Tuesday, November 18, 2008

LGBT dan Tubuh Perempuan


Selamat pagi dunia,
Matahari tidak muncul pagi ini, awan yang kelabu menyembunyikan hangatnya sinar mentari yang kurindukan, syukurlah kepakan burung-burung kecil yang bermain di depan jendela kamarku menggelitik senyumku pagi ini.

Hari ini adalah hari ke-7 training, lebih dari seminggu aku tak punya cukup waktu untuk merenung dan menulis apa yang selama ini kudapat selama proses training, yang jelas kepalaku terlalu berat dan lelah.

Bagaimana tidak, konstruksi pemikiranku selama berpuluh-puluh tahun yang telah di wariskan turun temurun kini dibongkar sedemikian rupa, hanya dalam waktu seminggu!

Akan kucoba sedikit menuturkan pengalamanku….

Dalam proses training ini aku dan teman-teman belajar banyak hal tentang seks, seksualitas dan kesehatan reproduksi. LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual menjadi bahasan utama. Selama ini kita terkonstruksi bahwa hanya ada perempuan dan lelaki. Sama halnya seperti siang dan malam, sebuah pikiran yang biner. Kita lupa bahwa diantara siang dan malam, ada pagi hari dan petang hari. Bahwa selain ada perempuan dan laki-laki, ada LGBT juga. Pemikiran tentang lelaki dan perempuan sudah dikonstruksi sedemikian rupa selama berabad-abada di mana yang menjadi otaknya adalah sistem patriarki dan kekuasaan. Itu yang menyebabkan ketimpangan power relasi dalam masyarakat kita.

Sama halnya seperti perempuan, sejarah,budaya dan agama sedemikian rupa memasung hak-hak dan kebebasan perempuan. Kitab-kitab suci bahkan peradaban telah mendiskriminasikan peran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Perempuan selalu menjadi pelengkap bagi laki-laki, menjadi kaum yang lemah, kaum yang dibatasi geraknya. Ada sebuah kalimat guyonan teman-teman tentang perempuan;

“ perempuan ; oleh, dari dan untuk lelaki”

Tubuh perempuan adalah simbol kekuasaan. Ketika tubuh perempuan dikontrol maka kekuasaan berada di tangan kaum patriarki. Dalam berbagai budaya, tubuh perempuan selalu diidentikan sebagai lambang kesucian, godaan, kelemahan, sekaligus kekuatan yang bisa melumpuhkan kekuatan lawan. Itu sebabnya tubuh perempuan selalu menjadi objek yang harus di kontrol.

Bagiku pribadi, kepentingan untuk mengontrol tubuh perempuan merupakan bukti betapa kaum patriarki merasa terancam oleh kekuatan perempuan.

Kini saatnya aku bertanya pada diriku sendiri; siapkah aku menjadi agen perubahan?
Siapkah kalian?

1 comment:

  1. and what about the heart?
    I own my body. it's all my own and i realize it very well. but what about them who feel they own mine? it's lovely but rather annoying if they step further. can't stand that.

    ReplyDelete