Oleh : Inna Hudaya
“Suatu saat kita akan mengenang ini, sejarah Samsara diawali dengan sepeda onthel.” kataku pada Tika. Siang itu kami baru saja selesai menemui salah satu pengajar di The Awareness, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Tika tertawa dan terus menggenjot sepedanya tepat di belakangku. Semoga tak hujan, doaku. Malam sebelumnya aku dan Tika kehujanan ketika masih dalam perjalanan pulang ke kos.
Bukan pertama kalinya aku dan Tika bersepeda di Pare. Agustus tahun lalu, kami tiba di desa ini. Tak hanya ke tempat kursus, kami bersepeda menikmati sore yang indah di tengah sawah dan menunggu matahari terbenam, atau sekedar berjalan-jalan ke candi peninggalan kerajaan Kadiri.
Kali ini berbeda, sepeda onthel tak hanya memberi kesenangan. Lebih dari itu, sepeda onthel adalah harapan.
***
Selasa, 20 Januari 2009. Pagi itu, pukul 8.30 becak mulai memasuki halaman depan kos Sanjaya. Sekilas kudengar suara Tika sedang mengobrol dengan seseorang.
“Tika!” teriakku pada Tika
Seorang lelaki menoleh ke arahku, di saat yang bersamaan Tika berlari menyambutku. Suasana menjadi ramai oleh kegirangan kami bertiga.
Kapit, lelaki yang bersama Tika saat itu sama-sama terkejut dengan kedatanganku.
“Kupikir kamu datang besok teh,” kata Kapit.
“Ya, kami sudah bertengkar memutuskan siapa yang akan menjemput mbak besok.” tambah Tika.
“Loh, kan sudah kubilang aku datang pagi ini.” jawabku.
“Nggak, di email mbak bilang rabu pagi baru nyampe.” kata tika lagi
“O ya? Ya sudah, biar kejutan.”
Kapit pamit pagi itu, aku dan tika menuju kamar kos. Aku menyewa sebuah kamar di lantai dua. Rp.22.500 untuk seminggu.
Aku mengenal Kapit Mei tahun 2008, saat itu aku datang ke Pare untuk belajar Bahasa Inggris. Belum sebulan aku berada di Pare, aku mulai merasa jenuh, aku butuh seorang teman untuk diskusi dan bertukar fikiran. Suatu hari aku bertemu Kapit, saat dia menjadi operator di warnet yang biasa ku kunjungi. Beberapa kali kuperhatikan baju dan celananya yang selalu berwarna hitam, dandanan yang cuek, bacaan yang cukup kiri dan postingan-postingan yang amat serius.
“Hmm, seorang kawan.” gumamku suatu hari. Sejak saat itu, aku memberanikan diri untuk ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, Di antaranya mengenai permasalahan aborsi dan perempuan. Entah kapan tepatnya Kapit resmi menjadi officer Samsara. Sama halnya seperti officer yang lain, keanggotaan di Samsara melalui diskusi-diskusi yang panjang. Seiring dengan waktu Kapit terlibat dalam kegiatan-kegiatan Samsara.
Aku mengenal Tika sejak Juli 2008, saat itu kami mengikuti kelas menulis “Narasi Pantau” yang di adakan di Jogja. Sebulan sejak perkenalan pertama kami, aku mengundang teman-teman kelas menulis untuk hadir dalam sebuah diskusi mengenai “Post Abortion Syndrome”. Siang itu, di sebuah gazebo kecil di sekitar jalan Taman Siswa, sekitar 20 orang datang untuk ikut berdiskusi. Tika, Ari, Danu dan Eko datang mewakili teman-teman kelas menulis.
Grace Susetyo, salah seorang officer Samsara membuka diskusi siang itu. Beberapa teman-teman cukup tertegun mendengar penjelasan Grace mengenai aborsi. Sebagian volunteer tampak tak asing dengan penjelasan Grace. Ya, sebagian besar yang hadir siang itu adalah volunteer PKBI. Permasalahan aborsi bukan sesuatu yang baru buat mereka.
“Aku cukup kaget, baru kali ini permasalahan aborsi di bicarakan oleh lebih dari 3 orang.” kata Eko siang itu.
