dari tubuhnya karena sebuah trauma masa kecil. Aku hanya satu suara, dan masih banyak ribuan suara lainnya yang terbekap dalam penjara sunyi mereka.
Pekerjaanku sebagai konselor telah banyak membantuku berdamai dengan tubuhku sendiri, diriku sendiri dan melihat peluang-peluang kekuatan dari balik cerita-cerita yang tragis. Aku belajar banyak dari mereka yang telah mempercayakan kisahnya padaku. Lewat kisah mereka aku menemukan kekuatan dan ketegaran. Lewat mereka juga aku menemukan motivasi untuk melakukan perubahan. Apa yang terjadi pada mereka dan aku, tak perlu terjadi pada anak-anak lainnya.
Aku muak untuk percaya bahwa moral dan agama adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan anak-anak kita. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia. Huh ! Moral dan agama juga yang akhirnya mempenjarakan suara-suara itu.
Moral dan Agama tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Apa yang bisa diperbuat para malaikat yang menyaksikan apa yang terjadi padaku dan ribuan anak-anak lainnya yang mengalami pelecehan seksual? Mencatatnya untuk hari akhir? Sedang kami harus bergumul dengan kebencian hingga hari akhir tiba? Mungkin sebagian dari kami sudah bunuh diri duluan karena tak lagi merasa hidup itu berharga, lalu akhirnya berakhir di neraka karena itu adalah perbuatan terlaknat. Sedangkan orang yang telah melecehkan kami mungkin akan menyelamatkan seekor anjing dari kehausan, dan itu membuatnya masuk surga. Lalu ?
Banyak yang bertanya padaku : Kamu gak malu? Gak takut ?
Bagiku, malu dan takut adalah setan.
Orang boleh mencibir, menistakan, namun tidak ada yang berhak mengambil hak ku untuk bersuara!
Aku berterimakasih pada tuhan yang menganugerahiku “ Tak Tahu Malu “ karena dengan itu aku bisa bersuara. Aku bisa dengan bebas berbagi pengalamanku tentang aborsi, pelecehan seksual, bahkan kekritisanku terhadap agama ku sendiri. Bagiku, inilah caraku berdekat dengan tuhan.
Ps: I dedicated this notes to all the girls I love. Never give up !
Kisah yang penuh luka dan kesedihan sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Namun aku tak pernah kehilangan rasa haru setiap kali menerima cerita baru. Setiap cerita selalu unik. Aku mencintai pekerjaanku sebagai konselor. Bagiku ini adalah sebuah anugerah. Aku bersuka cita melihat bagaimana orang-orang mempercayakan kisah mereka, kesepian mereka, luka mereka bahkan tangisan mereka bersamaku. Bagiku adalah sebuah berkat ketika seseorang membiarkanku duduk di samping mereka dan membiarkanku melihat diri mereka apa adanya. Setiap kisah selalu memiliki ketegaran yang luar biasa. Kisah yang satu ini membuatku memutuskan untuk menulis tentang pengalamanku sendiri.
Aku masih kecil saat itu, mungkin 5 tahunan. Aku dan beberapa sepupuku biasa bermain bersama. Salah satu saudara jauhku, seorang lelaki remaja, sering ikut bermain dengan kami. Biasanya ia akan mengajak kami bermain gendong-gendongan. Ia akan menggendongku di punggungnya, kedua tangannya akan menahan tubuh kami agar tidak jatuh sedang kedua tanganku akan di kalungkan di lehernya. Kadang ia memainkan kedua tangannya menggelitik celana dalamku, dan aku akan meronta-ronta kegelian. Jari-jarinya lalu digesek-gesekan di permukaan celana dalam kecilku itu.Ia berhasil meyakinkanku bahwa itu adalah bagian dari permainan.
