Tuesday, September 04, 2007

Bincang Pagi

Selama setengah jam aku duduk bersama seorang ibu dan bapak tua sembari menunggu kantor UT buka. Pagi yang cerah tiba-tiba jadi suram dengan perbincangan mengenai semrawutnya kota Jakarta. Si ibu yang merupakan salah seorang pegawai di Pemda Jakarta bercerita tentang dana sosialisasi pemerintahan yang di kurangi oleh kegubernuran untuk menutupi dana kampanye Gubernur baru kemarin, belum lagi mengenai wartawan “amplop” yang sering memeras orang-orang pemerintahan untuk menutupi kasus mereka. Dengan bibirnya yang monyong si Ibu terus menggerutu tentang kota Jakarta yang mata duitan dan penuh korupsi. Si bapak tua menanggapinya dengan cerita yang sama tentang bagaimana Kantor Pos berselisih dengan UT karena dana mahasiswa yang di kirim melalui kantor pos ternyata tidak di setorkan ke UT Pusat sehingga pihak UT berselisih dengan mahasiswa. Masih banyak cerita kota Jakarta yang terus memekakan telingaku. Aku hanya terdiam mendengarkan keduanya berceloteh tentang Jakarta. Aih, Jakarta…

Telingaku dalam keadaan auto pilot ketika fikiranku melayang pada suatu pagi yang cerah dengan matahari merah yang tersembul di ujung langit…aku memimpikan secangkir kopi hangat dan sebatang rokok di tanganku….ada bentangan laut luas berwarna biru yang menenangkan kedua pelupuk mataku…

Ah, aku lebih suka pagi dalam dunia khayalku sendiri daripada harus bersedih mendengar keluh kesah tentang Jakarta….

No comments:

Post a Comment