Kupikir aku baik-baik saja, namun lelah sepertinya mulai menggerogoti tubuhku, dengan mata yang mulai terkantuk, kuraih sebatang rokok Djarum Black dan menyulutnya. Kuharap sedikit nikotin bisa membuatku terjaga. Tika sudah tertidur lebih dulu, bukan cuma aku yang lelah.
Sudah seminggu aku berada di pare, Kediri. Aku, Tika dan Kapit tengah melakukan sosialisasi mengenai aborsi di kampung ini. Selama itu pula aku dan tika berkeliling desa ini dengan sepeda untuk melakukan diskusi dengan para siswa yang tengah belajar bahasa inggris di kampung ini. Di luar dugaan kami, sosialisasi yang dilakukan di sini mendapat respon positif. Para peserta diskusi sangat antusias dan aktif memberikan pertanyaan seputar seks, kesehatan reproduksi dan kaitannya dengan aborsi. Hingga hari ini kami telah melakukan diskusi dengan lebih dari 125 lelaki dan perempuan usia 17-28 tahun.
Aku sangat senang, saking semangatnya aku bahkan lupa pada diriku sendiri. Malam ini, tiba-tiba aku merasa tubuhku kehilangan begitu banyak energi. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah, tidur.
***
Ketika aku bangun keesokan harinya, kulihat tika masih meringkuk di tempat tidur. Matahari belum muncul, di luar sana masih berkabut. Tak seperti yang kubayangkan, sebagian tubuhku masih merasa lelah. Hanya sebatang rokok djarum black slimz yang tersisa, jatah tika yang terakhir. Aku tetap menyulutnya dan berharap tika diam-diam akan mengerti. Tidak ada kopi pagi ini, ransum kopi sudah tak bersisa. Huh, aku tak tahu apa yang hendak kulakukan pagi ini.
Sisa obrolan semalam masih terngiang di kepalaku. Seorang sahabatku mungkin takkan melanjutkan kuliah. Itu mungkin sebabnya aku merasa lebih gelisah. Aku hendak membantu namun tak tahu bantuan apa yang bisa kutawarkan padanya.
Aku mengenalnya hampir setahun yang lalu ketika aku pertama kali tiba di kampung ini. Kami sama-sama belum menyelesaikan kuliah, dengan alasan yang berbeda. Jogja, menjadi tempat kami kuliah dulu. Di sanalah kami sempat menggantungkan impian. Anehnya, aku justru mengenalnya ketika aku tiba di kampung ini.
Pertengahan tahun lalu aku mendapat kabar gembira. Ia akhirnya kembali masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi di Kediri. Aku bahagia untuknya. Jalan mulai terbuka dan mimpinya sedikit demi sedikit mulai terwujud. Aku juga saat itu sudah mulai kembali kuliah di Universitas Terbuka.
Malam tadi, tika menyampaikan kabar itu untukku. Sahabatku itu mungkin tidak lanjut kuliah lagi. Aku termenung. Pada saat yang sama aku juga mengingat diriku. Aku juga seharusnya kuliah namun aku belum sempat kuliah lagi semester ini.
***
Sedari kecil mimpiku selalu ingin sekolah tinggi. Suatu hari kusampaikan pada ibuku bahwa aku tak menginginkan harta warisan apapun dari kedua orangtuaku selain meminta mereka untuk menyekolahkanku setinggi mungkin. Aku menangis saat itu. aku masih sekolah dasar, aku tak tahu dari mana aku punya fikiran itu.
Waktu terus berlalu dan keadaan telah berubah. Fikiranku sebagai orang yang lebih dewasa dengan pengalaman yang lebih banyak tidak membuatku menjadi lebih bijak dari fikiran seorang anak kecil pada saat itu. Mimpiku, keinginanku untuk sekolah tinggi belum sempat kuwujudkan hingga hari ini. Aku sendiri yang telah membuat jalanku sedemikian rupa berubah. Dengan tanganku, kurusak mimpi seorang anak kecil yang hanya percaya pada kebaikan dan perubahan.
