Showing posts with label Learning Centre. Show all posts
Showing posts with label Learning Centre. Show all posts

Saturday, August 23, 2008

TUJUH PERTIMBANGAN DALAM JURNALISME SASTRA*

Oleh : Andreas Harsono

Istilah jurnalisme sastra adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Wartawan Amerika Tom Wolfe pada 1974 memperkenalkannya dengan nama "jurnalisme baru." Ada juga yang memakai nama "narrative reporting". Ada juga yang pakai nama "passionate journalism." Tapi ada yang secara sederhana mengatakannya “tulisan panjang.”

Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai "in-depth reporting." Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut.

Tulisannya biasanya panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah.

Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan.

Di Indonesia, ada beberapa penulis yang punya kegemaran menulis panjang. Saya menikmati sekali buku Bondan Winarno, "Sebongkah Emas di Kaki Pelangi" atau artikel-artikel panjang George J. Aditjondro, misalnya, soal Arnold C. Ap, cendekiawan Papua yang mati ditembak tentara Indonesia pada April 1984. Atau kisah bertutur dengan ungkapan “saya” yang digunakan Goenawan Mohamad dalam laporan “Peristiwa ‘Manikebu’: Kesusastraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an.”


Memang reportase adalah bagian yang melekat dengan jurnalisme ini. Data-data diperoleh dari liputan di lapangan dengan tangguh. Menembus sumber dengan gigih. Pagi hingga malam. Riset yang makan keringat. Wawancara yang berjibun. Ia menukik tajam hingga mampu menterjemahkan, misalnya, sesosok kepribadian manusia dengan segala kerumitannya ke dalam kata-kata.

Bahasanya tidak harus mendayu-dayu. Bahasa bisa lugas. Dari segi struktur karangan, genre ini bentuknya model gelombang sinus. Naik turun. Liar. Tapi ia juga cantik dan memikat. Rasanya pembaca tidak bisa melepaskan karangan itu sebelum tuntas membaca.

Saya sering ditanya apakah karya Seno Gumira Ajidarma "Saksi Mata" masuk dalam kategori jurnalisme? Saya akui karya itu sangat memukau. Tapi karya itu adalah fiksi. Seno tidak menyampaikan fakta yang nyata. Nama-nama diganti. Tempat juga tidak disebutkan jelas. "Saksi Mata" adalah karya fiksi yang memakai data-data pembantaian Dili pada November 1991 sebagai ide cerita.

Ketika mendalami jurnalisme sastra di Amerika, saya selalu diberitahu adanya tujuh pertimbangan bagi seorang wartawan bila hendak membuat laporan dalam genre ini.

Fakta. Jurnalisme selalu mensakralkan fakta. Walaupun genre ini memakai kata “sastra” tapi ia tetap jurnalisme Setiap detail seyogyanya berupa kenyataan. Nama-nama orang adalah nama-nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian.

Apabila ada dua orang bertemu dan mengadakan pembicaraan. Seorang wartawan seyogyanya mengecek kepada keduanya apakah benar si A mengatakan ini dan si B mengatakan itu.

Orang mungkin bisa lupa. Orang mungkin bisa berubah persepsi bersamaan dengan perjalanan waktu. Tapi minimal, esensi dari pembicaraan itu harus disetujui A dan B bila hendak dilaporkan dalam jurnalisme.

Kalau berbeda?

Ada dua pilihan. Tidak dipakai sama sekali. Atau kalau pembicaraan itu penting, dilaporkan saja dari dua sudut yang berbeda. Si A bilang ini tapi si B bilang lain lagi.

Tapi perbedaan bisa tidak terletak pada esensi. Biasanya ia terletak pada detail. Warna jas, warna dinding, bau minyak wangi, permukaan papan yang kasar atau jenis sepatu bisa diingat secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada salahnya untuk pergi ke situs di mana suatu kejadian terlaksana, untuk mencatat detail di lapangan.

Konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila Anda berminat membuat laporan panjang, Anda seyogyanya berpikir berapa besar pertikaian yang ada?

Mohamad bercerita soal konflik antara para penandatangan Manifes Kebudayaan dengan para pendukung Lekra. Pertikaian ini termasuk besar. Ada polemik di surat kabar. Menteri ini bicara, tokoh partai itu membantah. Akhirnya, Mohamad dan para penandatangan Manikebu dikalahkan dan dilarang menulis.

Tapi konflik bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antar kelompok. Misalnya, upaya Arnold Ap mengembangkan kesenian Papua berbuntut ketegangan dengan pejabat militer dari Jawa yang dikirim ke Jayapura. Ap ditahan dan ditembak mati.

Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Pendek kata, pertikaian adalah unsur penting dalam suatu laporan panjang.

Karakter. Jurnalisme sastra mensyaratkan adanya karakter-karakter. Karakter membantu terikatnya suatu laporan. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Karakter utama seyogyanya juga kepribadian yang menarik. Tidak datar dan tidak menyerah dengan mudah (Orang yang mudah menyerah biasanya juga tidak mau dituliskan riwayatnya).

