Kali ini aku sepakat jika mungkin tuhan adalah seorang lelaki, karena ia mengajarkanku tentang hidup lewat ayahku, manusia yang memiliki penis.Bapak,
Kemarin sore aku diajak ke pantai. Waktu itu langit mendung dan anginnya genit mencubiti pipiku yang tembem ini. Tanganku memegang erat pinggangnya, dan sesekali aku dekap erat dadanya ketika laju motor semakin cepat.
Kami tiba di pantai mengiat ketika matahari sudah mulai bersembunyi di balik awan pekat. Pasirnya putih kecoklatan dan bersinar seperti emas, biru laut di sepanjang pesisir mengingatkan ku pada biru laut di kepulauan selayar. Seperti biasanya, hatiku sepert bolong di sana-sini setiap kali aku bertamu ke pantai, damai pelan-pelan menyelinap melalui bolongan-bolongan itu lalu hatiku pun gemuruh penuh suka cita.
Bapak,
Kali ini dia tidak mengajakku berenang. Jauh-jauh kami ke pantai dan dia tidak ingin menyentuh airnya yang suci itu.
Bapak,
Kali ini aku tidak bisa menolak. Bukannya berpiknik, ia malah bertanya tentangmu, bertanya banyak hal tentangmu, atau mungkin segala hal yang kutahu tentangmu.
Aku sudah bilang, aku tentu menangis jika berkisah tentangmu. Bukan karena aku sedih kehilanganmu, tapi terlalu banyak cinta yang kurasakan setiap kali aku mengingatmu. Tapi dia ingin tahu tentang cinta itu.
Bapak,
kali ini aku membagi kisahmu dengan dia.
*****
Bapak ku orang sederhana. Sejak kecil dia sudah harus bekerja keras. Ia lebih banyak tidur di mesjid daripada di rumahnya sendiri. Ia bahkan tidak selesai SD karena harus mencari kerja ke kota bandung.
Ia tidur di lantai tanah di sebuah dapur milik seorang penjahit di kota bandung. Ia bekerja padanya siang dan malam hingga mahir menjadi seorang penjahit. Sesekali ia membantu orang berjualan di pasar, ia melipat kain dan memangul bahan dagangan hingga ia pun mahir menjadi seorang pedagang. Lain waktu ia bekerja sebagai tukang parkir, menjadi loper koran, hingga akhirnya menjadi seorang pedagang kain batik berkeliling kota.
Menjadi pedagang batik membuatnya harus berkeliling antar kota, itu yang membuatnya menjadi seorang pengelana, sesuatu yang telah ia turunkan lewat darahnya padaku. Menjadi seorang pengelana telah memberinya kebijaksanaan dan kesederhanaan yang luar biasa.
Suatu hari bapakku meminta ijin untuk pulang pada sang juragan, karena ia harus menikah di kampung. Bukannya diberi ijin, sang juragan yang tak lain nenek dan kakekku malah membentaknya dan mengurungnya di dalam kamar. Karena kejujuran dan kesederhanaannya itulah sang juragan memaksanya untuk menikahi salah satu putrinya. Dan ia memilih ibuku.
Waktu itu bapakku berumur 25 tahun dan ibuku 14 tahun. Ibuku masih terlalu kanak-kanak dan manja untuk menjadi seorang istri. Selama 2 tahun pertama, bapaklah yang mengurus pekerjaan rumah dan merawat ibuku seperi anaknya sendiri.
Setiap kali kami makan ia akan memastikan aku mendapat cukup daging agar aku tumbuh sehat dan ia akan memakan sisa-sisanya. Kadang aku pura-pura kenyang karena aku ingin ia makan daging lebih banyak dariku, namun seringkali ia pura-pura sudah makan lebih dulu agar aku menghabiskan semua yang ada di meja makan.
Ia jarang sekali berbicara apalagi membentakku. Aku belajar lebih banyak dengan melihat bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Tamu pejabat ataupun pengemis tidak pernah dia bedakan. Mereka akan diajak masuk ke dalam rumah, duduk di kursi yang sama dan minum dari gelas yang sama.
Ia selalu berkata padaku,
'menjadi cerdas itu mudah, menjadi sederhana itu sulit.’
Ia ingin aku sekolah tinggi agar tidak seperti dirinya. Ia ingin semua anaknya lulus kuliah dan berhasil. Namun dia tidak peduli apakah aku masuk rangking atau tidak selama ia tahu bahwa setap malam aku belajar dan mengerjakan PR. Baginya, kerja kerasku jauh lebih berharga daripada hasil yang kuperoleh.
