Saturday, March 21, 2009

Capek Miskin !

Aku sudah capek miskin, kataku pada ibuku beberapa waktu yang lalu. Umurku genap 27 tahun dan aku belum punya penghasilan tetap. Semenjak setahun setengah yang lalu aku memantapkan hati untuk bekerja dan mengabdikan diri sebagai penulis dan konselor di Samsara, sebuah lembaga paska aborsi yang kudirikan bersama dengan teman-temanku. Hingga hari ini kami masih berdiri independen tanpa penyumbang dana. Semua orang yang bekerja tak di bayar bahkan kadang harus mengeluarkan uang sendiri untuk berbagai kegiatan. Aku sendiri tak punya waktu untuk mencari pekerjaan lain, fokusku kuberikan sepenuhnya untuk samsara. Satu-satunya penghasilan yang kupunya adalah jika aku diundang mengisi penyuluhan atau menjadi pembicara. Kupikir, sudah menjadi panggilan hatiku untuk mengabdikan diri di wilayah ini, apalagi aku sendiri paham bagaimana rasanya “sakit”. Mungkin kesalahanku yang terbesar adalah karena aku terlalu idealis. Saking idealisnya aku malah tak dapat membantu diriku sendiri, tak dapat memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari, paling tidak kewajiban untuk memberi makan diriku sendiri.
Kadang-kadang aku masih dibantu ibuku untuk bisa makan dan bertahan hidup. Keadaan seperti ini cukup menggerogoti harga diri dan rasa percaya diriku. aku butuh perubahan untuk bisa mencintai dan menghargai diriku sendiri lebih besar lagi.
Kadang aku menghabiskan waktu berargumen dengan ibuku, baginya aku tak punya pekerjaan. Meskipun aku menghabiskan separuh waktuku untuk menulis, melakukan konseling, rapat atau apapun, tetap baginya bukan sebuah pekerjaan karena tak ada bayaran yang kudapat.
“kenapa sih ribut terus mah?”kataku
“aku aja gak pernah mengeluh, aku nikmati ini sebagai bagian perjalanan hidupku,” sambungku
“miskin kok dinikmati” kata ibuku
Aku memahami kekhawatiran ibuku, ia ingin melihatku mandiri, ia ingin melihatku paling tidak berkecukupan. Aku satu-satunya anaknya yang belum menikah, dan di masa tuanya ia terlalu banyak mengkhawatirkan diriku ; siapa yang akan menjagaku jika ia tak ada? Siapa yang akan merawat dan mengasihiku jika ia tak ada?. Sulit bagiku meyakinkannya bahwa aku cukup bahagia dengan keadaanku, suami akan melengkapi kebahagiaanku namun takkan menjamin aku akan lebih bahagia, bukankan kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Jikapun aku menikah nanti, itu karena aku membutuhkan partner untuk saling mengasihi dan menemukan titik terindah sebagai manusia. Bukan untuk menyerahkan tanggung jawab atas diriku sendiri ke tangannya lalu berharap ia akan membahagiakanku. Ah, sudahlan. Aku paham mengapa ibuku berfikir demikian.
Di awal tahun 2009 ini aku dan rino mulai serius merencanakan hubungan kami ke depan. bukan hal yang mudah, rino adalah warga negara italy. merencanakan masa depan bersama butuh kerja keras dan pengorbanan. Di tengah situasi krisis global sekarang ini, sulit baginya menemukan pekerjaan dan mengumpulkan uang untuk kembali ke indonesia. Begitu juga untukku, aku butuh kesiapan mental dan finansial untu merencanakan masa depan kami.
Kali ini, aku mulai mengerti pesan ibuku. Dalam situasi seperti ini aku tak perlu khawatir berlebihan jika saja aku punya penghasilan tetap dan mandiri. Aku pun mulai berubah fikiran, saatnya aku mengubah prioritas hidupku.
Aku tetap ingin mengabdikan kerja dan karyaku untuk samsara. Namun untuk menunjang semua itu, aku harus memberi prioritas lebih pada diriku sendiri terutama dalam hal kebahagiaan dan finansial. Jika aku cukup tenang akan kondisi pribadiku, lebih seimbang secara body, mind and soul tentunya kerjaku untuk samsara akan lebih optimal. Tidak lagi bingung kelaparan ketika aku sedang melakukan konseling 
Akhirnya, dengan mengambil resiko yang tak mudah, sejak 2 minggu yang lalu aku mulai bisnis baru membuka warung makan kecil-kecilan, kuberi nama Roemah SchaktyDua minggu pertama warungku teramat sepi, belum ada untung yang kudapat. Kadang aku ingin menyerah. Namun aku tahu ini hanya bagian dari perjuangan. Boleh menangis, tak boleh menyerah, kataku pada diri sendiri. . Harapanku suatu saat roemah schakty tak hanya menjadi tempat makan namun juga menjadi tempat berkarya anak-anak muda. Sebuah benih untuk mimpi yang masih panjang.
Pelajaran berharga yang kudapat adalah : bagaimana bisa kita membantu orang lain jika kita tak dapat membantu diri kita sendiri, paling tidak memenuhi kewajiban pada diri sendiri : makan, istirahat yang cukup dan tempat tinggal yang pantas.

Semoga doaku dijawab tuhan,amin.

2 comments:

  1. wah,ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa,salut buat mbag inna

    ReplyDelete
  2. Salam kenal! Semoga usahanya lancar ya =)
    (stumbled on your blog accidentally, hehe)

    ReplyDelete