Winarno bicara soal beberapa karakter dalam buku “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi.” Ada karakter geologis Michael de Guzman. Ada juga rekan-rekannya dari perusahaan Bre-X. Namun ada juga orang penting Indonesia macam Bob Hasan dan Siti Hardiyanti Rukmana.

Winarno menganggap De Guzman, "meracuni" sample hasil pemboran sumur emas dan melakukan kejahatan untuk memperkaya diri sendiri. Winarno memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Winarno melaporkan bahwa mayat yang diklaim sebagai mayat de Guzman tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti dalam rekaman gigi de Guzman.

Mohamad menggunakan dirinya sendiri, lewat penggunaan kata “saya,” sebagai karakter untuk mengikat eseinya. Aditjondro tidak menggunakan kata saya sebanyak Mohamad. Tapi kata itu muncul beberapa kali sesuai gaya Aditjondro.

Akses. Anda seyogyanya punya akses kepada karakter utama atau orang-orang yang mengenal karakter utama. Akses bisa berupa dokumen, korespondensi, album foto, buku harian, wawancara dan sebagainya.

Winarno tentu tidak memiliki akses terhadap De Guzman. Orang Filipino itu dinyatakan mati atau menyembunyikan diri. Winarno menengok makamnya, mencari dokumen dan mewawancarai orang yang mengenal De Guzman.

Namun Aditjondro berhubungan dengan almarhum Arnold Ap. Aditjondro mengenal Ap dengan dekat. Mohamad juga kenal dengan orang-orang yang menandatangani Manikebu maupun mereka yang melawannya.

Saya sering mengibaratkan akses kepada karakter utama ini dengan akses yang dimiliki oleh seorang penulis biografi. Aksesnya luar biasa. Bisa masuk ke masalah-masalah pribadi karakter utama. Soal percintaan, soal skandal, soal kejahatan dan sebagainya.

Emosi. Jurnalisme sastra membutuhkan emosi dari karakter-karakternya. Emosi bisa berupa cinta. Bisa berupa pengkhianatan. Bisa berupa kebencian. Loyalitas. Kekaguman. Sikap menjilat. Oportunisme dan sebagainya.

Emosi menjadikan cerita kita seakan-akan hidup.

Emosi karakter juga bisa berubah-ubah bersama perjalanan waktu. Mulanya si karakter menghormati mentornya. Suatu kejadian besar menguji apakah ia perlu tetap menghormati mentornya atau tidak.

Di sini mungkin ada pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan intelektual. Ini seyogyanya memberikan ruang buat emosi. Apa emosi si karakter ketika tahu ia memenangkan pertarungannya? Apa perasaan si karakter ketika tahu ia dikhianati istri atau suaminya?

Perjalanan Waktu. Mungkin perbedaan antara jurnalisme sehari-hari dengan jurnalisme sastra adalah keterkaitannya dengan waktu. Saya mengibaratkan laporan suratkabar “hari ini” dengan sebuah potret. Snap shot. Sedangkan laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video.

Robert Vare, mantan editor The New Yorker, menyebutnya “series of time.” Peristiwa berjalan bersama waktu. Ini memiliki konsekuensi penyusunan kerangka karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak-balik apa benang merahnya supaya pembaca tidak bingung?

Panjangnya waktu tergantung kebutuhan. Sebuah laporan tentang kehamilan bisa dibuat dalam kerangka waktu sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua tahun, tiga tahun dan sebagainya. Tapi bisa juga sekian menit ketika si ibu bergulat hidup dan mati di ruang operasi.

Kebaruan. Ada unsur kebaruan yang harus Anda pertimbangkan bila hendak membuat laporan panjang. Tidak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Kalau Anda hendak menulis cerita panjang soal pembunuhan G30S atau kerusuhan Mei 1998, sebaiknya berpikirlah dua atau tiga kali sebelum menjalankan ide ini.

Cukup banyak fakta yang sudah diungkap oleh orang lain soal G30S atau kerusuhan Mei 1998. Ini tidak berarti tidak ada yang masih tersembunyi. Saya percaya masih banyak hal yang belum terungkap dari dua peristiwa besar itu.

Tapi bersiaplah untuk mencari fakta-fakta baru. Bersiaplah untuk menembus sumber-sumber yang paling sulit yang belum ditembus orang lain.

Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang-orang biasa yang menjadi saksi mata peristiwa besar. Hersey mewawancarai seorang dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris dan seorang pastor Jerman, untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima.

Secara detail, Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika.

Hersey mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima.

Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan.

Apa artinya?

Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! Itu saja.

Seperti Tarian Burung Camar

Oleh: Farid Gaban

Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa -- personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas. Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok.
Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.