Tika tak banyak berbicara saat itu, namun semenjak saat itu Tika mulai menunjukkan kepeduliannya dengan permasalahan aborsi. Aku tidak menawarkan Tika untuk bergabung dengan Samsara. Tika yang justru dengan antusias menunjukkan keinginannya untuk bergabung dengan Samsara.
“Ini masih project idealis, proses perekrutan terjadi secara alami. Siapapun yang peduli dan punya komitmen untuk melakukan perubahan, bisa bergabung dengan kami.” kataku setiap kali ada orang yang menanyakan tentang anggota Samsara.
Sebetulnya, bukan itu satu-satunya alasan kenapa aku tak berani mengajak orang untuk bergabung dengan Samsara. Hingga hari ini, kami belum memiliki funding. Semua dana yang kami miliki berasal dari teman-teman sendiri. Kadang, aku merasa sedih melihat antusiasme dan kepedulian teman-teman yang begitu besar untuk Samsara. Seharusnya, kerja keras mereka dihargai dengan pantas. Aku selalu saja terkagum-kagum dan bersyukur melihat semangat mereka yang mau bekerja tanpa pamrih. Semoga ini tak berlangsung lama, kataku dalam hati.
***
Kapit dan Tika adalah officer Samsara di bidang Edukasi dan Sosialisasi. Seminggu sebelumnya, Tika mengirimiku email dan mengajukan usul untuk melakukan sosialisasi Samsara di Pare, Kediri. Aku setuju dan segera menyiapkan perjalanan menuju Pare.
Pare adalah sebuah kecamatan di Kediri. Tepatnya di desa Tulung Rejo terdapat puluhan tempat kursus Bahasa Inggris dan asrama-asrama yang selalu ramai oleh para mahasiswa. Setiap bulannya, ribuan orang dari seluruh propinsi di Indonesia datang ke tempat ini untuk belajar bahasa inggris. Bulan Januari ini angka kedatangan mahasiswa meningkat, mereka datang belajar ke Pare untuk mengisi waktu liburan. Inilah yang membuat Pare menjadi amat menarik sebagai sasaran sosialisasi Samsara. Bulan Agustus tahun lalu, Samsara melakukan diskusi di salah satu asrama putra. Responnya cukup mengejutkan, mereka sangat antusias.
Setiap hari aku dan Tika bersepeda mengunjungi tempat-tempat kursus dan asrama. Dengan berbekal proposal, Tika menawarkan program diskusi mengenai aborsi untuk para siswa yang berada di tempat kursus atau asrama. Harus kuakui bahwa kemampuan Tika berdiplomasi jauh lebih unggul daripada aku. Biasanya mereka meminta diskusi dalam bahasa inggris, Tika akan sedikit menelan ludah setiap kali mendapat tawaran ini.
“Oke, it’s fine.” kuterima tawaran itu.
“Tapi mbak,...”
“Sudah, kita pasti bisa.” kataku menenangkan Tika.
Awalnya diskusi dilakukan dalam bahasa Inggris. Kuyakinkan diriku bahwa aku cukup percaya diri melakukan itu. Namun selalu saja, pada akhirnya diskusi akan berlanjut dalam bahasa Indonesia. Ini karena antusias yang tinggi dari para peserta, banyak pertanyaan yang kemudian sulit dikomunikasikan dalam bahasa Inggris.
“Ini yang kumaksud, ujungnya pasti bahasa indonesia.” kataku pada Tika. Kami hanya tertawa.
Diskusi biasanya akan dibuka oleh Tika atau Kapit dengan memperkenalkan Samsara sebagai sebuah lembaga pemulihan paska aborsi. Baru mendengar kata aborsi, kening para peserta sudah mulai berkerut. Aku akan memulai diskusi dengan melempar sebuah pertanyaan.
“Apa sih yang ada dalam fikiran kalian ketika pertama kali mendengar kata aborsi?” tanyaku pada para peserta.
Jawaban yang paling umum terlontar adalah :
“Pembunuhan,”
“Dosa besar,”
“Kriminal,”
“Akibat sex bebas,”
“Masalah perempuan,”
“Tak bertanggung jawab.”
Dalam sosialisasi kali ini, Samsara memilih format diskusi daripada presentasi. Melalui forum diskusi kami bisa mengetahui sejauh mana informasi yang mereka miliki seputar aborsi. Tidak semua materi kami berikan secara langsung, materi yang kami berikan disesuaikan dengan kebutuhan para peserta.
