Subhanallah…
Kebimbanganku mulai mendapat setitik pencerahan,
Hampir 3 minggu sejak aku mulai merasakan kegelisahan yang luarbiasa di dalam diriku. Menjelang bukuku keluar, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diriku. Menulis kisah aborsiku sama saja dengan membuka aib keluarga, aib diriku sendiri, aku mengorbankan rasa maluku dengan harapan cerita ini bisa membuka fikiran banyak perempuan yang mengalami hal yang sama, agar kejadian yang menimpaku tidak perlu dialami oleh orang lain. Beberapa tulisanku di dalam buku banyak mempertanyakan dan mengkritisi agama. krisis identitas ke-islamanku yang selama bertahun-tahun kualami saat ini mencapai titik puncaknya. Ada banyak kegelisahan yang timbul tenggelam di dalam fikiranku. Bagaimana reaksi kaum fundamentalis terhadap tulisanku? Bagaimana jika aku masuk penjara? Bagaimana jika keluargaku marah akibat tulisanku? Apakah keberanianku akhirnya akan membuat perjuanganku menjadi mati konyol? Bagaimana ini, apakah ini…semua itu terus mengganggu fikiranku. Aku kehilangan minat untuk melakukan apapun, aku tidak bisa bekerja, aku sulit bersuka cita, mataku buta dan telingaku tuli. Aku berharap stress ku tidak lebih dari 2 minggu, namun kenyataannya stress ku ini sudah menjadi depresi. Tidak hanya membuatku gelisah, stress ini sudah mulai membuatku sakit kepala, mual-mual dan kehilangan konsentrasi terhadap apapun.
Suatu saat aku memutuskan menulis PETITION TO GOD sebagai permohonanku agar ia turut campur dalam menyelesaikan kegelisahanku. Namun aku sadar bahwa aku tak bisa menunggu Tuhan datang menjawabku, aku harus bergerak mencari jawaban itu. Aku menemui beberapa orang teman, bertukar fikiran, menulis, berdiskusi, hingga akhirnya aku paham bahwa satu hal yang harus kulakukan untuk melawan kegelisahanku adalah dengan menghadap keluarga. Kuputuskan untuk pulang ke rumah ibuku.
Di sini, aku mengajak keluargaku untuk berkumpul. Ku ungkapkan kegelisahanku, ketuturkan segala kemungkinan baik dan buruk yang akan kuhadapi mengenai buku ini. Aku meminta doa dan dukungan mereka. Setiap dari kami memiliki pandangan yang berbeda, aku mungkin tak cukup baik mengolah kata-kata, apa yang kulakukan ternyata tak cukup membantu. Setelah membicarakan hal ini dengan keluargaku, aku justru merasa semakin terpuruk.
Satu hal yang kutahu pasti adalah aku membutuhkan doa dan dukungan dari ibuku. Hal itu yang membuatku masih tertahan hingga hari ini di sini. Aku menunggu hingga aku tahu pasti bahwa kepulanganku dari sini atas doa dan restu ibuku.
Tuhan mulai menjawab do’a ku. Suatu sore ibuku masuk ke dalam kamar dan kami berbicara dari hati ke hati. Dengan kerendahan hati ku sampaikan padanya bahwa perjalanan yang tengah kulalui amat tak mudah, dan satu hal yang bisa membantuku keluar dari semua ini adalah dengan doa restunya. Sore itu aku merasakan keberadaan tuhan dalam kamar kecilku itu. Doa dan restu pun diberikan. Aku bahagia.
Namun sebagian hatiku masih tetap gelisah. Pekerjaan yang tak kunjung selesai membebaniku dengan rasa bersalah, aku rasanya ingin melarikan diri namun aku tahu aku tak mungkin melakukannya.
Ada apa dengan diriku?
Siang ini aku kembali merasakan mual dan sakit kepala luar biasa, pada saat yang sama aku menyadari bahwa aku masih mengalami depresi. Ku telpon andi dan menahan tangisku. Aku butuh pertolongan, aku butuh bantuan. Nasihat untuk menemui dokter tidak bisa menyelesaikan permasalahanku. Aku tidak butuh obat, aku tidak butuh nasihat orang pandai, aku tidak butuh zat kimia untuk menyelesaikan masalahku.
Tiba-tiba, ketika aku sedang berbicara dengan andi di telpon. Aku mendengar sebuah suara di kepalaku.
