Friday, July 02, 2010

Si PENGABDI KEMATIAN

[ bagian 1 ]
Langit malam tak lagi indah ketika bintang-bintang tertutup eawanan. Cahaya berpendar melalui celah-celah kecil eawanan membawa salam hangat bulan sabit yang hanya muncul sebagian. Dinding biru gelap langit seperti noda-noda yang menggores malam dengan kebekuan. Malam jum’at kliwon yang sempurna. Makhluk-makhluk halus bersenandung lirih meyenandungkan puji-pujian dan sesembahan bagi raja setan penguasa malam.
Bumi adalah surga bagi manusia-manusia yang lalai yang terlelap dalam fana. Ruang udara antara langit dan bumi, menjadi teman bagi segala yang berteman dengan kebusukan dan dusta. Hanya sedikit tempat bagi mereka yang percaya pada kebaikan. Yaitu di titik kecil pada kubur yang sunyi sepi.
[ bagian 2]
Lelaki tua bernama Fakir mungkin satu-satunya yang setia pada kematian. Ketika semua orang takut pada kematian maka lelaki tua renta ini menyambut setiap kematian dengan hati yang bergembira. Setiap roh yang di cabut oleh Ijroil adalah rezeki hidup yang akan menghindarkan nya dari kelaparan.
Fakir telah menjadi penjaga kubur lebih dari setengah hidupnya. 55 tahun sudah ia mengabdi pada kematian. Menggali kubur dan menjaganya adalah satu-satunya kebisaan yang di ajarkan bapaknya sedari turun temurun. Ketika anak lain bermain berkejaran layangan di tengan lapang dan berlari di pematang sawah, Fakir telah terbiasa bermain di antara jejeran nisan sembari menunggui sang ayah menggali kubur. Ketika anak-anak lain tertidur lelap sepanjang malam, Fakir tak jadi soal ketika gedoran pintu di tengah malam membangunkannya tuk segera mempersiapkan keranda.
Sejak keci dulu Fakir adalah piatu kesepian,ibu tercinta entah kemana pergi meninggalkannya. Mungkin Ia tak sanggup untuk setia pada kematian dan kemiskinan. Makam-makam telah menjadi sahabat yang tak pernah menkhianati apalagi meninggalkannya. Ketika bapaknya mati, Fakir juga lah yang menggali liang kuburnya. Hanya sedikit yang peduli pada kematian bapaknya di banding ketika mereka meminta di galikan galian kubur padanya.
Sewaktu kecil Fakir tak sempat merasakan enaknya air susu ibunya selain teh manis buatan bapaknya. Seumur hidup nya pun ia makan seadanya, kurang karbohidrat dan segala sesuatu yang berguna bagi kesehatan. Jadi wajar saja jika perawakannya kurus kering, ketika menua pun jadi penyakitan.
Satu-satunya yang menjadi sahabatnya adalah seorang gelandangan cacat yang setiap waktu ketika hujan berteduh di gubuk kecilnya di ujung pemakaman. Meski tau sama lain lama, namun hanya sedikit kata terlontar di antara keduanya. Mereka justru menjadi sahabat karena kebisuan, mereka saling mengerti dalam kebisuan yang mengikat mereka dalam makna memahami yang paling dalam.
Ketika beranjak dewasa, Fakir tak memberanikan diri untuk jatuh cinta, meskipun seorang perempuan manis penjaja jamu yang sering lewat di sekitar kubur telah menarik hati nya. Entah berapa malam yang Fakir lewatkan dengan memimpikan perempuan ayu itu. Kerinduan dan nafsu birahi kelelakiannya hampir-hampir saja tersungkur oleh aroma yang di bawa perempuan itu. Namun
Fakir menggantungkan impiannya, ia fikir hanya gadis tuli bisu dan tolol yang mau menemaninya mengabdi pada tanah-tanah yang telah menelan jasad-jasad kosong, sekaligus berteman sepi dan kemiskinan.
Fakir begitu mengabdi pada kematian hingga hasrat kelelakiannyaterkesampingkan. Baginya tubuh elok perempuan tak lebih dari seonggok mayat yang bernyawa. Perempuan-perempuan berwajah cantik dengan lesung pipi yang manis hanyalah tengkorak-tengokrak yang bertopeng kemulusan. Baginya semua yang hidup adalah mereka yang belum sempat merasakan mati.
Tahun ini Fakir genap 62 tahun. Kapan tepatnya ia lahir ia tidak tahu. Bapaknya dulu bilang padanya ia tak sempat ingat karena bapaknya terlalu sedih di rundung kecewa karena istri tersayang nya meninggalkannya demi seorang penjaja bakso yang menurutnya lebih mampu memberinya makan yang enak dan tempat tinggal yang layak