Para pengajar dan peserta memberikan respon yang sangat positif dengan diskusi yang kami lakukan. Biasanya para perempuan akan menjerit setiap kali kami menceritakan prosedur aborsi ilegal yang menyakitkan. Beberapa lelaki dan perempuan akan termangu-mangu dan sedikit tegang ketika kami menuturkan apa saja efek dan resiko dari aborsi. Tidak hanya efek dan resiko secara fisik, namun juga efeknya pada mentalitas seseorang. Ruangan akan menjadi gaduh ketika diskusi mengarah kemasalah seks dan kesehatan reproduksi. Satu demi satu akan berebut angkat tangan untuk mengajukan pertanyaan seputar seks dan perilaku seks.
Hingga Minggu 25 Januari 2009, lebih dari 60 orang remaja seksual aktif telah mengikuti program diskusi yang kami lakukan. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan program diskusi di beberapa tempat lainnya yang sudah terjadwal. Setiap sesi berlangsung selama satu setengah jam, namun biasanya mereka akan meminta waktu lebih banyak hingga dua setengah jam. Yang menarik adalah, kebanyakan dari para peserta diskusi adalah laki-laki. Hal ini menjadi berita gembira, karena hal ini merupakan kesempatan emas untuk mengedukasi dan meng-empower para lelaki dalam hal mengambil peran dan tanggung jawab yang sama dalam permasalahan aborsi.
“Nggak berasa kalo ngomongin masalah ini.” kata salah seorang pengajar.
“Ya, teman-teman sangat antusias bertanya karena jarang sekali ada forum untuk membicarakan hal ini secara terbuka.” kataku.
Dari beberapa diskusi yang kami lakukan, tampak para peserta tidak cukup puas. Beberapa tempat bahkan meminta program ini diteruskan secara berkala untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka akan informasi seputar seks, kesehatan reproduksi dan aborsi. Tak hanya itu, beberapa saat setelah diskusi biasanya beberapa peserta akan kembali menghubungi kami melalui sms atau email untuk mengetahui informasi lebih banyak. Sebagian karena ingin tahu tentang seks yang aman, menanyakan resiko aborsi atau bahkan mereka yang pernah mengalami sindrom paska aborsi.
***
“Emangnya cuma pejabat yang bisa sosialisasi” celoteh tika pada suatu hari. Kami tertawa bersama.
Setiap hari aku dan Tika menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi mengenai permasalahan aborsi. Ternyata, melalui isu aborsi kami bisa belajar banyak hal. Isu aborsi merupakan hal yang sangat rumit. Permasalahannya tidak hanya pada isu legal atau ilegal, bukan sekedar masalah kesehatan reproduksi. Namun juga menjadi masalah agama, budaya,hukum, bahkan isu keluarga.
“7.123 per hari. Gila”
“Apa?” tanyaku pada Tika.
“Kalau di Indonesia ada 2.6 juta kasus aborsi per tahun, itu artinya ada 7.123 kasus aborsi per hari” jelas Tika.
“Berarti 296.8 kasus perjam” aku diam-diam menghitung lagi.
“ Berarti sekitar 5 kejadian setiap detiknya” aku menelan ludah. Aku baru menyadari hal itu.
Hanya Rp.150.000 jumlah dana untuk sosialisasi selama seminggu di Pare, namun kami percaya bahwa dengan uang itu kami bisa melakukan banyak hal. Dengan roda-roda besi yang hampir karatan, jok sepeda kulit yang makin tipis dan mengeras, sepeda onthel membantu kami berkeliling kampung untuk menanam harapan di setiap pojok desa ini. Benih-benih harapan ini akan di bawa pulang oleh para remaja ke kampung, kampus dan keluarga mereka. Harapan akan sebuah perubahan. Tidak perlu menunggu dana yang besar untuk melakukan sebuah perubahan, bukan begitu?
Aku memberikan penghargaan yang tinggi pada Tika dan Kapit yang telah mengusulkan program sosialisasi ini terealisasi di Pare. Bagi sebagian orang, mungkin program yang kami lakukan tak berarti apa-apa. Namun aku merasakan betapa program ini menjadi sangat penting. Kita melakukan perubahan melalui hal kecil.
“Love your Body, Save your Life !”