“Mandi, shalat lah”
Hampir saja aku mengabaikan suara itu, namun aku tak punya pilihan yang lebih bagus saat itu. Segera ku tutup telpon, mandi lalu shalat.
“Ya allah, aku minta Engkau turun tangan dalam menyelesaikan kegelisahanku. Kuatkanlah hatiku, segarkanlah fikiranku, aku merasa bersalah atas sesuatu namun rasa bersalah ini tidak memotivasiku menjadi lebih baik, aku meminta Engkau berikan aku petunjuk.titik.”
Ketika aku keluar kamar, kulihat Ibuku sedang berada di ruang tengah membereskan buku-buku yang berantakan, satu demi satu buku di susunnya di rak.
“Bantu aku” katanya
Satu demi satu buku ku susun di dalam rak, semua buku itu adalah milik rahhma, adikku. Beberapa buku mengenai psikologi dan konseling kuambil.
“aku butuh buku ini, biar kupinjam.” Kataku
Tiba-tiba tanganku mengambil sebuah buku kecil, ketika kupegang bagian buku itu terbuka, tepat sebuah halaman dengan judul : MENEMUKAN DIRI SEJATIKU. Berikut petikannya :
Aku bertanya pada diriku sendiri sejak lama; sebenarnya aku ini siapa? Darimana aku berasal?mengapa aku berada di dunia ini?mau ke mana aku setelah kehidupan dunia ini?untuk apa aku hidup?mengapa aku dilahirkan sebagai manusia?siapa yang sebenarnya mengatur kehidupan ini?.......aku belajar filsafat, aku belajar berbagai aliran tasawuf, namun aku belum menemukan jawaban yang memuaskan diriku. Apa sebenarnya tujuan dari kehidupan ini?
Jantungku berdegup kencang ketika aku membaca kalimat ini. Mengapa aku merasa bahwa sebetulnya inilah sebenarnya isu paling penting dari kegelisahanku selama ini? Kuputuskan bahwa aku akan membaca buku ini, saat itu juga.
Hanya butuh beberapa menit hingga aku menyelesaikan bagian tersebut, dan tiba-tiba aku seolah sedang membaca diriku sendiri. Inilah sebenarnya akar kegelisahan yang kualami selama ini, inilah sebenarnya yang membuatku gelisah dan merasakan ketakutan di dalam diriku.
Banyak orang yang memuji apa yang kulakukan dengan SAMSARA, memuji keberanianku untuk menulis kisahku, tak sedikit perempuan yang menganggapku kuat, tak sedikit lelaki yang melihatku sebagai wonder woman. Namun semua pujian ini tak sedikit pun membuatku bahagia.
Semakin banyak orang melihatku kuat, di dalam diriku aku semakin merasa bahwa sebenarnya aku rapuh. Aku tidak merasa berhak atas kekuatan dan keberanian ini, karena aku tahu betul siapa diriku, dan kekuatan dan keberanian ini bukan datang dari diriku. Lalu datang dari mana? Siapa yang dengan ajaibnya telah mengubah kehidupanku dari titik nol hingga bisa beranjak perlahan di titik ini. Siapa yang telah mengubah kematianku menjadi hidup yang lebih berwarna? Siapa yang telah memudahkan jalanku agar lebih menikmati kebersahajaan hidup ini? Siapa?
TUHAN ! ia yang telah membukakan jalan ini untukku, ia yang telah memberiku kekuatan dan keberanian. Ia yang telah mengurus dan menjagaku. Sekaligus ia pulalah yang selama ini menjadi lawanku.
Aku merasa tuhan dekat denganku dan pada saat yang bersamaan aku juga menentang tuhan atas apa yang ia lakukan dengan membiarkan orang-orang bertindak semena-mena atas nama-Nya.
Ia adalah sahabat sekaligus lawanku.
Hari ini ia datang menjelma sahabat dan membimbingku menemukan lembaran ini, menemukan kalimat yang luar biasa mengubah pandanganku.
Ada dua sabda Rasulallah SAW dalam buku ini yang secara ajaib mengobati ketakutanku :
• MAN LAM YADZUQ LAM YA’RIF yang artinya YANG TIDAK MENGALAMI TAK AKAN MEMAHAMI
Maksudku menulis buku adalah agar orang-orang memahami apa yang dirasakan oleh para perempuan post-abortus, memahami situasi yang terjadi. Keinginanku ini sangat realistis, namun harapanku agar semua orang memahami sebagaimana mestinya, sangatlah tidak realistis. Aku menyadari kini, bahwa tidak semua orang bisa menerima semua itu, tidak semua orang akan sepaham dan mendukungku. Karena mereka yang tidak mengalami tak akan memahami tepat sama seperti orang yang benar-benar mengalami hal itu. Aku tak perlu lagi takut akan komentar dan kritik dari mereka yang bersebrangan denganku.