Aku bisa saja membela diri dengan meyalahkan keadaan atas apa yang terjadi. Bahwa kegagalanku menyelesaikan studi tidak sepenuhnya kesalahanku. Namun di dada ini, aku tahu bahwa aku punya banyak pilihan untuk berkutat di jalanku sendiri. Dengan tanganku aku membuat pilihan yang salah, memutuskan bahwa jalanku akan berubah.
Jika ayahku masih ada, rasa bersalahku akan semakin memuncak. Harus kuakui bahwa aku telah banyak mengecewakan ayahku. Aku adalah anak kesayangannya. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, namaku berulang kali di sebutnya, di titipkannya aku pada saudara-saudaraku yang lain. Aku masih ingat ketika adikku mengirimkan sepucuk surat yang di selipkannya di bukuku. Dengan derai air mata kubaca tiap kata demi kata yang menusuk hatiku. Ia menulis betapa aku adalah anak kesayangan ayahku, betapa ayah akan berbuat apa saja untuk membelaku. Namun adikku kecewa pada perilakuku yang selalu saja mengecewakan ayahku. Kakak perempuanku sedemikian rupa menutup-nutupi kanakalanku di depan ayahku hanya untuk membuatnya tak kecewa padaku.
Aku minta maaf ayah...
7 tahun berlalu dan rasanya masih kemaren kami mengobrol di teras rumahku. Namun aku belum juga mewujudkan impianku, impian ayahku pula.
Detik ini kutanyakan pada diriku sendiri, apakah sedemikian mudah aku kan menyerah? Menyerah pada umur, keadaan dan uang yang membuatku tertahan tak melanjutkan kuliah?
“inna, jika kau tak punya kekuatan untuk dirimu sendiri, lakukan ini untuk ayahmu, penuhi janjimu!”
Amin.amin.amin.
Sudah seminggu aku berada di pare, Kediri. Aku, Tika dan Kapit tengah melakukan sosialisasi mengenai aborsi di kampung ini. Selama itu pula aku dan tika berkeliling desa ini dengan sepeda untuk melakukan diskusi dengan para siswa yang tengah belajar bahasa inggris di kampung ini. Di luar dugaan kami, sosialisasi yang dilakukan di sini mendapat respon positif. Para peserta diskusi sangat antusias dan aktif memberikan pertanyaan seputar seks, kesehatan reproduksi dan kaitannya dengan aborsi. Hingga hari ini kami telah melakukan diskusi dengan lebih dari 125 lelaki dan perempuan usia 17-28 tahun.
Aku sangat senang, saking semangatnya aku bahkan lupa pada diriku sendiri. Malam ini, tiba-tiba aku merasa tubuhku kehilangan begitu banyak energi. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah, tidur.
***
Ketika aku bangun keesokan harinya, kulihat tika masih meringkuk di tempat tidur. Matahari belum muncul, di luar sana masih berkabut. Tak seperti yang kubayangkan, sebagian tubuhku masih merasa lelah. Hanya sebatang rokok djarum black slimz yang tersisa, jatah tika yang terakhir. Aku tetap menyulutnya dan berharap tika diam-diam akan mengerti. Tidak ada kopi pagi ini, ransum kopi sudah tak bersisa. Huh, aku tak tahu apa yang hendak kulakukan pagi ini.
Sisa obrolan semalam masih terngiang di kepalaku. Seorang sahabatku mungkin takkan melanjutkan kuliah. Itu mungkin sebabnya aku merasa lebih gelisah. Aku hendak membantu namun tak tahu bantuan apa yang bisa kutawarkan padanya.