“Suatu saat kita akan mengenang ini, sejarah Samsara diawali dengan sepeda onthel.” kataku pada Tika. Siang itu kami baru saja selesai menemui salah satu pengajar di The Awareness, sebuah tempat kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Tika tertawa dan terus menggenjot sepedanya tepat di belakangku. Semoga tak hujan, doaku. Malam sebelumnya aku dan Tika kehujanan ketika masih dalam perjalanan pulang ke kos.
Bukan pertama kalinya aku dan Tika bersepeda di Pare. Agustus tahun lalu, kami tiba di desa ini. Tak hanya ke tempat kursus, kami bersepeda menikmati sore yang indah di tengah sawah dan menunggu matahari terbenam, atau sekedar berjalan-jalan ke candi peninggalan kerajaan Kadiri.
Kali ini berbeda, sepeda onthel tak hanya memberi kesenangan. Lebih dari itu, sepeda onthel adalah harapan.
***
Selasa, 20 Januari 2009. Pagi itu, pukul 8.30 becak mulai memasuki halaman depan kos Sanjaya. Sekilas kudengar suara Tika sedang mengobrol dengan seseorang.
“Tika!” teriakku pada Tika
Seorang lelaki menoleh ke arahku, di saat yang bersamaan Tika berlari menyambutku. Suasana menjadi ramai oleh kegirangan kami bertiga.
Kapit, lelaki yang bersama Tika saat itu sama-sama terkejut dengan kedatanganku.
“Kupikir kamu datang besok teh,” kata Kapit.
“Ya, kami sudah bertengkar memutuskan siapa yang akan menjemput mbak besok.” tambah Tika.
“Loh, kan sudah kubilang aku datang pagi ini.” jawabku.
“Nggak, di email mbak bilang rabu pagi baru nyampe.” kata tika lagi
“O ya? Ya sudah, biar kejutan.”
Kapit pamit pagi itu, aku dan tika menuju kamar kos. Aku menyewa sebuah kamar di lantai dua. Rp.22.500 untuk seminggu.
Aku mengenal Kapit Mei tahun 2008, saat itu aku datang ke Pare untuk belajar Bahasa Inggris. Belum sebulan aku berada di Pare, aku mulai merasa jenuh, aku butuh seorang teman untuk diskusi dan bertukar fikiran. Suatu hari aku bertemu Kapit, saat dia menjadi operator di warnet yang biasa ku kunjungi. Beberapa kali kuperhatikan baju dan celananya yang selalu berwarna hitam, dandanan yang cuek, bacaan yang cukup kiri dan postingan-postingan yang amat serius.
“Hmm, seorang kawan.” gumamku suatu hari. Sejak saat itu, aku memberanikan diri untuk ngobrol dan diskusi tentang banyak hal, Di antaranya mengenai permasalahan aborsi dan perempuan. Entah kapan tepatnya Kapit resmi menjadi officer Samsara. Sama halnya seperti officer yang lain, keanggotaan di Samsara melalui diskusi-diskusi yang panjang. Seiring dengan waktu Kapit terlibat dalam kegiatan-kegiatan Samsara.
Aku mengenal Tika sejak Juli 2008, saat itu kami mengikuti kelas menulis “Narasi Pantau” yang di adakan di Jogja. Sebulan sejak perkenalan pertama kami, aku mengundang teman-teman kelas menulis untuk hadir dalam sebuah diskusi mengenai “Post Abortion Syndrome”. Siang itu, di sebuah gazebo kecil di sekitar jalan Taman Siswa, sekitar 20 orang datang untuk ikut berdiskusi. Tika, Ari, Danu dan Eko datang mewakili teman-teman kelas menulis.
Grace Susetyo, salah seorang officer Samsara membuka diskusi siang itu. Beberapa teman-teman cukup tertegun mendengar penjelasan Grace mengenai aborsi. Sebagian volunteer tampak tak asing dengan penjelasan Grace. Ya, sebagian besar yang hadir siang itu adalah volunteer PKBI. Permasalahan aborsi bukan sesuatu yang baru buat mereka.
“Aku cukup kaget, baru kali ini permasalahan aborsi di bicarakan oleh lebih dari 3 orang.” kata Eko siang itu.
Tika tak banyak berbicara saat itu, namun semenjak saat itu Tika mulai menunjukkan kepeduliannya dengan permasalahan aborsi. Aku tidak menawarkan Tika untuk bergabung dengan Samsara. Tika yang justru dengan antusias menunjukkan keinginannya untuk bergabung dengan Samsara.
