Sulit sekali untuk tidak berburuk sangka ketika keselamatan dan keamanan kita terancam. Sulit sekali untuk tetap percaya pada kebaikan ketika berulang kali hak kita dilanggar. Sulit sekali untuk percaya bahwa orang akan berubah ketika berulang kali kita diperlakukan dengan buruk. Kebenaran bagiku tampak seperti angan-angan. Itu tepatnya yang kurasakan setelah kejadian semalam.
Sekali lagi, pemuda kampung mendatangi warungku dalam keadaan mabuk, tak hanya mereka yang mabuk,bahkan pak RT pun tak karuan bau alkohol. Tanpa basa-basi pun kata pertama yang mereka sampaikan adalah : kalau mbak tak suka tinggal di sini silahkan angkat kaki. Gagah sekali mereka mengancamku,namun begitu andi muncul kegagahan mereka tiba-tiba berubah menjadi sapaan yang sopan. Ya, mereka tidak menduga jika andi juga sedang ada di warung, mereka tak sadar bahwa andi tengah tidur dari tadi di bawah meja. Sama seperti sebelumnya, tampak sekali bahwa yang mereka ingin serang adalah aku, mendatangiku ketika tidak ada andi warung, ketika aku sendiri atau sedang ada tamu.
Kali ini mereka berbicara lebih sopan meskipun dengan bau alkohol, mereka lagi-lagi mendakwaku dengan dakwaan yang berbeda-beda setiap 10 menitnya. Satu dakwaan atau pendakwa bertentangan dengan dakwaan atau pendakwa lainnya.
Kujelaskan bahwa aku masih berada di sana karena aku masih lembur mengerjakan proposal bersama zul, itu sebabnya pintu tetap terbuka agar tidak menimbulkan fitnah. Agar orang yang berada di luar bisa melihat apa yang sedang kami lakukan di dalam. Menurut mereka, jika warung dalam keadaan tutup maka keberadaanku di sana dianggap sebagai tamu dan tidak dapat melebihi jam tamu yaitu pukul 21.30 WIB. Tentu saja aku menolak, aku memang tidak lagi tinggal di ruko ini namun walau bagaimanapun juga aku lah pemiliknya. bagaimana bisa aku menjadi tamu di rumahku sendiri. Apalagi aku tidak diperkenankan melakukan pekerjaan lain di warung semisal menulis atau mengerjakan proposal karena itu adalah urusan di luar bisnis warung.
Selama ini aku bersikap diam dan tak melawan karena aku masih menghargai mereka sebagai pribumi, terutama pak RT sebagai orang yang di tuakan. Namun bukan berarti mereka bisa memperlakukan orang seburuk ini. Atas nama aturan kampung mereka mendakwaku dengan ini itu, namun aturan mana yang memperbolehkan segerombolan orang mabuk dan gagah-gagahan mengancam seorang perempuan, masuk ke dalam rumah orang lain tanpa ijin, dan dilakukan berulang kali. Berkeliaran malam hari membawa kunci inggris atau obeng dan mensabotase motor orang lain.
Jelas mereka tak bisa mendakwaku atas keberadaan andi tinggal di ruko. Akulah yang awalnya tinggal di sini, namun setelah apa yang mereka perbuat sebelumnya, aku tak lagi merasa aman tinggal di ruko sendirian. Demi rasa aman, aku akhirnya memutuskan untuk kembali kos di Baraka, dan aku meminta andi tinggal dan menjaga ruko. Aku tak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk membayar kos atau meminta andi tinggal di ruko jika saja mereka tidak mengancam keselamatan dan keamanan diriku dan warungku.
Jujur saja, dengan semua drama ini aku tak pernah mengerti apa yang mereka inginkan dariku. Apakah ini soal budaya? Apakah ini soal urusan dagang? Ataukah soal kekerasan terhadap perempuan?
Tepatnya lagi, aku tak tahu apa yang diinginkan bapak pemilik pecel lele depan warungku yang mensutradarai dan memproduseri serial drama ini.
