Saturday, May 09, 2009

Kucing aja tau !

He's just a kitten, all he wants is just playing and cuddling

Dua minggu terakhir ini cukup melelahkan, rencana perjalanan ke india cukup memakan energi, belum lagi sulitnya menyelesaikan masalah administrasi dan keuangan. Tidak ada lagi waktu untuk bermain dan mengobrol dengan Schakty. Praktisnya, urusan schakty kuserahkan pada Orin. Mulai dari menyiapkan makan, mandi hingga bermain. Toh secara finansial aku masih tetap memenuhi semua kebutuhan schakty, fikirku.

Setiap malam sebelum tidur biasanya aku akan bermain dengan schakty, ia akan menggigiti jempolku yang menyembul dari balik selimut.setelah lelah ia akan menyelinap di balik selimutku dan tertidur. Namun akhir-akhir ini aku terlalu lelah untuk bermain-main dengannya, aku akan tidur lebih dulu dari schakty.

Namun apa yang terjadi, schakty akan tetap menggigitiku, bahkan lebih kuat dari biasanya. Sakit luar biasa. Ini bukan main-main lagi. Aku akan mulai marah dan menepisnya untuk tak mendekatiku. Dan schakty akan tetap mendekatiku lalu menggigitiku. Terus begitu. Akhirnya marahku akan meledak dan tanpa sadar membentak nya keras. Yang terjadi adalah schakty menjauh dariku, tidak secara fisik, namun juga secara emosional. Ia lebih sering bermain dengan orin, bahkan lebih nyaman tidur di dekat orin daripada di dekatku.aku menjadi sedih.

Harus kuakui bahwa aku telah sangat egois sebagai seorang ibu. Aku terlalu mengeluh dengan rasa lelahku dan berharap schakty memahamiku. Aku lupa bahwa schakty hanya seekor anak kucing, ia tak paham semua itu, yang ia inginkan hanya bermain, mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Ia hanya ingin aku menyiapkan makan dengan tanganku sendiri, mengelusnya, tersenyum dan menyapanya setiap kali aku pulang ke rumah. That's it.

Aku belajar sesuatu dari kejadian ini. Jika seekor anak kucing bisa berperilaku seperti ini, apalagi seorang anak manusia? Berapa banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannnya, berfikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya bisa makan dan sekolah. Berapa banyak orangtua yang mengabaikan anaknya ketika pulang ke rumah karena mereka terlalu lelah bekerja seharian? Mereka justru akan marah-marah jika anaknya rewel tanpa memahami bahwa kerewelan anaknya adalah karena mereka butuh perhatian dan kasih sayang. Mereka lupa bahwa bagi anak-anaknya, uang bukan segalanya. Mereka hanya menginginkan waktu luang bersama orang tuanya, bercanda atau sekedar bermalas-malasan bersama. Berapa banyak anak yang kini lebih dekat pada pembantunya daripada pada orangtuanya. Tentu saja, karena pembantu mereka lah yang menyiapkan makanan, mengurus semua kebutuhannya, bahkan orang pertama yang mereka temui ketika mereka tiba di rumah.berapa banyak keluarga yang terjebak dalam situasi seperti ini?

Terimaka kasih schakty, mama belajar lagi kali ini.
Semoga, ketika aku menjadi seorang ibu dari anak manusia, aku bisa menjadi seorang ibu yang bijak.

No comments:

Post a Comment