Aku mengenalnya hampir setahun yang lalu ketika aku pertama kali tiba di kampung ini. Kami sama-sama belum menyelesaikan kuliah, dengan alasan yang berbeda. Jogja, menjadi tempat kami kuliah dulu. Di sanalah kami sempat menggantungkan impian. Anehnya, aku justru mengenalnya ketika aku tiba di kampung ini.
Pertengahan tahun lalu aku mendapat kabar gembira. Ia akhirnya kembali masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi di Kediri. Aku bahagia untuknya. Jalan mulai terbuka dan mimpinya sedikit demi sedikit mulai terwujud. Aku juga saat itu sudah mulai kembali kuliah di Universitas Terbuka.
Malam tadi, tika menyampaikan kabar itu untukku. Sahabatku itu mungkin tidak lanjut kuliah lagi. Aku termenung. Pada saat yang sama aku juga mengingat diriku. Aku juga seharusnya kuliah namun aku belum sempat kuliah lagi semester ini.
***
Sedari kecil mimpiku selalu ingin sekolah tinggi. Suatu hari kusampaikan pada ibuku bahwa aku tak menginginkan harta warisan apapun dari kedua orangtuaku selain meminta mereka untuk menyekolahkanku setinggi mungkin. Aku menangis saat itu. aku masih sekolah dasar, aku tak tahu dari mana aku punya fikiran itu.
Waktu terus berlalu dan keadaan telah berubah. Fikiranku sebagai orang yang lebih dewasa dengan pengalaman yang lebih banyak tidak membuatku menjadi lebih bijak dari fikiran seorang anak kecil pada saat itu. Mimpiku, keinginanku untuk sekolah tinggi belum sempat kuwujudkan hingga hari ini. Aku sendiri yang telah membuat jalanku sedemikian rupa berubah. Dengan tanganku, kurusak mimpi seorang anak kecil yang hanya percaya pada kebaikan dan perubahan.
Aku bisa saja membela diri dengan meyalahkan keadaan atas apa yang terjadi. Bahwa kegagalanku menyelesaikan studi tidak sepenuhnya kesalahanku. Namun di dada ini, aku tahu bahwa aku punya banyak pilihan untuk berkutat di jalanku sendiri. Dengan tanganku aku membuat pilihan yang salah, memutuskan bahwa jalanku akan berubah.
Jika ayahku masih ada, rasa bersalahku akan semakin memuncak. Harus kuakui bahwa aku telah banyak mengecewakan ayahku. Aku adalah anak kesayangannya. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, namaku berulang kali di sebutnya, di titipkannya aku pada saudara-saudaraku yang lain. Aku masih ingat ketika adikku mengirimkan sepucuk surat yang di selipkannya di bukuku. Dengan derai air mata kubaca tiap kata demi kata yang menusuk hatiku. Ia menulis betapa aku adalah anak kesayangan ayahku, betapa ayah akan berbuat apa saja untuk membelaku. Namun adikku kecewa pada perilakuku yang selalu saja mengecewakan ayahku. Kakak perempuanku sedemikian rupa menutup-nutupi kanakalanku di depan ayahku hanya untuk membuatnya tak kecewa padaku.
Aku minta maaf ayah...
7 tahun berlalu dan rasanya masih kemaren kami mengobrol di teras rumahku. Namun aku belum juga mewujudkan impianku, impian ayahku pula.
Detik ini kutanyakan pada diriku sendiri, apakah sedemikian mudah aku kan menyerah? Menyerah pada umur, keadaan dan uang yang membuatku tertahan tak melanjutkan kuliah?
“inna, jika kau tak punya kekuatan untuk dirimu sendiri, lakukan ini untuk ayahmu, penuhi janjimu!”
Amin.amin.amin.
Kemampuan...? Ya, kamu memilikinya,
ReplyDeleteKemauan & kesungguhan...? Harus kau bentengi dirimu dgn kemauan dan kesungguhan yg keras... Yakin kamu bisa menunaikan janjimu, pada Almarhum, pada keluarga dan pada dirimu sendiri.
"Coz Ur My Sist..."