[ bagian 3]
Fakir tidak pernah menangis lagi semenjak ia mengerti bahwa tangisan hanyalah sebuah pantomim berdurasi pendek. Setiap hari ia menyaksikan janda-janda yang menangisi kematian sang suami tercinta, begitu pula anak laki perempuan menjerit hingga melunglai meratapi kepergian orang-orang yang mereka kasihi. Mereka akan tetap datang pada tiga bulan pertama, membawakan bunga, membersihkan makam, dan menghantarkan doa.
Namun setelahnya mereka tidak akan punya waktu luang lagi untuk datang menjenguk walau sebentar. Sibuk ! begitu alasan mereka. Mereka hanya akan menyelipkan beberapa uang lembar ribuan pada Fakir sembari memintanya menjagakan kuburan keluarga mereka. Mereka hanya akan kembali dalam setahun ketika lebaran tiba. Dan dalam beberapa tahun, mereka pun menghilang. Mereka hanya akan benar-benar kembali ketika jasad mereka telah membeku menjadi mayat untuk di kuburkan.
Meski begitu, Fakir tak pernah menolak kedatangan mereka, dengan penuh suka cita dan pengabdian yang mendalam fakir menggalikan kubur untuknya di tempat yang terbaik.
Ketika kematian menjadi nestapa bagi banyak orang maka bagi adalah kesenangan di mana ia bisa membeli sebungkus nasi dan lauk pauknya. Pemakaman satu jasad manusia bisa jadi buat fakir adalah sepotong roti keju yang dambaannya selama ini.

[ bagian 4 ]
Sudah seminggu ini tak ada seorang pun yang mati. Meski hujan telah turun 5 kali membawa hanyut segala penyakit dan kotoran, tetap saja tak ada seorang pun yang jatuh sakit hingga mati.
Maka berhari-hari pula fakir menahan rasa laparnya. Ia hanya mengandalkan hidup dari air yang mengucur di sumurnya. Sudah berhari-hari fakir memimpikan sepotong roti yang mampu mengenyangkannya, namu tetap saja tak ada yang mati. Mungkin ijroil tengah cuti dan berlibur sejenak.
Untuk pertama kalinya, fakir benar-benar merindukan kematian. Kelaparan dan kesepian yang mendalam bisa cukup membunuh dirinya di tengah kesunyian kubur.

[ bagian 5 ]
Di akhir sore ketika matahari mulai bersembunyi di balik kegelapan malam, fakir mulai menggali tanah dengan seluruh sisa-sisa tenaga yang di milikinya. Di tengah kebisuan kubur fakir bisa merasakan gemeretak tulangnya ketika cangkulannya menghujam ke tanah. Seluruh tubuhnya seperti ambruk ke tanah ketika cangkulannya beradu dengan bebatuan yang keras meluluhlantahkannya.
Fakir tak mneyerah, ia terus berjuang hingga galiannya cukup dalam hingga jadi galian kubur yang layak.

[ bagian 6 ]
Fakir terlunta-lunta menuju sumur, kemudian membasuh dirinya hingga jiwa raganya terbasuh dalam kesucian. Setiap tetesan air menjadi saksi betapa keriputnya lelaki tua yang hanya tinggal menuju ajalnya. Fakir kembali ke gubuknya berganti pakaiannya yang terbaik lalu bergegas kembali menuju galian kubur yag telah di siapkannya.

[ bagian 7 ]
Ke esokan paginya seluruh warga kampong ricuh karena menemukan lelaki tua penjaga kubur telah mati kaku di sebuah galian kubur dengan badan terlentang dan kedua tangan mendekap dada. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang keting pucat pasi. Secarik kertas dengan tulisan ceker ayam terselip di antara kedua tangannya.
Aku telah begitu lama mengabdi pada kematian
Hingga kematian telah menjadi hidupku
Dan kini kematian segera memanggilku
Untuk menyatu dengan kematian itu sendiri
Aku mati ketika hidup
Dan kini aku mengawali hidupku dalam kematian


Jogjakarta, September 2005

No comments:

Post a Comment