Aku tidak pernah melihatnya membentak ibuku atau meminta ibuku melakukan ini itu untuk dirinya. Ia menjahit pakaian nya sendiri, membereskan lemarinya sendiri, bahkan memasak untuk kami. Bahkan ia mencantumkan nama ibuku untuk semua properti yang mereka miliki. Ia tidak takut tak memiliki apa-apa.
Ketika aku remaja, ia mengerti bahwa aku ingin tampil cantik seperti yang lain. Ia selalu melarangku memakai atau meminjam barang orang lain, dan bertanya apa yang aku butuhkan.
`jangan bangga karena milik orang lain, bangga lah atas apa yang kamu miliki’ selalu begitu nasihatnya setiap kali aku tampak senang karena memakai baju pinjaman temanku. Lalu ia akan memberiku uang agar aku memiliki baju yang kusukai.
Bapakku sudah udzur ketika aku masih sangat muda. Yang kuingat adalah setiap sore ia akan duduk di teras rumah dengan secangkir teh manis hangat di meja kecil di sampingnya. Dan aku akan duduk menemaninya. Matanya menerawang menembus cakrawala sembari bibirnya itu berkisah tentang perjalanannya di masa muda. Ia bertutur tentang sudut-sudut kota, toko-toko tua, penjaja makanan di terminal bahkan sahabat-sahabatnya para penjual jam tangan bekas. Ia menceritakan hal yang sama berulang-ulang, sesekali pantatku terasa panas dan ingin kabur dari sisinya. Namun ceritanya tentang orang-orang itu selalu mempesonakan dan membuatku bertahan di sampingnya.
Ia tahu betul melihat kehidupan dari sisi yang menakjubkan. Bahkan cerita tentang orang-orang di terminal itu selalu saja membuatku terpana hingga mereka menjelma dalam fikiranku sebagai seorang pahlawan, bukan rakyat biasa.
*****
Bapak,
Nikmat sekali berkisah tentangmu di pantai yang indah ini, bahkan bersama lelaki baik hati yang mendengarkanku dengan seksama.
Ketika aku bertutur tentangmu, mataku menembus cakrawala seakan kisahmu itu tertulis di langit dan aku tinggal membacanya sebait demi sebait.
Bapak,
Aku senang sekali ketika ada yang bertanya tentangmu. Berkisah tentangmu adalah berkisah tentang sebagian hidupku. Jika benar bahwa perempuan tercipat dari tulang rusuk lelaki, maka aku memilih tercipta dari sebagian tulang rusukmu.
Bapak,
Hatiku sekarang ketar-ketir, karena ia bertanya tentang kepergianmu.
Pelan-pelan kubawa nafasku pada cerita itu.
*****
Ia meninggal 9 tahun yang lalu, ya, tepatnya bulan September tahun 2002. Jangan tanya bagaimana rasanya, yang kutahu sebagian jiwaku seperti ikut mati bersamanya. Sebagian lagi berusaha mencari nafas dan menegakkan kaki di bumi agar bertahan hidup. Hidup enggan mati tak mau.
Ketika semua orang sibuk mempersiapkan pemakamannya, tamu-tamu berdatangan untuk shalat dan berbela sungkawa, aku justru mengurung diriku di dalam lemari baju bapakku. Hanya di sana aku bias menemukan sisa-sisa bau bapakku. Bau yang khas dari baju-baju usang dan lusuh milik bapakku. Air mataku seperti hujan yang tak menyentuh bumi bertahun-tahun lamanya. Mungkin air mataku saat itu terbuat dari darah, perihnya tak terkira. Untuk pertama kalinya aku meratap pada tuhan, aku ingin aku saja yang dibawa pergi tapi bukan bapakku. Aku ingin menukar nyawaku dengan nyawa bapakku. Tapi tuhan tidak mengabulkan permintaanku.
Pemakaman sempat tertunda karena semua orang menungguku. Semua orang mencariku dan tak dapat menemukanku. Keranda sudah siap diberangkatkan tapi tertahan di luar rumah. Keranda itu menunggu jenazah dinaikan, tapi jenazah itu menungguku untuk membuka dan menatap wajahnya untuk terakhir kalinya.