TUJUH ELEMEN
Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.
1.Informasi
Adalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. ''Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,'' kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat -- bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.
2.Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
3.Fokus
Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ''Less is more,'' lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.
''Don't write about Man, write about a man,'' kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.
4.Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai akan menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.

5.Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa -- trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan -- dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.
Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.
''Don't say the old lady screamed -- bring her on and let her scream,'' kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.
6.Bentuk
Tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan --sekaligus -- mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.
7.Suara
Kita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.
Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.


TULISAN YANG BURUK: TUJUH KEGAGALAN
  • Gagal menekankan segala yang penting -- seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.
  • Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.
  • Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.
  • Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik -- organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.
  • Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.
  • Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.
Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik -- dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah -- jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.

Menulis untuk Pembaca

1.Datanglah dengan "sesuatu" sebelum menulis sebuah berita. Jika Anda tak bisa menuliskan
"sesuatu" itu, Anda tidak punya gagasan, apalagi berita.

2.Tulislah sedemikian sehingga mudah dimengerti, dengan Bahasa Indonesia yang sederhana. Kata-kata sederhana lebih digdaya. Hindari kata-kata asing, ilmiah, atau jargon.
Jangan katakan: "Prosedur alternatif untuk merealisasikan objektif ini harus dipetakan".
Tulislah: "Kita memerlukan cara baru untuk melakukannya."

3. Tulisan yang mudah dibaca lebih sulit membuatnya. Jika bisa, buatlah kata-kata Anda bernyanyi dan menari. Jika tidak bisa, cukup membuatnya jadi jelas. Katakan pada diri-sendiri setiap hari: Anda tak perlu memberi kesan menguasai bahasa yang indah serta mendayu-dayu.

4. Gambarkan, bukan katakan. Tulislah sehingga pembaca akan mengatakan: "Saya merasa seperti benar-benar melihat apa yang Anda tulis". Visualisasikan setiap adegan, tunjukkan pada mereka apa saja yang nampak dalam mata pikiran Anda. Penuhi kalimat dengan orang, tempat dan benda-benda, serta dengan detil yang cukup, tapi tidak terlampau banyak. (Jika perlu: tampilkan dalam bentuk foto).

5. Hindari memakai eufemisme dan kata-kata yang dipromosikan oleh kelompok kepentingan tertentu, termasuk pemerintah dan kalangan militer. "Diamankan" dalam banyak hal adalah "ditahan"; "harga yang disesuaikan" hampir selalu adalah "harga naik"; dan "Gerakan Pengacau Keamanan" adalah besar kemungkinan "pejuang hak-hak sipil"). Juga hindari kata seperti ini: kata "insan" dalam "insan pers" dan "insan film" (cukup: "wartawan" atau "artis").

6. Jika Anda tak mampu menemukan cacat pada tulisan Anda sendiri, Anda bukan penulis. Sediakan waktu untuk menyunting sendiri apa yang telah ditulis. Sisi mudah dalam menulis adalah bahwa Anda tak perlu sempurna sejak awal -- tidak seperti misalnya jika Anda dokter yang sedang melakukan bedah otak. Bahkan penulis kondang percaya bahwa tulisan yang baik adalah hasil penulisan ulang (re-writing).

7. Berita yang baik tidak memerlukan dekorasi. Hapus kata "amat" atau "sekali" setiap menemuinya. Hapus sebanyak mungkin kata sifat seperti "cantik" atau "hebat" atau "piawai" ketika melaporkan sebuah peristiwa. Anda bisa menulis tanpa mereka jika Anda punya kata kerja yang kuat.

8. "Less is more," kata Ernest Hemingway. Jangan menulis dengan kata-kata panjang jika dengan yang pendek sudah cukup. Gunakan kata kerja aktif. Jangan ubah kata kerja menjadi kata benda yang buruk.

9. Tergila-gilalah pada akurasi. Jangan buat ketololan seperti salah menuliskan nama seseorang. Pembaca akan mengatakan: "Jika Anda ceroboh dengan hal-hal kecil, bagaimana kami bisa percaya Anda dengan hal-hal yang penting?" Maka teliti dan teliti ulang fakta Anda. Jika ragu, tinggalkan mereka.

10. Jika Anda tidak bisa memperlakukan fakta sebagai sesuatu yang sakral, jadilah penulis fiksi -- bukan wartawan. Jangan pernah melaporkan gosip. Jangan merekayasa peristiwa. Dan jangan membedaki kutipan orang agar nampak lebih seksi. Keuntungannya sangat sedikit, harga yang harus dibayar sangat mahal.

Monday, July 07, 2008

Bahasa Jurnalistik Indonesia

Oleh : Goenawan Mohamad

Pengantar
Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas.
Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor. Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kata
1. Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti.
Misalnya:
agar supaya
agar, supaya
akan tetapi tapi
apabila bila
sehingga hingga
meskipun meski
walaupun walau
tidak tak
(kecuali diujung
kalimat atau
berdiri sendiri)

2. Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
Misalnya:
''Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang'', menjadi ''Keadaan lebih baik dari sebelum perang''. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: ''Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang''.

3. Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
sjah
sah
khawatir kuatir
akhli ahli
tammat tamat
progressive progresif
effektif efektif

4. Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek.
Misalnya:
kemudian =
lalu
makin = kian
terkejut = kaget
sangat = amat
demikian = begitu
sekarang = kini

Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kalimat (1)
Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata.

1. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:
Misalnya:
• ''Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman''. (Bisa disingkat: ''Merupakan kenyataan, bahwa .....'').
• ''Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas''.
(Bisa disingkat: ''Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro......'').

2. Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ''Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri''? (Bisa disingkat: ''Akan terus tergantungkah Indonesia.....'').
• Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak''.
(Bisa disingkat: ''Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak'').

3. Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; juga daripada.
Misalnya:
• ''Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan''.
• (Bisa disingkat: ''Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan''.
• ''Sintaksis adalah bagian daripada tatabahasa''.
• (Bisa disingkat: ''Sintaksis adalah bagian tatabahasa'').

4. Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ''Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India''.
• (Bisa disingkat: ''Uni Soviet cenderung mengakui......'').
• ''Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami''.
• (Bisa disingkat: ''Pendirian semacam itu mudah dipahami'').
• ''GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal''.
• (Bisa disingkat: ''GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi.......'').
Catatan:
Dalam kalimat: ''Mereka setuju untuk tidak setuju'', kata untuk demi kejelasan dipertahankan.


5. Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:
Misalnya:
• ''Kera adalah binatang pemamah biak''.
• (Bisa disingkat ''Kera binatang pemamah biak'').
Catatan:
Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: ''Pikir itu pelita hati''. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menterjemahkan ''Man is a better driver than woman'', bisa mengacaukan bila disalin: ''Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita''.

6. Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu.
Misalnya:
• ''Presiden besok akan meninjau pabrik ban Goodyear''. (Bisa disingkat: ''Presiden besok meninjau pabrik....'').
• ''Tadi telah dikatakan ........'' (Bisa disingkat: ''Tadi dikatakan.'').
• ''Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri''. (Bisa disingkat: ''Kini Clay mempersiapkan diri'').

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kalimat (2)

7. Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ''Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti''.
• ''Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat''. (Bisa disingkat: ''Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat''.).
Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.

8. Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
Misalnya:
• ''Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia''.
• (Bisa disingkat: ''Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia'').
• ''Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia''.

9. Pembentukan kata benda (ke + ..... + an atau pe + .... + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu.
Misalnya:
• ''Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan''. (Bisa dirumuskan: ''Tanggul kali Citanduy kemarin bobol'').
• ''PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta''. (Bisa dirumuskan: ''PN Sandang rugi Rp 3 juta'').
• ''Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya'' (Bisa disingkat: ''Ia telah tiga kali menipu saya'').
• Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai''. (Bisa dirumuskan: ''Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai'').

10. Penggunaan kata sebagai dalam konteks ''dikutip sebagai mengatakan'' yang belakangan ini sering muncul (terjemahan dan pengaruh bahasa jurnalistik Inggris & Amerika), masih meragukan nilainya buat bahasa jurnalistik Indonesia. Memang, dalam kalimat yang memakai rangkaian kata-kata itu (bahasa Inggrisnya ''quoted as saying'') tersimpul sikap berhati-hati memelihat kepastian berita. Kalimat ''Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan......'' tak menunjukkan Dirjen Pariwisata secara pasti mengatakan hal yang dimaksud; di situ si reporter memberi kesan ia mengutipnya bukan dari tangan pertama, sang Dirjen Pariwisata sendiri. Tapi perlu diperhitungkan mungkin kata sebagai bisa dihilangkan saja, hingga kalimatnya cukup berbunyi: ''Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan.....''.
Bukankah masih terasa kesan bahwa si reporter tak mengutipnya dari tangan pertama?
Lagipula, seperti sering terjadi dalam setiap mode baru, pemakaian sebagai biasa menimbulkan ekses.
Misalnya: Ali Sadikin menjelaskan tetang pelaksanaan membangun proyek miniatur Indonesia itu sebagai berkata: ''Itu akan dilakukan dalam tiga tahap''. Kata sebagai dalam berita itu samasekali tak tepat, selain boros.

11. Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kataganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.
1) Dr. C. A. Mees, dalam "Tatabahasa Indonesia" (G. Kolff & Co., Bandung, 1953 hal. 290-294) menolak pemakaian dimana. Ia juga menolak pemakaian pada siapa, dengan siapa, untuk diganti dengan susunan kalimat Indonesia yang ''tidak meniru jalan bahasa Belanda'', dengan mempergunakan kata tempat, kawan atau teman. Misalnya: ''orang tempat dia berutang'' (bukan: pada siapa ia berutang); ''orang kawannya berjanji tadi'' (bukan: orang dengan siapa ia berjanji tadi). Bagaimana kemungkinannya untuk bahasa jurnalistik?
2) Misalnya: ''Rumah dimana saya diam'', yang berasal dari ''The house where I live in'', dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: ''Rumah yang saya diami''. Misal lain: ''Negeri dimana ia dibesarkan'', dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: ''Negeri tempat ia dibesarkan''.
Dari kedua misal itu terasa bahasa Indonesia semula lebih luwes, kurang kaku. Meski begitu tak berarti kita harus mencampakkan kata dimana sama sekali dari pembentukan kalimat bahasa Indonesia. 1)
hanya sekali lagi perlu ditegaskan: penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, bisa tak tepat dan boros. Saya ambilkan 3 contoh ekses penggunaan dimana dari 3 koran:
Kompas, 4 Desember 1971:
''Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh serdadu-serdadu Amerika (GI) dimana konsentrasi besar mereka ada di Vietnam''.
Sinar Harapan, 24 November 1971:
''Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini sedang menggarap 9 buah perkara tindak pidana korupsi, dimana ke-9 buah perkara tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam pengusutan.''
Abadi, 6 Desember 1971:
''Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, dimana secara tidak langsung telah dapat mempengaruhi usaha-usaha pemerintah di dalam menjaga kestabilan, baik untuk perluasan produksi ekonomi dan peningkatan ekspor''.
Dalam ketiga contoh kecerobohan pemakaian dimana itu tampak: kata tersebut tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Sebetulnya masing-masing bisa dirumuskan dengan lebih hemat:
• ''Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu Amerika (GI), yang konsentrasi besarnya ada di Vietnam''.
• ''Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkata tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya (sisanya) masih dalam pengusutan''.
Perhatikan:
1. Kalimat itu dijadikan dua, selain bisa menghilangkan dimana, juga menghasilkan kalimat-kalimat pendek.
2. ''dewasa ini sedang'' cukup jelas dengan ''dewasa ini''.
3. kata ''9 buah'' bisa dihilangkan ''buah''-nya sebab kecuali dalam konteks tertentu, kata penunjuk-jenis (dua butir telor, 5 ekor kambing, 7 sisir pisang) kadang-kadang bisa ditiadakan dalam bahasa Indonesia mutahir.
• ''Selanjuntya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dewasa ini masih belum menentu. Hal ini (atau lebih singkat: Ini) secara tidak langsung telah dapat .... dst''.
Perhatikan: Kalimat dijadikan dua. Kalimat kedua ditambahi Hal ini atau cukup Ini diawalnya.

12. Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) untuk menjamin kontinyuitas.
Misalnya:
• ''Bukan kebetulan jika Gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2500 tenaga kerja setengah terdidik''. (Kata sebab diawal kalimat kedua bisa ditiadakan: hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).
• ''Pelatih PSSI Witarsa mengakui kekurangan-kekurangan di bidang logistik anak-anak asuhnya. Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain'' (Kata kemudian diawal kalimat kedua bisa ditiadakan; hubungan kronologis antara kedua kalimat secara implisit cukup jelas).

Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.

Kejelasan
Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
1. Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan juga pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
2. Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.

Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga bisa menguasai bahan penulisan dalam suatu sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang.
Terutama dalam penulisan jurnalistik, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan jurnalistik harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia.

Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca. Sebelum kita menulis, kita harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami? Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi.

Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu semua tau sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya W. S. Renda atau B. M. Diah. Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis jurnalistik yang jelas ialah: buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.

Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
• tanda baca yang tertib.
• ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standard.
• pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea.

Cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan relevan.

Menuju kejelasan bahasa, ada dua lapisan yang perlu mendapatkan perhatian:
1. Unsur kata
2. Unsur kalimat

Kejelasan Unsur Kata
1. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi. Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.
Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya bell-bottom dengan ''cutbrai'') tetap perlu.

2. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. ''Hankam'', ''Bappenas'', ''Daswati'', ''Humas'' memang lebih ringkas dari ''Pertahanan & Keamanan'' ''Badan Perencanaan Pembangunan Nasional'', ''Daerah Swantantra Tingkat'' dan ''Hubungan Masyarakat''.

Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: ''ortu'' untuk ''orangtua''; atau di pojok koran: ''keruk nasi'' untuk ''kerukunan nasional'') tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya ''Manikebu'' untuk ''Manifes Kebudayaan'', ''Nekolim'' untuk ''neo-kolonialisme''. ''Cinkom'' untuk ''Cina Komunis'', ''ASU'' untuk ''Ali Surachman'').
Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya ''Djagung'' untuk ''Djaksa Agung'', ''Gepeng'' untuk ''Gerakan Penghematan'', ''sas-sus'' untuk ''desas-desus''.

Saya tak bermaksud memberikan batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Misalnya akronim ''Gepeng'' jika terus-menerus dipakai bisa menyebabkan kita lupa makna ''gerakan'' dan ''penghematan'' yang terkandung dalam maksud semula, begitu pula akronim ''ASU''. Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter dan sangat penting dalam bahasa Indonesia.

Kejelasan Unsur Kalimat
Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.

Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.

Contoh:
''Harian Kami'', 4 Desember 1971:
''Sehubungan dengan berita 'Harian Kami' tanggal 25 November 1971 hari Kamis berjudul: 'Tanah Kompleks IAIN Ciputat dijadikan Objek Manipulasi' (berdasarkan keterangan pers dari Hamdi Ajusa, Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Djakarta) maka pada tanggal 28 November jbl. di Kampus IAIN tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Staf JPMII (Jajasan Pembangunan Madrasah Islam & Ihsan - Perwakilan Ciputat) dengan Hamdi Ajusa mewakili DM IAIN dengan maksud untuk mengadakan 'clearing' terhadap berita itu.''

Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, saya memerlukan dua kali membacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya kehilangan jejak perkara yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat tak tercapai. Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang kehilangan jejak dengan dipergunakannya kalimat-kalimat panjang, tapi juga si penulis sendiri.

Pedoman, 4 Desember 1971:
''Selama tour tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.''
Perhatikan: Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri, yakni sambutan masyarakat setempat. Akibatnya kalimat itu berarti, ''yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat setempat.''
Sinar Harapan, 22 November 1971:
''Di kampung-kampung kelihatan lebaran lebih bersemarak, ketupat beserta sayur dan sedikit daging semur, opor ayam ikut berlebaran.
Dari rumah yang satu ke rumah yang lain, ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan di langgar-langgar, surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, daging semur, opor ayam disantap bersama oleh mereka.''
Perhatikan: Siapa yang dimaksud dengan kata ganti mereka dalam kalimat itu? Si penulis nampaknya lupa bahwa ia sebelumnya tak pernah menyebut ''orang-orang kampung''. Mengingat dekat sebelum itu ada kalimat ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan kalimat surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, kalimat panjang itu bisa berarti aneh dan lucu: ''daging semur, opor ayam disantap bersama oleh ketupat-ketupat.

Tuesday, June 17, 2008

Ten Tips for a Better Interview


1. Be prepared! Always read up on the subject you are reporting about and the person you are interviewing. Your source will appreciate your effort, and you will be able to skip questions that can be answered by an assistant, book or document. When scheduling the appointment, ask your source to suggest documents or other sources of information about the topic you will discuss. The interviewee will appreciate your interest and often share valuable documents before the interview. Make sure your tape recorder has batteries that work. Bring an extra tape as well as pens and notebook.


2. Set the rules of the interview right up front! Be sure your subject understands the story you are working on (this will help keep the interview on track). Additionally, the interviewee must understand that everything they say is "on the record." It is best to establish these ground rules when making the interview appointment. Although most government officials have enough experience with the media to indicate when something is "off-the record" or "on background," other experts may not understand the differences. Remember that an upfront clarification may be required (especially when your source's job or life could be endangered by being quoted).


3. Be on time! The worst impression you can make on a source is being late for the interview.


4. Be observant! Observe details of the place and of your interviewing partner; this can add color to your story. If you are interviewing people in their home or office, be sure to get a good look around and note what you see. For example, they may have some old photos that show them in a more personal light. You may start an interview with assumptions about a person and leave with a completely different impression. However, this may be exactly what your source intended. Perception is a tricky business! Try to talk to others, colleagues or friends of your source, to get a bigger picture.



5. Be polite. Don't rush your source! It is important to establish a polite rapport and a level of comfort for the interviewee. Some interviewees, on the other hand, need a couple minutes to become comfortable talking to reporters. Even though you may only have 30 minutes for an interview, you should not rush your subject. If you sense the interviewee is in a hurry, adjust your timing accordingly. Keep in mind, everyone is different. Taking the time to get to know your sources will prove valuable, especially when you need to call with follow-up questions or use them as a source for future stories. If the interview goes well, it may even go beyond the scheduled time. Give yourself plenty of time between appointments to avoid scheduling conflicts.


6. Listen but don't be afraid to interrupt when you don't understand! Keep your audience in mind! One reason you are conducting this interview is to explain it to your readers. If your subject uses scientific jargon or explanations only his/her peers would understand, politely interrupt and ask for further explanation. Never be embarrassed about not knowing something.


7. Silence is golden. Sooner or later you will have to ask the tough questions that your subject may be loath to discuss. When you start asking those provocative questions, the answers most likely will be short, useless or carefully worded. You may not get an answer at all. If this occurs, look your source in the eye and don't say a word. In most cases, your opponent will begin to feel uncomfortable and begin to share information again. If this doesn't work, ask for sources who might be able to answer your question.


8. Maintain eye contact! A reporter who spends most of the interview bent over taking notes or looking into a notebook can be as disconcerting as a tape recorder in an interviewee's face. While taking notes and recording the interview, maintain as much eye contact as possible. Learn to take abbreviated notes looking down only once in a while so you can focus on your interviewee. This will make the interview more like a conversation, and enable everyone to be more relaxed.