• “BELUM TEGAK AGAMANYA BAGI SESEORANG SEBELUM IA MEMERDEKAKAN AQALNYA SECARA SEMPURNA”
Aku selalu merasa pemikiranku yang rasional adalah sesuatu yang salah dalam beragama. Hal ini diyakinkan oleh pendapat dan sikap banyak orang di keluargaku yang memandang bahwa usaha ku mencari kebenaran dengan akal adalah sebuah tindakan tidak loyal terhadap agama. Begitu sulit aku menyakinkan bahwa aku menggunakan akalku dalam usaha pencarian keyakinanku. Begitu sulit aku meyakinkan bahwa keraguan yang ada dalam diriku adalah sebuah awal mencapai sebuah keyakinan. Aku tidak bisa menerima sebuah kebenaran tanpa menggunakan nalarku. Namun tidak banyak yang sependapat denganku, akhirnya aku mulai merasa bahwa mereka benar dan aku salah. Namun kali ini aku tak lagi menyalahkan diriku, sabda rasul membuat hatiku tenang, bahwa proses nalarku adalah hal yang lumrah dalam usahaku mencari keyakinanku.
Terimakasih untuk sang penulis buku ini, SYAIFUL KARIM, yang telah membagi kisah perjalanan spiritualnya. Tuhan telah turun tangan dalam membantuku mengatasi kegelisahan ini, dan itu melalui tulisan anda. Semoga hal ini memberi berkah bagi anda dan semua orang yang membutuhkannya.
Ternyata, krisis identitas ke islaman-ku hanyalah sebuah pintu menuju sebuah perjalanan spiritual yang akan panjang. Semoga aku kuat melaluinya. Ternyata, stress dan depresiku hanyalah sebuah alarm agar aku memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalam diriku. Terimakasih tuhan.
Kebimbanganku mulai mendapat setitik pencerahan,
Hampir 3 minggu sejak aku mulai merasakan kegelisahan yang luarbiasa di dalam diriku. Menjelang bukuku keluar, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diriku. Menulis kisah aborsiku sama saja dengan membuka aib keluarga, aib diriku sendiri, aku mengorbankan rasa maluku dengan harapan cerita ini bisa membuka fikiran banyak perempuan yang mengalami hal yang sama, agar kejadian yang menimpaku tidak perlu dialami oleh orang lain. Beberapa tulisanku di dalam buku banyak mempertanyakan dan mengkritisi agama. krisis identitas ke-islamanku yang selama bertahun-tahun kualami saat ini mencapai titik puncaknya. Ada banyak kegelisahan yang timbul tenggelam di dalam fikiranku. Bagaimana reaksi kaum fundamentalis terhadap tulisanku? Bagaimana jika aku masuk penjara? Bagaimana jika keluargaku marah akibat tulisanku? Apakah keberanianku akhirnya akan membuat perjuanganku menjadi mati konyol? Bagaimana ini, apakah ini…semua itu terus mengganggu fikiranku. Aku kehilangan minat untuk melakukan apapun, aku tidak bisa bekerja, aku sulit bersuka cita, mataku buta dan telingaku tuli. Aku berharap stress ku tidak lebih dari 2 minggu, namun kenyataannya stress ku ini sudah menjadi depresi. Tidak hanya membuatku gelisah, stress ini sudah mulai membuatku sakit kepala, mual-mual dan kehilangan konsentrasi terhadap apapun.
Suatu saat aku memutuskan menulis PETITION TO GOD sebagai permohonanku agar ia turut campur dalam menyelesaikan kegelisahanku. Namun aku sadar bahwa aku tak bisa menunggu Tuhan datang menjawabku, aku harus bergerak mencari jawaban itu. Aku menemui beberapa orang teman, bertukar fikiran, menulis, berdiskusi, hingga akhirnya aku paham bahwa satu hal yang harus kulakukan untuk melawan kegelisahanku adalah dengan menghadap keluarga. Kuputuskan untuk pulang ke rumah ibuku.