Adiku yang pertama kali menemukanku di dalam lemari. Ia memelukku erat. Ia tahu pasti yang kurasakan. Kali ini aku merasa dia jauh lebih tua dariku. Dia menjelma menjadi kakak atau mungkin seorang ibu bagiku. Ia menuntunku keluar dari lemari, lalu ibu dan kakak-kakak ku datang menyambutku dengan pelukan dan uraian air mata. Semua mata memandangku – sanak keluarga, tetangga, bahkan orang-orang yang tampak asing bagiku – dalam sekejap mereka mengenaliku dan aku mengenali mereka, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang ada di dalam cerita bapakku, orang-orang di terminal dan sudut-sudut kota itu. Dan sekejap mereka mengenaliku, sang anak perempuan yang selalu ada dalam cerita-cerita bapakku dalam perjumpaan mereka di terminal dan sudut-sudut kota itu.
Ibu dan adiku memapahku menuju jenazah, dan tangisku kembali meledak ketika kutatap wajahnya yang putih bersih itu. Kali ini matanya tak terbuka menembus cakrawala. Matanya terkatup rapat namun aku tahu cakrawala telah menembus jiwanya. Bibirnya tak lagi bergerak berkisah tentang perjalanan, kini bibirnya terkatup dengan senyuman yang menenangkan, aku tahu perjalanan itu telah selesai dan memberinya kesenangan yang luar biasa. Kulepas kepergiannya antara rela dan tak rela.
Aku akan merindukan kisah-kisah itu, aku akan merindukan cerita tentang sudut-sidut kota, terminal-terminal dan orang-orang sederhana.
Atau aku akan masuk ke dalam cerita itu dan meneruskan perjalanan bapakku…
*****
Bapak,
Ia memelukku erat sekali ketik air mataku mulai bercucuran.
Kukatakan padanya ia tak perlu khawatir, karena air mata ini bukan tentang kesedihan namun tentang cinta yang luar biasa. Aku membutuhkan air mata ini untuk tahu bahwa ada cinta yang luar biasa untuk ku, bahwa cinta itu nyata.
Bapak,
Senja mulai datang dan langit semakin gelap. Di utara sana, petir mulai bercahaya. Cakrawala berbisik padaku ;
‘hey, sadarkah kau bahwa kini kau meneruskan perjalanan-perjalanan itu?`
Aku pun tertawa lepas, sungguh lepas sekali. Tawa yang membuatnya terkejut hingga keningnya mengernyit. Tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya namun aku tahu ada pertanyaan dalam fikirannya.
`You know what, i`m more to my father.`kataku sambil tersenyum.
Kini aku tahu mengapa aku menikmati perjalanan-perjalanan di sudut-sudut kota yang tua, mengobrol di warung-warung kopi dan berbagi tawa di lokalisasi, berjalan di gelap malam dan tetap tertawa sekalipun tersesat dalam perjalananku.
Karena bapakku telah mengalirkan darahnya di dalam darahku. Karena bapaku telah mewariskan kesederhanaannya dalam jiwaku, dan ia telah melukiskan cakrawala di dalam hatiku. Aku tak takut, karena bapak mengajarkanku untuk tidak menjadi penakut. Aku tahu bahwa suatu saat kematianku akan datang dengan sebuah senyuman pertanda cakrawala dan perjalanan itu telah sampai di akhir yang menyenangkan.
Kini aku tahu pula mengapa aku harus melalui jalan yang gelap menuju cahaya. Tempatku bukan di mesjid atau istana. Aku menemukan cahaya itu bersama orang-orang yang terpinggirkan, diantara suara-suara yang tak terdengar, wajah-wajah yang asing dan tak dikenali. Karena aku telah dilatih bapakku untuk mengenali orang-orang sederhana yang membawa cahaya untukku. Mataku telah diajari untuk peka melihat sesuatu yang tak dilihat mata awam. Telingaku telah dilatih untuk peka mendengar lantunan ayat-ayat suci di lorong yang gelap dan berisik.
Kali ini aku sepakat jika mungkin tuhan adalah seorang lelaki, karena ia mengajarkanku tentang hidup lewat ayahku, manusia yang memiliki penis.
*****
Ssttt….
Bapak, aku ingin menceritakan rahasia ini padamu. Aku jatuh cinta pada lelaki ini.
Ah, aku bisa merasakan kamu tersenyum, cakrawala di hatiku menari-nari.
Bapak,
Langit semakin gelap dan rintik hujan memaksa kami berbenah dan berlari kecil di sepanjang pantai.
Aku menggenggam tangannya dan kami bersilat senyum satu sama lain.
Kami harus segera pulang, nanti akan kuceritakan sisa kisahmu padanya.
Selamat malam bapak,
No comments:
Post a Comment