9. Before your leave... ask your source if there is anything that you might have forgotten to ask. Perhaps the interviewee is burning to tell you useful information, but you did not even think to ask that question. Don't leave without getting a contact number or e-mail address and a good time to call with follow-up questions. Always ask for other sources. Colleagues or friends of the interviewee may be more knowledgeable or willing and able to speak to you. Thank your source for spending time talking with you before you leave.


10. Review your notes right after the interview! Don't wait until the end of the day or later in the week to review your notes. Go over them right away, while everything is fresh in your mind, filling in your shorthand and elaborating on your observations. Skip that date for drinks with your office pals until after you have reviewed and organized your notes.

Saturday, June 14, 2008

The Art of Interview

THE SET UP

RESEARCH: The best questions are informed questions. Whether you have five hours or five days, gather clippings and court records and talk to the subject's cohorts.

TACTICS: Make a tactical plan and discuss it with a friend or colleague. Whenever possible, I interview people close to the action, while they are actually doing whatever it is I am writing about. However, whistle-blowers and reluctant targets are best contacted at home. You can calm a nervous source by taking him or her for a walk. And if you arrange a lunch appointment you can force a person to spend at least an hour with you.

ORGANIZE: Write single-word clues on the flap of your notebook to remind you of issues you want to cover. Organize paperwork so you won't fumble with it as you talk. Begin with softball questions (i.e., a chronological life history), but prepare a comprehensive all-purpose question for cases where the door might slam in your face.

INNER INTERVIEWING: As a warm-up (maybe during your morning shower), imagine a successful interview. Reporters who don't believe they will get the interview or the information usually fail. As far as I'm concerned, no one should ever refuse to talk to me. It works.

THE OPENER -- The techniques of "inner interviewing" continue. Never approach your subject as though they seem menacing or likely to clam up. Appear innocent, friendly, unafraid and curious. If you are a hard-boiled, cynical reporter who talks out of the side of your mouth, you will need acting lessons.

PAY ATTENTION TO DETAIL: Inventory the room thoroughly and in an organized fashion. Look at the walls, read the top of the desk and study the lapel pin. You'll get clues and details for your story. Make notes on what you see.

LOOK FOR OTHER SOURCES: While at the interview, meet the secretary and the other co-workers and make note of details about them. This will come in handy as you turn them into sources.

RELUCTANT PEOPLE

KEEP IT GOING -- When the door is closing on your face, find common ground. "By the way, I notice you've got a poodle. I've got a poodle. Weird dogs. Just the other day . . ." As a person hangs up the phone, I quickly say I only want to explain what I am working on and they should at least know that. (They usually comment once they hear what I am doing). On one occasion I inadvertently repeated something that was inaccurate and a cop dragged out a report I wanted to see just so he could show me I was wrong. You've got to be quick, sincere, kind and courteous.

IT'S NO BIG DEAL -- Respond to the "I can't comment" by saying "You don't have to worry. Heck, you are just one of several people I've talked with. It's no big deal. Here's what I understand about the situation. Let's talk about this part a little bit . . . . (and then start talking about the information you want to confirm)." Notice that I avoid a debate over the reasons they don't want to talk with me. You'll lose that debate 9 times out of 10. Keep the conversation rolling.

SYMPATHY -- Respond to the "I'm afraid to comment" with a little sympathy and a lot of reassurance: "I understand your concern. These are tough times for your agency. But a lot of folks talk to me in situations like this, including people you work with. Let me at least cover a couple of things with you, it would help me a lot." Give glancing recognition to their concerns, but try to move right on to the point of the story.

PUBLIC OFFICIAL OR OTHER BIG SHOT -- Respond to the "no comment" from an "important" person or bureaucrat by saying: "You know, I feel bad about just putting a `no comment' in this story since the readers will think you are hiding something. Let's find a way to talk about this. Tell me about this, for instance . . . "

DOOR NO. 1, OR DOOR NO. 2? -- As a last ditch method with the reluctant public official or big shot, I say, "Look, whether you talk to me or not, I'm going to do a story on this. So you can have it one of two ways: Either I do a fair story that says that you refused to cooperate, or I do a fair story that has your point of view in it. Now which do you want?" They usually choose Door No. 2.

DETOURS -- If a person won't talk, go to others in his or her office or to associates. You will get more information, and by doing this you will loosen them up.

RATCHETING -- If a subject insists on talking "on background," take notes anyway. At the end of the interview, pick out a good quote in your notes that isn't too damning and say: "Now what about this thing you said here. Why can't you say that on the record?" If they agree to put that comment on the record, go to another one in your notes and say: "Well, if you can say that on the record, why can't you say this? And so on. I have gotten an entire notebook on the record this way. If they insist on anonymity, however, you must honor it.

ANONYMITY -- Don't accept information "on background" without a fight. Even if it means going back to them several times, try to convince people to go on the record. (Absolutely "off-the-record" information is useless, since you can't use it under any circumstance. Avoid it. It's a waste of time.)

