Pagi ini aku menatap diriku sendiri di depan cermin, dan dengan jelas aku mendengar suara dari dalam diriku sendiri : I dont feel good about my self. Hmmm, kenapa ya? Yang jelas, aku tahu aku sedang berantakan. Sounds normal ya, aku sadar yang harus aku lakukan adalah menata ulang retakan-retakan emosi dan masalah yang ada dalam kehidupanku saat ini. Salah satu langkah awalnya adalah dengan menulis.
Kupikir hidupku sudah tidak lagi seimbang. Antara tubuhku, fikiranku, dan kehidupan sosialku tak ada sinergi yang baik. Kehidupanku saat ini terlalu lelah memikirkan bagaimana caranya mempertahankan kelangsungan warungku yang masih ngos-ngosan. Memikirkan ide-ide masakan baru ataupun cara marketingnya. Yang lain di luar itu sudah tak memiliki porsi banyak. Semua ini adalah pilihan. Tentunya apapun pilihan dan fokus kita, selalu ada hal yang harus di korbankan. Namun mengorbankan terlalu banyak hal ternyata dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hidup yang akhirnya mau tidak mau menguras energi dan fikiran untuk bisa berfikir optimal.
Aku merindukan waktu bersama teman-temanku, sejujurnya itu masalahnya. Aku juga merindukan wajahku yang memerah karena terik matahari. Aku merindukan deru ombak di tepi pantai, atau sekedar tersesat di suatu tempat yang berakhir menjadi sebuah petualangan.
Inti dari semuanya adalah uang dan tanggung jawab pada diriku sendiri. Di usiaku yang ke-27 ini beban terbesar adalah ketidaksanggupanku mencukupi kebutuhan hidupku, itu sebabnya aku memutuskan membuka usaha warung. Setidaknya aku bisa memenuhi kebutuhan inti hidupku untuk makan, mendapatkan tempat tinggal, sehat, dan yang terpenting merasa aman. Aku yakin bahwa ketika kebutuhan dasarku sudah terpenuhi maka aku akan lebih optimal bekerja membantu orang lain, dalam artian bekerja untuk samsara. Bagaimana bisa aku membantu orang lain jika aku masih gelisah karena memiliki masalah yang begitu mendasar.
Hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyerah. Kembali pada keluargaku,meneruskan usaha ibuku, punya duit. Selesai. Tapi aku terlalu keras kepala untuk tetap yakin bahwa mimpiku akan tercapai. Mimpi tentang sebuah rumah kecil di tengah sawah, dikelilingi taman yang indah. Mengukir puisi di batang pepohonan dan menguntai doa di bawah terik matahari. Sebentar lagi, sebentar lagi...selalu begitu kubilang pada diriku sendiri. Belum lagi mimpiku tentang perjalanan-perjalanan yang akan kulakukan dalam beberapa tahun ke depan.
Mungkin aku terlalu cepat berpindah dari satu episode ke episode hidup lainnya. Dari seorang perempuan polos berjilbab yang berubah menjadi seorang perempuan jala(ng) hingga menjadi diriku yang sekarang. Dari mulai berpetualang di gang gelap, terminal, stasiun, hotel berbintang, pantai yang sepi, jalanan yang panas, mencoba menjadi komedian, deru musik yang berisik, penulis hingga akhirnya memutuskan bekerja untuk samsara dan beralih profesi menjadi tukang masak.
Ada dua hal yang mungkin benar tentang diriku : tidak konsisten atau menyukai perubahan. Ya, bagi sebagian orang mungkin aku tidak konsisten dengan pilihan profesiku. Namun bagi diriku sendiri, itu hanya bagian dari perjalanan menemukan sebuah profesi yang tepat bagi diriku sendiri ( membela diri ni gw ), yang pasti aku memang menyukai perubahan dan siap menerima perubahan apapun. Kuanggap saja bahwa perubahan adalah sebuah tuntutan dan satu-satunya hal yang pasti dalam hidup. Perubahan memang seringkali menakutkan, namun ketakutan itu hanya sebatas pintu yang memisahkan kita dengan sebuah pengalaman baru yang luar biasa.
Oke, harus kuakui bahwa memang kehidupan is the closest thing to religion. Dan mungkin religion itu sendiri. I feel that i'm religious when I feel alive. When i'm in the nature, when I look into the sky, even when i'm in a very bad periode. I feel more religious when i'm in the rice field seeing the birds fly than in mosque. I feel more religious when I hug and stay near my friend in his/her sadness than reading qur'an. No matter is it wrong or not. But that's what I feel inside.
Damned, ternyata masalahku banyak ya, dari mulai mikirin warung, kerinduan pada teman-teman, uang, belum lagi kegelisahanku tentang agama. Untuk yang terakhir ini kuakui bahwa aku sedang dalam masa transisi yang penuh pergulatan untuk menemukan titik pertemuan antara konsep agama yang ada dengan apa yang kurasakan dari dalam diriku sendiri dan kehidupan.dengan dogma dan doktrin yang sudah begitu melekat dalam diriku semenjak kecil, tidak mudah melalui proses ini. Emosi dan nalarku naik turun. Diantara kata berikut ini aku tak tahu berada di posisi mana : MURTAD atau MENCARI KEBENARAN. SYRIK atau MENCARI HAKIKAT TUHAN. DOSA atau MERUNTUHKAN DOSA TURUN TEMURUN?
Well, harus kuakui I feel a lot better now. Terlepas dari apapun fikiran orang yang membaca tulisan ini. Pada akhirnya aku merasa lega menuturkan semuanya. Kini tulisan ini hanya tinggal sampah. Tapi sampah masih bisa di recycle kan? Mbuh lah, wis legowo...
Indototo88(net) - Agen Judi Bola Togel Casino Online Terpercaya di Indonesia
ReplyDeleteHanya dengan minimal Deposit 50ribu & WD 100ribu sudah dapat bergabung dengan kami
Satu ID untuk 6 Permainan
Dapatkan Juga Promo Menarik dari Kami
jangan sampai ketinggalan yah !!
Segere hub CS kami di Indototo88