“Ini masih project idealis, proses perekrutan terjadi secara alami. Siapapun yang peduli dan punya komitmen untuk melakukan perubahan, bisa bergabung dengan kami.” kataku setiap kali ada orang yang menanyakan tentang anggota Samsara.
Sebetulnya, bukan itu satu-satunya alasan kenapa aku tak berani mengajak orang untuk bergabung dengan Samsara. Hingga hari ini, kami belum memiliki funding. Semua dana yang kami miliki berasal dari teman-teman sendiri. Kadang, aku merasa sedih melihat antusiasme dan kepedulian teman-teman yang begitu besar untuk Samsara. Seharusnya, kerja keras mereka dihargai dengan pantas. Aku selalu saja terkagum-kagum dan bersyukur melihat semangat mereka yang mau bekerja tanpa pamrih. Semoga ini tak berlangsung lama, kataku dalam hati.
***
Kapit dan Tika adalah officer Samsara di bidang Edukasi dan Sosialisasi. Seminggu sebelumnya, Tika mengirimiku email dan mengajukan usul untuk melakukan sosialisasi Samsara di Pare, Kediri. Aku setuju dan segera menyiapkan perjalanan menuju Pare.
Pare adalah sebuah kecamatan di Kediri. Tepatnya di desa Tulung Rejo terdapat puluhan tempat kursus Bahasa Inggris dan asrama-asrama yang selalu ramai oleh para mahasiswa. Setiap bulannya, ribuan orang dari seluruh propinsi di Indonesia datang ke tempat ini untuk belajar bahasa inggris. Bulan Januari ini angka kedatangan mahasiswa meningkat, mereka datang belajar ke Pare untuk mengisi waktu liburan. Inilah yang membuat Pare menjadi amat menarik sebagai sasaran sosialisasi Samsara. Bulan Agustus tahun lalu, Samsara melakukan diskusi di salah satu asrama putra. Responnya cukup mengejutkan, mereka sangat antusias.
Setiap hari aku dan Tika bersepeda mengunjungi tempat-tempat kursus dan asrama. Dengan berbekal proposal, Tika menawarkan program diskusi mengenai aborsi untuk para siswa yang berada di tempat kursus atau asrama. Harus kuakui bahwa kemampuan Tika berdiplomasi jauh lebih unggul daripada aku. Biasanya mereka meminta diskusi dalam bahasa inggris, Tika akan sedikit menelan ludah setiap kali mendapat tawaran ini.
“Oke, it’s fine.” kuterima tawaran itu.
“Tapi mbak,...”
“Sudah, kita pasti bisa.” kataku menenangkan Tika.
Awalnya diskusi dilakukan dalam bahasa Inggris. Kuyakinkan diriku bahwa aku cukup percaya diri melakukan itu. Namun selalu saja, pada akhirnya diskusi akan berlanjut dalam bahasa Indonesia. Ini karena antusias yang tinggi dari para peserta, banyak pertanyaan yang kemudian sulit dikomunikasikan dalam bahasa Inggris.
“Ini yang kumaksud, ujungnya pasti bahasa indonesia.” kataku pada Tika. Kami hanya tertawa.
Diskusi biasanya akan dibuka oleh Tika atau Kapit dengan memperkenalkan Samsara sebagai sebuah lembaga pemulihan paska aborsi. Baru mendengar kata aborsi, kening para peserta sudah mulai berkerut. Aku akan memulai diskusi dengan melempar sebuah pertanyaan.
“Apa sih yang ada dalam fikiran kalian ketika pertama kali mendengar kata aborsi?” tanyaku pada para peserta.
Jawaban yang paling umum terlontar adalah :
“Pembunuhan,”
“Dosa besar,”
“Kriminal,”
“Akibat sex bebas,”
“Masalah perempuan,”
“Tak bertanggung jawab.”
Dalam sosialisasi kali ini, Samsara memilih format diskusi daripada presentasi. Melalui forum diskusi kami bisa mengetahui sejauh mana informasi yang mereka miliki seputar aborsi. Tidak semua materi kami berikan secara langsung, materi yang kami berikan disesuaikan dengan kebutuhan para peserta.