Di sini, aku mengajak keluargaku untuk berkumpul. Ku ungkapkan kegelisahanku, ketuturkan segala kemungkinan baik dan buruk yang akan kuhadapi mengenai buku ini. Aku meminta doa dan dukungan mereka. Setiap dari kami memiliki pandangan yang berbeda, aku mungkin tak cukup baik mengolah kata-kata, apa yang kulakukan ternyata tak cukup membantu. Setelah membicarakan hal ini dengan keluargaku, aku justru merasa semakin terpuruk.
Satu hal yang kutahu pasti adalah aku membutuhkan doa dan dukungan dari ibuku. Hal itu yang membuatku masih tertahan hingga hari ini di sini. Aku menunggu hingga aku tahu pasti bahwa kepulanganku dari sini atas doa dan restu ibuku.
Tuhan mulai menjawab do’a ku. Suatu sore ibuku masuk ke dalam kamar dan kami berbicara dari hati ke hati. Dengan kerendahan hati ku sampaikan padanya bahwa perjalanan yang tengah kulalui amat tak mudah, dan satu hal yang bisa membantuku keluar dari semua ini adalah dengan doa restunya. Sore itu aku merasakan keberadaan tuhan dalam kamar kecilku itu. Doa dan restu pun diberikan. Aku bahagia.
Namun sebagian hatiku masih tetap gelisah. Pekerjaan yang tak kunjung selesai membebaniku dengan rasa bersalah, aku rasanya ingin melarikan diri namun aku tahu aku tak mungkin melakukannya.
Ada apa dengan diriku?
Siang ini aku kembali merasakan mual dan sakit kepala luar biasa, pada saat yang sama aku menyadari bahwa aku masih mengalami depresi. Ku telpon andi dan menahan tangisku. Aku butuh pertolongan, aku butuh bantuan. Nasihat untuk menemui dokter tidak bisa menyelesaikan permasalahanku. Aku tidak butuh obat, aku tidak butuh nasihat orang pandai, aku tidak butuh zat kimia untuk menyelesaikan masalahku.
Tiba-tiba, ketika aku sedang berbicara dengan andi di telpon. Aku mendengar sebuah suara di kepalaku.
“Mandi, shalat lah”
Hampir saja aku mengabaikan suara itu, namun aku tak punya pilihan yang lebih bagus saat itu. Segera ku tutup telpon, mandi lalu shalat.
“Ya allah, aku minta Engkau turun tangan dalam menyelesaikan kegelisahanku. Kuatkanlah hatiku, segarkanlah fikiranku, aku merasa bersalah atas sesuatu namun rasa bersalah ini tidak memotivasiku menjadi lebih baik, aku meminta Engkau berikan aku petunjuk.titik.”
Ketika aku keluar kamar, kulihat Ibuku sedang berada di ruang tengah membereskan buku-buku yang berantakan, satu demi satu buku di susunnya di rak.
“Bantu aku” katanya
Satu demi satu buku ku susun di dalam rak, semua buku itu adalah milik rahhma, adikku. Beberapa buku mengenai psikologi dan konseling kuambil.
“aku butuh buku ini, biar kupinjam.” Kataku
Tiba-tiba tanganku mengambil sebuah buku kecil, ketika kupegang bagian buku itu terbuka, tepat sebuah halaman dengan judul : MENEMUKAN DIRI SEJATIKU. Berikut petikannya :
Aku bertanya pada diriku sendiri sejak lama; sebenarnya aku ini siapa? Darimana aku berasal?mengapa aku berada di dunia ini?mau ke mana aku setelah kehidupan dunia ini?untuk apa aku hidup?mengapa aku dilahirkan sebagai manusia?siapa yang sebenarnya mengatur kehidupan ini?.......aku belajar filsafat, aku belajar berbagai aliran tasawuf, namun aku belum menemukan jawaban yang memuaskan diriku. Apa sebenarnya tujuan dari kehidupan ini?
Jantungku berdegup kencang ketika aku membaca kalimat ini. Mengapa aku merasa bahwa sebetulnya inilah sebenarnya isu paling penting dari kegelisahanku selama ini? Kuputuskan bahwa aku akan membaca buku ini, saat itu juga.
Hanya butuh beberapa menit hingga aku menyelesaikan bagian tersebut, dan tiba-tiba aku seolah sedang membaca diriku sendiri. Inilah sebenarnya akar kegelisahan yang kualami selama ini, inilah sebenarnya yang membuatku gelisah dan merasakan ketakutan di dalam diriku.