Satu saat aku akan mengingat ini sebagai sebuah pelajaran yang berharga, sesuatu yang tidak membuatku mati hanya akan membuatku kuat. Dan mereka akan mengingat ini sebagai sebuah penyesalan atas perlakuan buruk mereka.
Sekali lagi, pemuda kampung mendatangi warungku dalam keadaan mabuk, tak hanya mereka yang mabuk,bahkan pak RT pun tak karuan bau alkohol. Tanpa basa-basi pun kata pertama yang mereka sampaikan adalah : kalau mbak tak suka tinggal di sini silahkan angkat kaki. Gagah sekali mereka mengancamku,namun begitu andi muncul kegagahan mereka tiba-tiba berubah menjadi sapaan yang sopan. Ya, mereka tidak menduga jika andi juga sedang ada di warung, mereka tak sadar bahwa andi tengah tidur dari tadi di bawah meja. Sama seperti sebelumnya, tampak sekali bahwa yang mereka ingin serang adalah aku, mendatangiku ketika tidak ada andi warung, ketika aku sendiri atau sedang ada tamu.
Kali ini mereka berbicara lebih sopan meskipun dengan bau alkohol, mereka lagi-lagi mendakwaku dengan dakwaan yang berbeda-beda setiap 10 menitnya. Satu dakwaan atau pendakwa bertentangan dengan dakwaan atau pendakwa lainnya.
Kujelaskan bahwa aku masih berada di sana karena aku masih lembur mengerjakan proposal bersama zul, itu sebabnya pintu tetap terbuka agar tidak menimbulkan fitnah. Agar orang yang berada di luar bisa melihat apa yang sedang kami lakukan di dalam. Menurut mereka, jika warung dalam keadaan tutup maka keberadaanku di sana dianggap sebagai tamu dan tidak dapat melebihi jam tamu yaitu pukul 21.30 WIB. Tentu saja aku menolak, aku memang tidak lagi tinggal di ruko ini namun walau bagaimanapun juga aku lah pemiliknya. bagaimana bisa aku menjadi tamu di rumahku sendiri. Apalagi aku tidak diperkenankan melakukan pekerjaan lain di warung semisal menulis atau mengerjakan proposal karena itu adalah urusan di luar bisnis warung.
Selama ini aku bersikap diam dan tak melawan karena aku masih menghargai mereka sebagai pribumi, terutama pak RT sebagai orang yang di tuakan. Namun bukan berarti mereka bisa memperlakukan orang seburuk ini. Atas nama aturan kampung mereka mendakwaku dengan ini itu, namun aturan mana yang memperbolehkan segerombolan orang mabuk dan gagah-gagahan mengancam seorang perempuan, masuk ke dalam rumah orang lain tanpa ijin, dan dilakukan berulang kali. Berkeliaran malam hari membawa kunci inggris atau obeng dan mensabotase motor orang lain.
Jelas mereka tak bisa mendakwaku atas keberadaan andi tinggal di ruko. Akulah yang awalnya tinggal di sini, namun setelah apa yang mereka perbuat sebelumnya, aku tak lagi merasa aman tinggal di ruko sendirian. Demi rasa aman, aku akhirnya memutuskan untuk kembali kos di Baraka, dan aku meminta andi tinggal dan menjaga ruko. Aku tak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk membayar kos atau meminta andi tinggal di ruko jika saja mereka tidak mengancam keselamatan dan keamanan diriku dan warungku.
Jujur saja, dengan semua drama ini aku tak pernah mengerti apa yang mereka inginkan dariku. Apakah ini soal budaya? Apakah ini soal urusan dagang? Ataukah soal kekerasan terhadap perempuan?
Tepatnya lagi, aku tak tahu apa yang diinginkan bapak pemilik pecel lele depan warungku yang mensutradarai dan memproduseri serial drama ini.
Satu saat aku akan mengingat ini sebagai sebuah pelajaran yang berharga, sesuatu yang tidak membuatku mati hanya akan membuatku kuat. Dan mereka akan mengingat ini sebagai sebuah penyesalan atas perlakuan buruk mereka.
No comments:
Post a Comment