Tuesday, October 07, 2008
Kasihan bukan bentuk kasih
“ Mbak, ada orang miscall n sms aku terus. Aku tanya siapa dia gak mau bilang, katanya belum saatnya aku tahu. Katanya dia masih care sama aku. Tolong check dong mbak dia siapa. Cewek atau cowok. Ni nomernya 0899651xxxx tolong ya mbak, aku takutnya dia gay yang pernah ngejar-ngejar aku”
Aku membacanya sekilas lalu menutup telpon. Besok saja pikirku, lagipula aku gak punya pulsa.
Sehari berlalu dan aku lupa menelpon nomer tersebut. Aku segera mengirim sms untuk sahabatku.
“ Maaf maaf aku belum telpon, aku belum beli pulsa.”
Aku cukup terkejut ketika mendapatkan balesan sms darinya,
“ Mbak aku dah tau kok orangnya….”
Ia memberitahukan bahwa orang yang mengganggunya ternyata adalah laki-laki yang di cintainya selama ini, seseorang yang selama ini di anggap sebagai kakak sekaligus sahabat baginya.
“ I think he’s just the same like I’am. So many proof, but I just guess. Kalo emang bener dia gay aku kasihan sama dia” tambahnya
Sahabatku ini sudah lama memendam cintanya untuk lelaki ini. Namun ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya karena selama ini ia berfikir laki-laki ini straight. Selama beberapa bulan terakhir lelaki yang di cintainya menghilang tanpa kabar. Kini, ia tiba-tiba muncul lagi. Aku bahagia untuknya jika memang laki-laki yang ia cintai ternyata sama-sama seorang gay. Namun ia justru merasa sebaliknya.
“ kenapa kasihan?” tanyaku
“Aku yang masih muda aja capek menyimpan rahasia ini, apalagi dia yang udah lebih tua. Aku punya mbak untuk share, aku gak yakin dia bisa share soal ini dengan orang lain, apalagi dia harus menikah karena orang tua” jawabnya
“kenapa harus mengasihani dia? Apa perlu aku mengasihani kamu karena kamu seorang gay? Atau kamu harus mengasihani aku karena aku seorang ibu buruk yang pernah mengaborsi anaknya? Cukup beri dia kasih, bukan kasihan.” Hanya itu yang kalimat yang kukirimkan.
Kalimat itu spontan keluar dari fikiranku. Ya, aku baru saja menyadari hal yang sama. Seringkali kita mengasihani seseorang atas pilihan seksualitasnya. Bukankah rasa kasihan kita datang dari rasa keangkuhan karena merasa kita lebih baik dari orang lain. Jika kita sempurna dengan apa yang kita miliki maka setiap orang pun sempurna atas apa yang mereka miliki.
Kasih dan kasihan adalah dua hal yang berbeda. Kasih datang dari kedalaman hati dan oenghargaan yang tinggi atas setiap orang. Namun kasihan datang dari merasa lebih baik dari orang lain. Siapapun dia; gay, post abortus, waria, lesbian, duda, janda, yatim piatu, si miskin ataupun si kaya, si bodoh, sunda, dayak, orang afrika, si sakit, si cacat atau pun orang autis. Semuanya berhak atas kasih, bukan rasa kasihan.
Thursday, November 08, 2007
Bapak Tua dan Aura
dalam seminggu ini aku telah bertemu dengan 2 orang yang memancarkan aura luar biasa indahnya..
orang pertama adalah seorang lelaki tua berumur 50 tahunan. aku bertemu dengannya hari rabu malam pukul 22.30 WIB di lampu merah pekayon bekasi barat. saat itu aku tengah duduk di dalam sebuah taksi dan tiba-tiba seorang loper koran lewat di depan jendela taksiku. sekelebat wajahnya begitu cerah menenangkan, meskipun garis-garis tua memenuhi seluruh wajahnya dengan rambut yang telah berubah warna menjadi abu namun pancaran auranya menyengat di antara malam yang sesak. di balik baju kusutnya dan tubuhnya yang mulai membungkuku, wibawa dan kebijaksanaan terpancar begitu indahnya. aura yang menenangkan terpancar dari sekujur tubuhnya yang kecil itu.
langsung kubuka jendela ku dan meminta sebuah koran darinya, selembar uang lima ribu yang kuberikan padanya di sambutnya dengan senyuman, namun ketika taksi ku mulai melaju aku baru sadar bahwa bapak tua tadi telah salah memberi kembalian, lebih seribu rupiah. sepanjang perjalanan ku malam itu menuju rumah aku tak bisa melepaskan ingatanku dari bapak tua itu, tak terasa air mataku bercucuran mengingatnya, baru kali ini semenjak aku pindah ke kota ini aku bertemu dengan seseorang yang memiliki aura begitu indahnya, aura yang memukau yang hanya dimiliki oleh mereka yang akan menyambut ajalnya dengan janji tuhan yang indah telah di persiapkan baginya. namun entah mengapa aku yakin bapak tua itu tak menyadari betapa indah aura yang di milikinya.