Banyak orang yang memuji apa yang kulakukan dengan SAMSARA, memuji keberanianku untuk menulis kisahku, tak sedikit perempuan yang menganggapku kuat, tak sedikit lelaki yang melihatku sebagai wonder woman. Namun semua pujian ini tak sedikit pun membuatku bahagia.
Semakin banyak orang melihatku kuat, di dalam diriku aku semakin merasa bahwa sebenarnya aku rapuh. Aku tidak merasa berhak atas kekuatan dan keberanian ini, karena aku tahu betul siapa diriku, dan kekuatan dan keberanian ini bukan datang dari diriku. Lalu datang dari mana? Siapa yang dengan ajaibnya telah mengubah kehidupanku dari titik nol hingga bisa beranjak perlahan di titik ini. Siapa yang telah mengubah kematianku menjadi hidup yang lebih berwarna? Siapa yang telah memudahkan jalanku agar lebih menikmati kebersahajaan hidup ini? Siapa?
TUHAN ! ia yang telah membukakan jalan ini untukku, ia yang telah memberiku kekuatan dan keberanian. Ia yang telah mengurus dan menjagaku. Sekaligus ia pulalah yang selama ini menjadi lawanku.
Aku merasa tuhan dekat denganku dan pada saat yang bersamaan aku juga menentang tuhan atas apa yang ia lakukan dengan membiarkan orang-orang bertindak semena-mena atas nama-Nya.
Ia adalah sahabat sekaligus lawanku.
Hari ini ia datang menjelma sahabat dan membimbingku menemukan lembaran ini, menemukan kalimat yang luar biasa mengubah pandanganku.
Ada dua sabda Rasulallah SAW dalam buku ini yang secara ajaib mengobati ketakutanku :
• MAN LAM YADZUQ LAM YA’RIF yang artinya YANG TIDAK MENGALAMI TAK AKAN MEMAHAMI
Maksudku menulis buku adalah agar orang-orang memahami apa yang dirasakan oleh para perempuan post-abortus, memahami situasi yang terjadi. Keinginanku ini sangat realistis, namun harapanku agar semua orang memahami sebagaimana mestinya, sangatlah tidak realistis. Aku menyadari kini, bahwa tidak semua orang bisa menerima semua itu, tidak semua orang akan sepaham dan mendukungku. Karena mereka yang tidak mengalami tak akan memahami tepat sama seperti orang yang benar-benar mengalami hal itu. Aku tak perlu lagi takut akan komentar dan kritik dari mereka yang bersebrangan denganku.
• “BELUM TEGAK AGAMANYA BAGI SESEORANG SEBELUM IA MEMERDEKAKAN AQALNYA SECARA SEMPURNA”
Aku selalu merasa pemikiranku yang rasional adalah sesuatu yang salah dalam beragama. Hal ini diyakinkan oleh pendapat dan sikap banyak orang di keluargaku yang memandang bahwa usaha ku mencari kebenaran dengan akal adalah sebuah tindakan tidak loyal terhadap agama. Begitu sulit aku menyakinkan bahwa aku menggunakan akalku dalam usaha pencarian keyakinanku. Begitu sulit aku meyakinkan bahwa keraguan yang ada dalam diriku adalah sebuah awal mencapai sebuah keyakinan. Aku tidak bisa menerima sebuah kebenaran tanpa menggunakan nalarku. Namun tidak banyak yang sependapat denganku, akhirnya aku mulai merasa bahwa mereka benar dan aku salah. Namun kali ini aku tak lagi menyalahkan diriku, sabda rasul membuat hatiku tenang, bahwa proses nalarku adalah hal yang lumrah dalam usahaku mencari keyakinanku.
Terimakasih untuk sang penulis buku ini, SYAIFUL KARIM, yang telah membagi kisah perjalanan spiritualnya. Tuhan telah turun tangan dalam membantuku mengatasi kegelisahan ini, dan itu melalui tulisan anda. Semoga hal ini memberi berkah bagi anda dan semua orang yang membutuhkannya.
Ternyata, krisis identitas ke islaman-ku hanyalah sebuah pintu menuju sebuah perjalanan spiritual yang akan panjang. Semoga aku kuat melaluinya. Ternyata, stress dan depresiku hanyalah sebuah alarm agar aku memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalam diriku. Terimakasih tuhan.
:)
ReplyDeleteMbak Inna,
Dia memang luar biasa, ya...
Tujuan, tapi juga teman seperjalanan.
Kita lelah mencari, padahal sudah ada disisi sejak semula.
May you'll find the true happiness, joy, peace and safety.
Warmest,