FOR THE SAKE OF CLARITY -- There are cases where someone tells you part of a story and then balks, or you already know part of a story and can't get the rest. Try saying, "look, you've already told me this much (or, I already know this much). You had better tell me the rest. I mean, you don't want me to get it wrong, do you? For instance, what about this part here . . . (refer to something in your notes)."

PLAY LIKE YOU KNOW -- Ask the official WHY he fired the whistle-blower rather than asking WHETHER he did the deed. The question presumes you already know even if you don't have it confirmed. They'll start explaining rather than denying.

THE STATUE OF LIBERTY PLAY -- Emphasize that people are more believable when they put their name behind what they say. It's the American Way: A robust public debate.

LOST REPORTER -- It doesn't hurt to say you need the person's help. "Who is going to explain this to me if you don't?"

TRY AGAIN -- When the door is slammed in your face, try again a day or two later. People change their minds.



GETTING ALL THE GOODS

CHRONOLOGY -- Take the subject through his or her story chronologically. You will understand the tale better, and you will spot gaps in the timetable and logic.

HOW AND WHY -- When a person says something important, ask the key question: "How do you know that?" It sheds light on credibility, extracts more detail and is a door opener to other sources. Also, ask people why they do what they do, rather than just asking what they do.

SLOW MOTION -- When people reach the important part of a story, slow them down so you can get it in technicolor. Ask where they were standing, what they were doing, what they were wearing, what was the temperature and what were the noises around them? Then switch to the present tense, and ask questions like: What are you doing now? What is your friend saying? You and the interview subject will then re-enter the scene and walk through it together. If this fails, tell them it is not working. "I'm trying, but I just can't picture it yet. What did it feel like?" This is how you get a story, not a bunch of facts.

TELEPHONE -- Ask people on the phone to describe their surroundings (the plaque on a man's wall became a key detail in one story, after I had independently verified what it said). Get people to tell their stories in three dimensions (see the "slow motion" advice above).

USE YOUR EARS -- We talk too much during interviews. Let the other person do the talking. After all, you can't quote yourself. And check your biases at the door; listen with an open mind.

GETTING THE CONFESSION -- Ask the subject for the names of people who support him or her. Then ask for the names of people who would criticize. Then ask what those critics are likely to say. This will jar loose uncomfortable information and tips. Ask whether the person has ever been disciplined or fired on the job or in school, charged with or convicted of a crime, arrested for drunken driving, sued, testified in court, etc. Since all this stuff is on a record somewhere, people are reluctant to lie about it.

LIARS -- If you know someone is lying, allow the liar to spin his or her yarn. Don't interrupt except to ask for more detail. Deceivers frequently provide extensive detail because they think a very complete story will add to their credibility. Listen and take good notes. When the lie has been fully constructed -- down to the last nail -- go back and logically de-construct it. Don't be impatient. The fabricator is now in a corner. Keep them there until they break.

LIFE STORY -- Get the life story, even in cases where you don't intend to use it. Even when I interview a lawyer about a case, or a bureaucrat about a government policy, I get the life story if I have time. I get useful information and ask better questions as a result.

DON'T JOIN -- Be sympathetic in manner, but don't join sides with your interview sources. Don't get sucked in by the embattled congressman who seems so cooperative when he grants you an interview and says, "I don't believe in taking money from those guys." You should say, "that may be true, but I'm asking you whether you took the money, not whether you believe in doing so."

ASK AGAIN -- Sometimes it pays to interview a person two or three times on the same subject. One public official gave me four different and conflicting explanations for the trips he took at taxpayer expense.

REVIEW -- Go back over your notes with people. They will fill in gaps for you, and in doing so give you more information.

INNOVATE -- If an outrageous question comes to mind, ask it, even if it is terribly personal. There are no embarrassing questions, just embarrassing answers. Your chisel-like questions should chip away at all sides of an issue.

DRAIN THEM -- People aren't aware of how much they know. You must lead them through their memory. Visualize your subject as a bucket full of information and empty it.

HONESTY -- Don't pretend to be someone else and don't lie. You can certainly omit information, but the more you can reveal about the nature of your story, the more comfortable and helpful your subject will be.

BE THE DIRECTOR -- A great interview feels like a conversation but moves relentlessly toward the information you need. Keep control, but do so gently.

DON'T BE UNMOVABLE -- You may know what your story is about, but don't get stuck. A great interview will change your story.

PERSONALITY -- Let your personality shine through (if you have a good one). Don't be a blank wall.

OPEN-ENDED QUESTION -- Near the end of an interview, ask the person what else our readers might be interested in. Sometimes people have more than one newspaper-worthy story in them.

CHECK BACK -- After the story runs, call the subject for his or her reaction. You'll get additional stories and tips this way.




Eric Nalder
The Seattle Times
1120 John St.
Seattle, WA 98109
Phone: (206) 464-2056
Fax: (206) 464-2261
E-mail: enal-new@seatimes.com