semalam tanpa sengaja aku lewat lagi ke lampu merah pekayon, ketika aku berada di angkot pada jam 23.30 malam aku melihatnya lagi tengah berdiri di tengah jalan menawarkan korannya. aku langsung turun dan berlari ke arahnya. bapak tua itu melihatku dan menghampiriku, aku hanya ingin mengembalikan uang seribuan yang telah ia berikan lebih padaku beberapa malam lalu. dan dengan senyuman yang bahagia ia menerima uang itu dan menyebut alhamdulilah.
subhanallah, ia masih bisa bersyukur atas uang seribu rupiah !
aku bahagia telah mengembalikan uang itu dan kembali bertemu dengannya.
orang ke dua yang ku temui adalah seorang lelaki juga, berumur sekitar 50 tahunan juga, namun ia tampil lebih rapih dan bersih. aku hanya beberapa detik berpapasan dengannya di halte busway senen, diantara keramaian orang yang lalu lalang mataku bisa langsung menangkap kehadirannya dan meliriknya hanya untuk melempar senyum. ia berjalan di depan ku dengan baju batiknya yang berwarna coklat keemasan, ia membawa beberapa lembar kertas besar yang berisi tulisan entah apa, mungkin ia juga seorang pedagang. hanya dua detik kami bertatapan sebelum kami akhirnya melaju kembali.
kedua lelaki itu telah mengejutkanku dan aku merasa sangat terhormat dapat bertemu dengan mereka.
Saturday, October 06, 2007
Belajar displin dengan busway
Jika anda penasaran dengan kebiasaan berdisiplin orang jakarta.cobalah
perhatikan antrian di setiap halte busway trans jakarta. setiap hari
sudah menjadi pemandangan biasa jika anda menyaksikan betapa beberapa
orang seringkali menyerobot antrian. biasanya mereka langsung masuk
melalui garis pembatas tanpa melalui jalur yang sudah di sediakan,
selain itu tradisi dorong mendorong juga seringkali terjadi dan kadng
membuat para wanita atau orangtua yang berada di depn terdoron-dorong
dan hampir jatuh.
Namun, ketidaksiplinan ini tidak hanya menjadi
kecerobohan beberapa orang. Petugas busway sendiri kadang tidak mampu
tegas menertibkan mereka. padahal seharusnya petugas busway inilah yang
menjadi garda depan penegak kedisiplinan. bahkan pernah suatu hari
ketika saya menunggu di halte busway, kami sudah mengantri panjang di
jalur yang benar namun ternyata busway malah berhenti di jalur yang
lain sehinggga orang-orang yang mengantri di bagian belakang
berhamburan masuk ke dalam busway lebih dulu. tentu saja orang-orang
yang mengantri di bagian depan menjadi marah dan kesal, namun hal itu
tetap berulang, beberapa busway tetap berhenti di jalur yang salah
sehingga antrian yang paling depan malah menjadi paling belakang.
menggelikan bukan?
Jika orang-orang sudah
disiplin tentunya ketika dalam keadaan begitupun mereka akan memberi
jalan agar orang-orang yang mengantri lebih dulu masuk lebih dulu ke
dalam busway, bukannya menyelonong masuk saling mendorong.
Banyak
orang seringkali protes dengan adanya busway karena menyebabkan macet,
namun tetap selalu ada sisi baiknya, adanya busway secara tidak angsung
mendidik orang-orang jakarta agar belajar untuk berdisiplin.
Sudah
saatnya kitapun turut serta membantu mendisiplinkan masayarakat kita.
Belajar lah berani untuk menegur orang-orang yang menyerobot antrian
atau saling mendorong. Beritahu bahwa perbuatan mereka salah dan sudah
seharusnya mereka malu melakukannya.
Jangan kalah sama bebek !
Saturday, September 22, 2007
Tunjukkan kalo kamu peduli
bicara masalah kesetaraan gender, biasanya kaum perempuan paling lengking meneriakan persamaan hak.
apalagi jika terdengar kasus pelecehan seksual atau penyiksaan terhadap tkw, hebohnya minta ampuun..
serasa sebagai perempuan di anggap sebagai kelas sosial no 2.
tapi kejadian hari ini (20/9/07) di busway koridor III sungguh menjengkelkan.
setelah berjejalan di halte trans harmoni, akhirnya kami berhamburan masuk ke dalam busway dan memilih tempat duduk masing2.
saat itu aku kebagian duduk di bangku ke dua sebelah kanan bagian belakang. baru beberapa saat ternyata masuk seorang perempuan muda yang sedang hamil tua. 16 bangku yang berhadapan di isi oleh kaum perempuan mulai dari ibu muda sampai ibu tua. satu satu menatap ibu yang tengah hamil, lalu saling menatap satu sama lain. herannya tak ada satu pun di antara mereka yang menawarkan kursinya pada si ibu hamil, malah pura-pura acuh. benar-benar menjengkelkan !
akhirnya aku lah yang satu-satunya berdiri dan menawarkan tempat duduk, perempuan lain yang ada di situ sepertinya sangat berlega hati karena ada orang lain yang mau merelakan kursinya tanpa mereka harus melepas kursinya.
hey, gimana niy...jangan ngomong doank!
tunjukin kalo kamu peduli !
gak perlu ikut seminar tentang perempuan, bergabung dengan LSM perempuan atau ikut berunjuk rasa meminta hak persamaan gender
tunjukin dalam sikap dan tindakan kamu sehari-hari kalo kamu emang peduli !