Selasa pagi.
Selama setengah jam aku duduk
bersama seorang ibu dan bapak tua sembari menunggu kantor UT buka. Pagi yang
cerah tiba-tiba jadi suram dengan perbincangan mengenai semrawutnya kota
Jakarta. Si ibu yang merupakan salah seorang pegawai di Pemda Jakarta bercerita
tentang dana sosialisasi pemerintahan yang di kurangi oleh kegubernuran untuk
menutupi dana kampanye Gubernur baru kemarin, belum lagi mengenai wartawan
“amplop” yang sering memeras orang-orang pemerintahan untuk menutupi kasus
mereka. Dengan bibirnya yang monyong si Ibu terus menggerutu tentang kota
Jakarta yang mata duitan dan penuh korupsi. Si bapak tua menanggapinya dengan
cerita yang sama tentang bagaimana Kantor Pos berselisih dengan UT karena dana
mahasiswa yang di kirim melalui kantor pos ternyata tidak di setorkan ke UT
Pusat sehingga pihak UT berselisih dengan mahasiswa. Masih banyak cerita kota
Jakarta yang terus memekakan telingaku. Aku hanya terdiam mendengarkan keduanya
berceloteh tentang Jakarta. Aih, Jakarta…
Telingaku dalam keadaan auto
pilot ketika fikiranku melayang pada suatu pagi yang cerah dengan matahari
merah yang tersembul di ujung langit…aku memimpikan secangkir kopi hangat dan
sebatang rokok di tanganku….ada bentangan laut luas berwarna biru yang menenangkan
kedua pelupuk mataku…
Ah, aku lebih suka pagi dalam
dunia khayalku sendiri daripada harus bersedih mendengar keluh kesah tentang
Jakarta….
No comments:
Post a Comment