Para pengajar dan peserta memberikan respon yang sangat positif dengan diskusi yang kami lakukan. Biasanya para perempuan akan menjerit setiap kali kami menceritakan prosedur aborsi ilegal yang menyakitkan. Beberapa lelaki dan perempuan akan termangu-mangu dan sedikit tegang ketika kami menuturkan apa saja efek dan resiko dari aborsi. Tidak hanya efek dan resiko secara fisik, namun juga efeknya pada mentalitas seseorang. Ruangan akan menjadi gaduh ketika diskusi mengarah kemasalah seks dan kesehatan reproduksi. Satu demi satu akan berebut angkat tangan untuk mengajukan pertanyaan seputar seks dan perilaku seks.
Hingga Minggu 25 Januari 2009, lebih dari 60 orang remaja seksual aktif telah mengikuti program diskusi yang kami lakukan. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan program diskusi di beberapa tempat lainnya yang sudah terjadwal. Setiap sesi berlangsung selama satu setengah jam, namun biasanya mereka akan meminta waktu lebih banyak hingga dua setengah jam. Yang menarik adalah, kebanyakan dari para peserta diskusi adalah laki-laki. Hal ini menjadi berita gembira, karena hal ini merupakan kesempatan emas untuk mengedukasi dan meng-empower para lelaki dalam hal mengambil peran dan tanggung jawab yang sama dalam permasalahan aborsi.
“Nggak berasa kalo ngomongin masalah ini.” kata salah seorang pengajar.
“Ya, teman-teman sangat antusias bertanya karena jarang sekali ada forum untuk membicarakan hal ini secara terbuka.” kataku.
Dari beberapa diskusi yang kami lakukan, tampak para peserta tidak cukup puas. Beberapa tempat bahkan meminta program ini diteruskan secara berkala untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka akan informasi seputar seks, kesehatan reproduksi dan aborsi. Tak hanya itu, beberapa saat setelah diskusi biasanya beberapa peserta akan kembali menghubungi kami melalui sms atau email untuk mengetahui informasi lebih banyak. Sebagian karena ingin tahu tentang seks yang aman, menanyakan resiko aborsi atau bahkan mereka yang pernah mengalami sindrom paska aborsi.
***
“Emangnya cuma pejabat yang bisa sosialisasi” celoteh tika pada suatu hari. Kami tertawa bersama.
Setiap hari aku dan Tika menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi mengenai permasalahan aborsi. Ternyata, melalui isu aborsi kami bisa belajar banyak hal. Isu aborsi merupakan hal yang sangat rumit. Permasalahannya tidak hanya pada isu legal atau ilegal, bukan sekedar masalah kesehatan reproduksi. Namun juga menjadi masalah agama, budaya,hukum, bahkan isu keluarga.
“7.123 per hari. Gila”
“Apa?” tanyaku pada Tika.
“Kalau di Indonesia ada 2.6 juta kasus aborsi per tahun, itu artinya ada 7.123 kasus aborsi per hari” jelas Tika.
“Berarti 296.8 kasus perjam” aku diam-diam menghitung lagi.
“ Berarti sekitar 5 kejadian setiap detiknya” aku menelan ludah. Aku baru menyadari hal itu.
Hanya Rp.150.000 jumlah dana untuk sosialisasi selama seminggu di Pare, namun kami percaya bahwa dengan uang itu kami bisa melakukan banyak hal. Dengan roda-roda besi yang hampir karatan, jok sepeda kulit yang makin tipis dan mengeras, sepeda onthel membantu kami berkeliling kampung untuk menanam harapan di setiap pojok desa ini. Benih-benih harapan ini akan di bawa pulang oleh para remaja ke kampung, kampus dan keluarga mereka. Harapan akan sebuah perubahan. Tidak perlu menunggu dana yang besar untuk melakukan sebuah perubahan, bukan begitu?
Aku memberikan penghargaan yang tinggi pada Tika dan Kapit yang telah mengusulkan program sosialisasi ini terealisasi di Pare. Bagi sebagian orang, mungkin program yang kami lakukan tak berarti apa-apa. Namun aku merasakan betapa program ini menjadi sangat penting. Kita melakukan perubahan melalui hal kecil.
“Love your Body, Save your Life !”
saya suka tulisan ini. sekali waktu ke biliknya eko ya...
ReplyDelete