Saturday, December 17, 2005

short story. sabtu 17 dec 05 pkl 14.30

short story. sabtu 17 dec 05 pkl 14.30

selama hampir 6 jam hujan terus turun deras. kantukku yang tak tertahan akhirnya terabaikan karena air telah menggenangi seluruh isi kamarku. membasahi semua kenangan berharga yang ku coretkan di setiap dinding kamarku. warna hijau cerah telah berganti menjadi hijau muram. semua yang berharga bagiku telah tiada dalam gumpalan-gumpalan kertas yang basah. noda-noda tinta yang mengecap di dinding menjadi satu-satunya saksi akan kehilanganku. apa yang lebih berarti bagi seorang perempuan yang gila menulis selain kertas-kertas yang menjadi pembagi hasratnya. dan ketika hujan meniadakannya...apa yang lebih menyakitkan dari itu?

aku lunglai dalam hampa....ku punguti setiap kertas yang telah kuyu, apa yang masih bisa di selamatkan kuselamatkan walaupun harus mengeringkan kertas-kertas itu dengan hairdryer selama berjam-jam.....aku tak terlalu peduli dengan kasurku yang basah, atau barang-barangku yang hancur....hanya satu yang kupedulikan dengan sangat....tulisanku.

lalu aku teringat akan ELIA, sang nabi israel dalam novel FIFTH MOUNTAIN karya PAULO COELHO. ketika kota Akbar di hancur leburkan oleh bangsa Asyur, EIia hampir saja menyerah dan memilih untuk meminta mati kepada tuhan. namun tuhan tetap menghendaki Elia kembali ke Akbar dan kembali membangun kota yang telah hancur lebur itu. Seorang gembala tua berkata padanya " tak ada masa untuk melihat ke masa lalu. apa yang bisa kau lakukan lakukanlah untuk hari esok. diam dan bekerja lah, seketika rasa kehilangan dan duka mu akan tiada. "

Elia dengan segenap kehampaannnya mencoba membangun dirinya sendiri dan membangun Akbar. waktu berganti dari hari menjadi bulan menjadi tahun. tak berselang lama akbar pun berdiri kembali jauh lebih megah dari sebelumnya.

aku tak lagi menjadi resah. diam dan bekerja. aku kan membangun kembali bangunan-bangunan megah menjulang tinggi dalam tulisan-tulisanku jauh lebih baik dari sebelumnya. aku tak kan menyerah sekalipun hujan menentangku dengan angin dan badainya.

No comments:

Post a Comment