Aku tak pernah tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah, hingga suatu saat ketika aku kelas 1 SMP seorang teman datang padaku dan menangis tersedu-sedu. Ia bercerita tentang pertemuan dengan paman yang ia benci. Pamannya melakukan pelecehan seksual padanya sejak ia masih kecil. Mendengar ceritanya, aku hanya termangu. Aku baru sadar bahwa apa yang dilakukan saudara ku itu dulu adalah sebuah pelecehan. Tiba-tiba hatiku sakit, tubuhku serasa kotor. Aku jijik pada tubuhku sendiri. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan itu terjadi, aku merasa begitu bodoh. Apa yang kutahu sebagai anak kecil saat itu?
Aku diajarkan baca tulis al-qur'an tapi tak seorang memberitahuku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan vaginaku. Jangankan itu, bilang 'memek' saja tidak boleh, lalu bagaimana aku tahu bagaimana caranya menjaga 'memek' ku ? Aku diajarkan untuk menghormati mereka yang lebih tua dan menyayangi mereka yang lebih muda tapi tak seorang pun memberitahuku bahwa mereka yang kita hormati dan sayangi dapat menyakiti kita dan bermain-main dengan tubuh kita.
Aku tak pernah menceritakan ini pada siapapun hingga aku beranjak dewasa. Selama belasan tahun aku bergumul dengan kebencian pada tubuhku sendiri. Aku teralienasi dari tubuhku sendiri. Aku menghindari pertemuan yang memungkinkan aku akan bertemu dengan saudara ku itu. Suatu ketika aku bertemu dengannya dan ia tersenyum padaku
“Waah Inna sekarang udah gede ya, padahal baru kemaren masih kecil.”
dan bagiku itu kedengaran seperti
“Waah Inna sekarang udah gede ya, padahal baru kemaren mainin memek-nya.”
Aku hanya satu dari sekian banyak perempuan yang teralienasi dari tubuhnya karena sebuah trauma masa kecil. Aku hanya satu suara, dan masih banyak ribuan suara lainnya yang terbekap dalam penjara sunyi mereka.
Pekerjaanku sebagai konselor telah banyak membantuku berdamai dengan tubuhku sendiri, diriku sendiri dan melihat peluang-peluang kekuatan dari balik cerita-cerita yang tragis. Aku belajar banyak dari mereka yang telah mempercayakan kisahnya padaku. Lewat kisah mereka aku menemukan kekuatan dan ketegaran. Lewat mereka juga aku menemukan motivasi untuk melakukan perubahan. Apa yang terjadi pada mereka dan aku, tak perlu terjadi pada anak-anak lainnya.
Aku muak untuk percaya bahwa moral dan agama adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan anak-anak kita. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia. Huh ! Moral dan agama juga yang akhirnya mempenjarakan suara-suara itu.
Moral dan Agama tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Apa yang bisa diperbuat para malaikat yang menyaksikan apa yang terjadi padaku dan ribuan anak-anak lainnya yang mengalami pelecehan seksual? Mencatatnya untuk hari akhir? Sedang kami harus bergumul dengan kebencian hingga hari akhir tiba? Mungkin sebagian dari kami sudah bunuh diri duluan karena tak lagi merasa hidup itu berharga, lalu akhirnya berakhir di neraka karena itu adalah perbuatan terlaknat. Sedangkan orang yang telah melecehkan kami mungkin akan menyelamatkan seekor anjing dari kehausan, dan itu membuatnya masuk surga. Lalu ?
Banyak yang bertanya padaku : Kamu gak malu? Gak takut ?
Bagiku, malu dan takut adalah setan.
Orang boleh mencibir, menistakan, namun tidak ada yang berhak mengambil hak ku untuk bersuara!
Aku berterimakasih pada tuhan yang menganugerahiku “ Tak Tahu Malu “ karena dengan itu aku bisa bersuara. Aku bisa dengan bebas berbagi pengalamanku tentang aborsi, pelecehan seksual, bahkan kekritisanku terhadap agama ku sendiri. Bagiku, inilah caraku berdekat dengan tuhan.
Ps: I dedicated this notes to all the girls I love. Never give up !
No comments:
Post a Comment